kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Indonesia kudu belajar pasar syariah dari Malaysia


Kamis, 04 Oktober 2012 / 12:48 WIB
ILUSTRASI. Manfaat green tea untuk kecantikan kulit. 


Reporter: Anna Suci Perwitasari

JAKARTA. Walaupun menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia,  industri keuangan syariah Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia. Hal ini terlihat dari market share perbankan syariah di Malaysia yang sudah mencapai 20% dari total industri perbankan. Sementara Indonesia masih tergolong kecil karena hanya 4%.

Selain perbankan, market share sukuk Malaysia juga lebih tinggi yaitu mencapai 70% di seluruh dunia. Sedangkan Indonesia masih jauh ketinggalan karena hanya berkontribusi sekitar 7%.

"Malaysia memang lebih dulu masuk ke industri keuangan syariah yaitu sejak 1983. Namun selisihnya sangat jauh," terang Pengamat Keuangan Syariah Syakir Sula, Kamis (4/10).

Dengan latar belakang itu, Syakir menganjurkan agar Indonesia belajar banyak dari negeri Jiran tersebut. Ia melihat, setidaknya perlu ada lima pilar yang harus dibenahi agar market share bisnis syariah semakin meningkat. Ke lima hal tersebut yakni mulai dari SDM, regulasi, Institusi, super visi, dan teknologi.

"SDM yang mengetahui bisnis syariah di sini masih minim," jelasnya. Ia menilai kualitas regulasi syariah di Indonesia juga belum maksimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×