Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian global dan tantangan ekonomi dalam negeri berdampak pada pergerakan pasar investasi, termasuk harga Surat Berharga Negara (SBN) yang semakin murah akibat kenaikan yield. PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) turut merasakan dampak tersebut.
Direktur Ciputra Life Henry Then, mengungkapkan bahwa kondisi ini memang mempengaruhi portofolio investasi perusahaan, tetapi tidak berdampak langsung pada kinerja hasil investasi.
“Menurunnya nilai pasar obligasi tersebut bersifat temporary hingga adanya tindakan jual dari perusahaan. Untuk itu, fluktuasi harga jangka pendek tersebut tidak akan berdampak langsung pada kinerja hasil investasi kami,” ungkap Henry kepada Kontan, Jumat (28/3).
Henry mengatakan, per 28 Februari 2025, Ciputra Life memiliki portofolio investasi dengan bobot 54% di instrumen SBN, menunjukkan posisi overweight di aset ini. Henry menjelaskan bahwa dengan harga SBN yang semakin murah, perusahaan akan melakukan evaluasi portofolio atau rebalancing untuk mengoptimalkan potensi imbal hasil.
“Kenaikan yield saat ini didorong oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya capital outflow. Kami melihat tekanan ini bersifat sementara, sehingga justru menjadi peluang bagi kami untuk membeli obligasi baru dengan yield yang lebih tinggi,” kata Henry.
Baca Juga: Harga SBN Turun, Asuransi Jiwa Harus Perkuat Mitigasi Risiko
Ia menambahkan bahwa intervensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah diharapkan dapat menarik kembali aliran modal asing ke Indonesia. Jika hal ini terjadi, harga obligasi berpotensi menguat, memberikan dampak positif bagi portofolio investasi.
Mengenai prospek instrumen SBN ke depan, Henry menilai bahwa potensi imbal hasil tetap menarik, tetapi terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan, seperti suku bunga, inflasi, dan stabilitas fiskal.
“Dengan harga obligasi yang murah dan yield yang tinggi, hal ini sangat menguntungkan bagi investor dengan strategi hold to maturity. Namun, volatilitas harga obligasi yang tinggi akan menjadi tantangan apabila obligasi tersebut diukur dengan nilai pasar (mark-to-market),” jelasnya.
Selanjutnya: Garam Industri Langka, Ini Kata Kementerian Perindustrian
Menarik Dibaca: THR Saldo Dana Cair Saatnya Beli Poco X7! Beli Sekarang Mumpung Harga Lagi Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News