kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.759.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 18.077   77,00   0,43%
  • IDX 5.840   -101,28   -1,70%
  • KOMPAS100 772   -13,86   -1,76%
  • LQ45 581   -8,07   -1,37%
  • ISSI 203   -2,64   -1,28%
  • IDX30 329   -5,24   -1,57%
  • IDXHIDIV20 407   -5,51   -1,34%
  • IDX80 87   -1,44   -1,63%
  • IDXV30 111   -2,14   -1,88%
  • IDXQ30 106   -1,74   -1,61%

Geopolitik hingga Inflasi Perumit Risiko Bisnis, Industri Harus Bisa Lebih Adaptif.


Kamis, 04 Juni 2026 / 21:22 WIB
Geopolitik hingga Inflasi Perumit Risiko Bisnis, Industri Harus Bisa Lebih Adaptif.
ILUSTRASI. IHSG Terpengaruh Perkembangan Geopolitik Timur Tengah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, tekanan inflasi, disrupsi energi, dan gangguan rantai pasok mendorong dunia usaha memperkuat strategi mitigasi risiko. Kondisi tersebut menciptakan tantangan yang semakin kompleks bagi berbagai sektor industri, termasuk perasuransian.

Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah mengatakan, industri saat ini tidak hanya membutuhkan ketahanan finansial, tetapi juga kemampuan adaptasi yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan lanskap risiko.

“Inflasi berdampak pada peningkatan biaya klaim dan operasional, disrupsi energi memengaruhi keberlangsungan aktivitas bisnis. Sementara gangguan supply chain menghambat distribusi dan menurunkan kualitas layanan.  "Maka, endekatan pengelolaan risiko konvensional sudah tidak lagi memadai,” ujar Beatrix dalam keterangannya, Rabu (3/6).

Managing Director Chief Economist BPI Danantara, Reza Yamora Siregar menambahkan, ketidakpastian global saat ini telah mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir dengan geopolitik menjadi sumber utama tekanan ekonomi dunia.

Baca Juga: AAJI: Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa Naik 6,5% Jadi Rp 6,45 Triliun

“Kita memasuki fase di mana geopolitik menjadi sumber utama ketidakpastian ekonomi dunia. Konflik Rusia-Ukraina, eskalasi di Timur Tengah, hingga ketegangan perdagangan global telah menciptakan tekanan besar terhadap pasar keuangan, harga energi, dan stabilitas ekonomi global,” ujarnya.

Sementara itu, Pakar Manajemen Risiko dan Transformasi Berkelanjutan, Sakri Widyo Saroyo menilai, berbagai risiko saat ini semakin saling terhubung, mulai dari geopolitik, inflasi, rantai pasok, teknologi hingga perubahan regulasi.

“Risiko saat ini tidak lagi berdiri sendiri. Geopolitik, inflasi, supply chain, teknologi, hingga perubahan regulasi saling terhubung dan membentuk landskap risiko yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya,” kata Sakri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×