kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.898   22,00   0,12%
  • IDX 6.332   63,72   1,02%
  • KOMPAS100 829   6,46   0,79%
  • LQ45 629   3,30   0,53%
  • ISSI 219   2,59   1,19%
  • IDX30 352   0,84   0,24%
  • IDXHIDIV20 428   -0,68   -0,16%
  • IDX80 95   0,72   0,77%
  • IDXV30 118   0,27   0,23%
  • IDXQ30 112   0,05   0,04%

Hasil SNLIK 2026, Tingkat Literasi & Inklusi Keuangan Lampaui Target RPJMN 2025-2029


Rabu, 12 Agustus 2026 / 12:47 WIB
Hasil SNLIK 2026, Tingkat Literasi & Inklusi Keuangan Lampaui Target RPJMN 2025-2029
ILUSTRASI. Mantri BRI- literasi keuangan bagi nelayan serta masyarakat di wilayah terpencil (DOK/BRI)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi keuangan mencapai 69,57%, atau meningkat dari SNLIK 2025 yang sebesar 66,54%. Adapun indeks tingkat inklusi keuangan mencapai 93,61% pada SNLIK 2026, meningkat dari SNLIK 2025 yang sebesar 92,74%.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menerangkan hasil SNLIK 2026 sudah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Dia mengatakan, berdasarkan target RPJMN 2025-2029, tingkat literasi keuangan dipatok sebesar 69,35%, sedangkan tingkat inklusi keuangan ditargetkan 93%.

"Jadi, dua-duanya sudah melampaui dari target RPJMN 2025-2029," ungkapnya dalam konferensi pers di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: Peningkatan Penjualan Kendaraan Listrik Berdampak Positif bagi Zurich Asuransi

Friderica menyebut, capaian itu tak terlepas dari metodologi yang makin kuat dan cakupan surveinya yang makin luas. Dia menerangkan SNLIK 2026 menghadirkan tiga nilai tambah strategis, yakni pertama kalinya implementasi literasi dan inklusi keuangan dipetakan hingga ke level provinsi. 

"Hal itu tentunya sangat baik, memberikan gambar yang lebih tajam mengenai kondisi antarwilayah. Nanti ke depannya, kami juga bisa bekerja sama bahwa survei bisa sampai ke level kabupaten/kota seluruh Indonesia," ucapnya.

Friderica menerangkan, nilai tambah kedua adalah cakupan survei yang makin luas menghasilkan data yang makin komprehensif, representatif, dan andal dalam mencerminkan kondisi masyarakat. Dia bilang nilai tambah ketiga adalah dapat menjadi baseline baru yang lebih kuat untuk memantau kemajuan literasi dan inklusi keuangan, sekaligus menjadi landasan sebagai perumusan kebijakan yang makin tepat sasaran.

Berdasarkan usia, Friderica menerangkan kelompok usia produktif atau 18-50 tahun memiliki angka literasi dan inklusi keuangan di atas rata-rata nasional.

Secara rinci, literasi dan inklusi usia 18-25 tahun sebesar 73,32% dan 95,69%, kemudian usia 26-35 tahun sebesar 78,70% dan 96,27%, lalu usia 36-50 tahun sebesar 73,81% dan 94,76%. 

"Sebaliknya, indeks literasi dan inklusi keuangan usia 15-17 tahun dan 51-79 tahun masih rendah daripada rata-rata nasional. Masing-masing sebesar 56,04% dan 89,13% untuk 15-17 tahun, sedangkan 60,01% dan 90,51% untuk usia 51-79 tahun," kata Friderica.

Baca Juga: Penutupan SPPG Berisiko Tingkatkan Kredit Bermasalah Bank

Lebih lanjut, Friderica mengatakan hasil SNLIK 2026 menjadi patokan OJK ke depannya untuk menggodok program literasi dan inklusi untuk kedua kelompok usia yang masing di bawah rata-rata nasional. Dia bilang bagi generasi muda, intervensi perlu dilakukan sebelum mereka menjadi pengguna aktif produk keuangan. 

"Untuk kelompok usia lanjut, pendekatannya bisa lebih sederhana, aman, dan relevan, dengan kebutuhan mereka. Sebab, berbagai macam scam banyak menyasar usia senior, sehingga perlu dibekali literasi dan edukasi tentang keuangan," tuturnya.

Sebagai informasi, tujuan dari SNLIK 2026 adalah mengukur tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia sebagai bahan evaluasi terhadap efektivitas program literasi dan inklusi keuangan yang telah dilakukan, serta bahan perencanaan program kegiatan literasi dan inklusi pada tahun berikutnya. Selain itu, mengukur pengetahuan, pemahaman, dan kepercayaan terhadap penjaminan simpanan. 

Mengenai metodologi sampling, yakni sampel SNLIK 2026 tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Adapun jumlah Satuan Lingkungan Setempat atau SLS per kota sebanyak 9 sampai 39 SLS, yang mana masing-masing SLS tersebut mencakup 10 rumah tangga.

Selanjutnya, target responden adalah individu terpilih berusia 15 tahun sampai 79 tahun. Waktu pendataan lapangannya sejak 26 Januari 2026 hingga 18 Februari 2026. Adapun jumlah sampel mencapai 7.500 SLS, dengan total rumah tangga sebanyak 75.000. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×