Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Sebagian masyarakat beranggapan hoaks hanyalah persoalan sepele. Setelah berita bohong diluruskan, masalah dianggap selesai. Di balik itu, hoaks menimbulkan dampak berkepanjangan, di antaranya mengakibatkan kerugian finansial bagi individu dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap integritas sistem keuangan.
Berbagai modus penipuan digital sering memanfaatkan hoaks untuk menjerat korban, mulai dari investasi bodong, undian palsu, hingga phishing. Pelaku menjalankan social engineering, menipu dengan berita palsu, pesan berantai, serta informasi yang belum terverifikasi sehingga korban terpancing sisi emosionalnya dan memberikan data pribadi. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengakses akun atau gawai milik korban.
Indonesia Anti Scam Center (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kerugian akibat penipuan digital mencapai Rp9,1 triliun dengan lebih dari 411 ribu laporan sepanjang November 2024 hingga Desember 2025.
Kerugian yang diakibatkan hoaks bukan sekadar hilangnya uang, melainkan juga dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan. Hoaks dan penipuan digital membuat publik ragu terhadap keamanan transaksi, bahkan terhadap lembaga resmi. Terlebih, seiring dengan kemajuan teknologi, modus penipuan digital terus berkembang melewati batas negara dan sektor.
“Penipuan dapat melintasi batas negara dalam hitungan detik, memanfaatkan teknologi dalam skala besar, dan merusak sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang, yaitu kepercayaan," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi seperti dikutip dalam keterangan resmi di laman OJK.
Teknik verifikasi sederhana
Dengan modus scam atau penipuan yang semakin kompleks, verifikasi informasi menjadi hal penting untuk mencegah penipuan yang berujung kerugian finansial. Kampanye P.I.L.I.H. dari OCBC mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi di media sosial sebelum mengambil keputusan finansial. Pertama, Pahami sumbernya dengan memastikan kredibilitas media atau akun yang menyebarkan informasi. Kemudian, Identifikasi informasinya dengan mencermati isi berita dan klaim yang disampaikan, dan Lacak kebenarannya melalui sumber tepercaya dan informasi resmi.
Namun, Ingat untuk tidak panik dan terburu-buru agar tidak terjebak FOMO atau mengambil keputusan berdasarkan emosi. Terakhir, Hentikan jika ragu dengan menunda tindakan sampai kebenaran informasi terverifikasi. Dengan menerapkan langkah sederhana P.I.L.I.H., masyarakat dapat terhindar dari jebakan hoaks dan membuat keputusan finansial yang lebih bijak.
Dua benteng pertahanan
Membangun kebiasaan berpikir kritis dalam mencermati informasi merupakan salah satu bentuk perlindungan diri yang sama pentingnya dengan melindungi kerahasiaan data pribadi. Lengah terhadap hoaks dapat mengakibatkan kesalahan dalam mengambil keputusan finansial. Di sisi lain, masyarakat juga harus menjaga data pribadi agar tidak disalahgunakan dalam kejahatan finansial.
Verifikasi informasi dan melindungi kerahasiaan data pribadi adalah benteng pertahanan diri di era digital. Ibarat menjaga rumah, verifikasi informasi bisa dianalogikan mengecek siapa yang mengetuk pintu sebelum membukanya. Selanjutnya, menjaga data pribadi seperti mengunci pintu rumah dan menyimpan kuncinya dengan aman. Tanpa keduanya, rumah akan rentan dibobol.
Hoaks bukan sekadar masalah informasi, melainkan juga ancaman finansial. Meningkatkan literasi digital merupakan bagian dari upaya menepis ancaman tersebut. Bangun sikap kritis, cegah kesalahan pengambilan keputusan finansial akibat informasi yang tidak valid.
Artikel edukasi ini bekerja sama dengan PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














