kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Indonesia kudu belajar pasar syariah dari Malaysia


Kamis, 04 Oktober 2012 / 12:48 WIB
ILUSTRASI. Manfaat green tea untuk kecantikan kulit. 


Reporter: Anna Suci Perwitasari |

JAKARTA. Walaupun menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia,  industri keuangan syariah Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia. Hal ini terlihat dari market share perbankan syariah di Malaysia yang sudah mencapai 20% dari total industri perbankan. Sementara Indonesia masih tergolong kecil karena hanya 4%.

Selain perbankan, market share sukuk Malaysia juga lebih tinggi yaitu mencapai 70% di seluruh dunia. Sedangkan Indonesia masih jauh ketinggalan karena hanya berkontribusi sekitar 7%.

"Malaysia memang lebih dulu masuk ke industri keuangan syariah yaitu sejak 1983. Namun selisihnya sangat jauh," terang Pengamat Keuangan Syariah Syakir Sula, Kamis (4/10).

Dengan latar belakang itu, Syakir menganjurkan agar Indonesia belajar banyak dari negeri Jiran tersebut. Ia melihat, setidaknya perlu ada lima pilar yang harus dibenahi agar market share bisnis syariah semakin meningkat. Ke lima hal tersebut yakni mulai dari SDM, regulasi, Institusi, super visi, dan teknologi.

"SDM yang mengetahui bisnis syariah di sini masih minim," jelasnya. Ia menilai kualitas regulasi syariah di Indonesia juga belum maksimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×