Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyebutkan jumlah nasabah segmen high net worth saat ini berada di kisaran 20.000-26.000 nasabah. Sementara itu, layanan wealth management BCA kini tidak hanya menyasar nasabah kelas atas, tetapi juga terbuka bagi segmen mass market.
Executive Vice President Wealth Management BCA Indrawan B. mengatakan, BCA membagi nasabah ke dalam empat segmen, yakni high net worth, affluent, upper mass, dan mass.
Untuk segmen affluent, jumlah nasabah BCA berada di kisaran 300.000-400.000 nasabah. Kemudian, segmen upper mass mencapai sekitar 2 juta-3 juta nasabah, sementara sisanya masuk dalam segmen mass.
Baca Juga: Dana Kelolaan Wealth Management BCA Tembus Rp 339 Triliun, Tumbuh 16% Per Juni 2026
"Kalau kita bicara jumlah nasabah itu kita punya empat segmen, yaitu high net worth, affluent, upper mass, dan mass. High net worth sendiri itu kita kira-kira sekitar 20 ribuan-26 ribu nasabah, kalau kita bicara affluent itu kira-kira mungkin sekitar 300.000-400.000," ujar Indrawan dalam konferensi pers BCA Wealth Summit 2026 di Jakarta, Rabu (9/9).
Meski demikian, Indrawan menegaskan seluruh segmen tersebut memiliki potensi untuk menjadi nasabah wealth management BCA. Pasalnya, perseroan menyediakan produk investasi yang dapat diakses dengan nominal relatif terjangkau.
"Kalau kita bicara wealth management sebenarnya semua itu adalah potensi, karena kita juga punya produk-produk wealth management yang bisa dibeli dengan hanya Rp10.000," katanya.
Dengan demikian, layanan wealth management BCA tidak eksklusif bagi nasabah di segmen atas. Nasabah mass market juga dapat mengakses berbagai produk wealth management yang disediakan perseroan. BCA sendiri menawarkan berbagai produk investasi dan proteksi, termasuk reksa dana, obligasi dan emas.
"Untuk wealth management ini kita tidak eksklusif hanya untuk yang di upper segmen, tapi semua segmen kita punya lini produknya," jelas Indrawan.
Perluasan basis nasabah tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan bisnis wealth management BCA. Direktur BCA Haryanto T. Budiman mengatakan, aset under management (AUM) BCA telah mencapai Rp339 triliun per Juni 2026, tumbuh 16% dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan AUM BCA pada 2022 yang masih sebesar Rp139 triliun.
"Kalau kita lihat aset under management kita di tahun 2022 itu Rp139 triliun. Pada Juni 2026, aset under management kita mencapai Rp339 triliun, dibandingkan dengan tahun lalu ada peningkatan 16 persen," ujar Haryanto.
Menurut Haryanto, pertumbuhan AUM tersebut sejalan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), CASA, maupun investasi BCA. Kondisi ini menunjukkan semakin tingginya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya investasi.
Di tengah ketidakpastian global, kebutuhan nasabah terhadap informasi investasi yang aktual juga semakin meningkat. Gejolak geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan bank sentral di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang dan Indonesia, turut menciptakan volatilitas di pasar.
"Ini penting bagi nasabah untuk mendapatkan informasi yang up-to-date mengenai apa yang terjadi di sana. Itu sebabnya kita mengundang pakar-pakar untuk memberikan pemahaman mengenai investasi apa yang bisa dilakukan pada saat ini," jelas Haryanto.
BCA juga terus menyediakan platform bagi nasabah untuk mengakses berbagai instrumen investasi, termasuk reksa dana dan government bond.
Terkait target jumlah nasabah maupun AUM hingga akhir 2026, Indrawan mengatakan BCA tidak menetapkan target khusus dalam pengembangan bisnis wealth management.
Menurut dia, perseroan lebih fokus memberikan layanan terbaik dan memperkuat kepercayaan nasabah. Pertumbuhan dana maupun pembelian produk investasi diharapkan mengikuti seiring dengan meningkatnya kepercayaan tersebut.
"Saya sangat beruntung karena tidak di-target ya. Kita flowing saja. Jadi dengan kita lakukan kegiatan, kita berikan yang terbaik buat nasabah, pokoknya nasabah terasa ke kita juga makin kuat dan otomatis kalau trust sudah tumbuh ya mereka akan taruh dana membeli produk di kita," tutur Indrawan.
Sementara itu, BCA juga mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi sejak usia muda. Dengan akses investasi yang dapat dimulai dari nominal rendah, perseroan melihat peluang pertumbuhan jumlah investor masih terbuka di berbagai lapisan masyarakat.
Haryanto sebelumnya mengatakan seluruh segmen nasabah BCA telah melakukan investasi. Dari sisi jumlah investor, segmen mass market menjadi yang terbesar, sementara dari sisi nilai investasi masih didominasi segmen nasabah dengan kemampuan investasi lebih besar.
Menurut dia, kemudahan akses menjadi salah satu faktor yang mendorong jumlah investor BCA terus meningkat.
"Investasi ini harus dimulai sejak usia muda, supaya menjadi satu kebiasaan yang baik," kata Haryanto.
Baca Juga: OJK: Prospek Asuransi Jiwa Syariah Tetap Positif ke Depan,Ini Faktor Pendukungnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














