Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas sampai saat ini sepertinya tak mempengaruhi kinerja industri asuransi umum di lini asuransi marine cargo dalam negeri hingga pertengahan tahun ini.
Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, premi lini asuransi marine cargo mencapai Rp 2,89 triliun pada semester I-2026. Nilainya tumbuh 4,4%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,77 triliun.
Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo berpendapat pertumbuhan premi asuransi marine cargo sebesar 4,4% YoY pada semester I-2026 utamanya ditopang oleh jalur perdagangan domestik.
"Di tengah lesunya daya beli masyarakat yang menekan konsumsi barang ritel konvensional, pasar domestik tetap menyimpan ketahanan melalui pergerakan komoditas antarpulau dan rantai pasok industri strategis," ujarnya kepada Kontan, Minggu (6/9/2026).
Baca Juga: BTPN Syariah Perluas Pembiayaan Individual, Bidik Mesin Pertumbuhan Baru
Melihat kinerja pertengahan tahun ini, Irvan memproyeksikan pendapatan premi asuransi marine cargo pada semester II-2026 akan tumbuh secara moderat dan selektif. Sebab, sebagian besar portofolio asuransi kargo nasional masih ditopang oleh kekuatan pasar domestik dan regional.
Irvan tak memungkiri bahwa konflik Timur Tengah sempat menekan kinerja lini asuransi marine cargo pada awal tahun akibat lonjakan klaim dan penurunan volume impor. Namun, dia bilang eksposur utama industri asuransi umum Indonesia lebih dominan pada jalur domestik.
"Dengan demikian, dampak langsungnya konflik tersebut relatif terbatas," katanya.
Lebih lanjut, Irvan memperkirakan pertumbuhan asuransi marine cargo pada akhir 2026 akan berada di level yang stabil dan tumbuh moderat pada kisaran single digit.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menyampaikan pertumbuhan lini asuransi marine cargo lebih banyak ditopang jalur perdagangan domestik. Alhasil, gejolak geopolitik yang terjadi di Timur Tengah tak terlalu berdampak signifikan terhadap lini tersebut.
Budi juga menyebut bahwa perlindungan yang diberikan untuk segmen ekspor dan impor luar negeri juga terbilang tak terlalu signifikan.
"Kalau marine cargo memang lebih banyak ditopang di dalam negeri. Saya harus mengakui banyak trading di antarpulau cukup meningkat sedikit. Untuk ekspor dan impor, saya pikir juga tidak memberikan kontribusi yang besar. Hal itu yang memang mendongkak kinerja dari lini usaha marine cargo," ujarnya saat konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2026).
AAUI mencatat, nilai klaim asuransi marine cargo mencapai Rp 845 miliar pada semester I-2026. Nilainya meningkat 25,3%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu.
Baca Juga: OJK Dorong Dana Pensiun Gaet Generasi Muda dan Pekerja Sektor Informal Jadi Peserta
Dari sisi perusahaan asuransi, PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) menilai kondisi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar marine cargo global. Marketing Director Great Eastern General Insurance Indonesia Linggawati Tok menerangkan konflik yang berlanjut mendorong perubahan rute pelayaran, meningkatkan waktu tempuh dan biaya logistik, serta menambah tekanan pada aktivitas perdagangan internasional.
Meski demikian, Linggawati memperkirakan prospek asuransi marine cargo pada semester II-2026 bisa lebih baik dibanding perkiraan awal tahun. Dia bilang prospeknya didukung sejumlah faktor.
"Didukung pemulihan perdagangan intra-Asia, pertumbuhan ekonomi kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), peningkatan proyek infrastruktur, dan meningkatnya kebutuhan logistik domestik diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan premi," katanya kepada Kontan, Jumat (4/9).
Di tengah tantangan berupa ketidakpastian geopolitik, persaingan tarif, dan lemahnya daya beli masyarakat, Linggawati menyebut industri juga makin fokus menjaga profitabilitas underwriting guna memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
Linggawati juga menilai peluang pertumbuhan bisnis asuransi marine cargo masih terbuka lebar, di tengah kondisi konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih. Dia menerangkan salah satu peluangnya bisa dioptimalkan dari sektor nonkonsumsi.
Linggawati mengatakan peluang tersebut juga dipicu masih adanya aktivitas proyek infrastruktur dan konstruksi yang terus mendorong kebutuhan pengiriman material konstruksi, produk baja, beton pracetak, alat berat, hingga project cargo yang memiliki nilai dan volume pengiriman relatif besar.
"Selain itu, kebutuhan distribusi barang esensial, seperti Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dan peralatan kesehatan tetap menjadi penopang utama aktivitas logistik nasional," ungkapnya.
Sebagai negara kepulauan, Linggawati juga berpendapat Indonesia membutuhkan arus distribusi yang berkelanjutan. Dengan demikian, segmen nonkonsumsi relatif lebih resilient terhadap gejolak perdagangan global.
Linggawati juga menerangkan peluang pertumbuhan didorong melalui strategi cross-selling kepada pemilik kapal, kontraktor, operator logistik, serta perusahaan Engineering, Procurement, dan Construction (EPC). Dia bilang Strategi tersebut memungkinkan peningkatan penetrasi bisnis marine cargo, sekaligus memperluas basis nasabah tanpa bergantung sepenuhnya pada pemulihan konsumsi masyarakat.
Terkait kinerja, lini bisnis asuransi marine cargo GEGI tercatat mengalami penurunan premi sebesar 21,49% YoY. Linggawati menyebut penurunan itu utamanya dipengaruhi melambatnya aktivitas perdagangan internasional yang berdampak pada berkurangnya volume ekspor dan impor yang disebabkan kondisi ekonomi, serta geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
"Ditambah juga kebijakan ekspor hasil tambang mineral," tuturnya.
Linggawati menerangkan faktor lainnya adalah pelemahan daya beli masyarakat yang turut memengaruhi aktivitas perdagangan domestik. Dia bilang kondisi itu menyebabkan perlambatan distribusi barang dan menurunnya kebutuhan jasa logistik. Dengan demikian, berdampak langsung pada segmen kargo domestik.
Linggawati menyampaikan kombinasi berbagai faktor tersebut pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan kinerja premi lini marine cargo perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














