Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejak resmi menjadi satu-satunya suku bunga pasar uang antar bank (PUAB) pada 1 Januari 2026, INDONIA (Indonesia Overnight Index Average) terpantau konsisten turun, mencerminkan kecenderungan pelaku pasar untuk memasang suku bunga rendah.
Mengingatkan kembali, Bank Indonesia (BI) telah resmi menghentikan publikasi JIBOR (Jakarta Interbank Offered Rate) mulai 1 Januari 2026.
Itu otomatis mengokohkan posisi INDONIA, yang sebenarnya sudah dipublikasikan sejak 1 Agustus 2018, sebagai suku bunga atas transaksi pinjam-meminjam rupiah antar bank untuk jangka waktu overnight di Indonesia.
Baca Juga: Penjualan SBN Ritel Bank Mandiri Tembus Rp 21 Triliun Sepanjang 2025
Perbedaan utama JIBOR dan INDONIA terletak pada basis perhitungannya.
Kepala Grup Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) BI Arief Rachman menjelaskan, JIBOR diambil hanya berdasarkan rata-rata harga kuotasi suku bunga penawaran 17 bank kontributor.
Sementara INDONIA diambil dari rata-rata tertimbang by volume transaksi seluruh bank konvensional. “Jadi berdasarkan suku bunga yang sudah terjadi (deal done), bukan offer. Sehingga tidak bisa dimainkan,” jelas Arief pada taklimat media di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Arief bilang pasar telah masif beralih dari JIBOR ke INDONIA. Itu tercermin dari hasil survei rutin BI yang menunjukkan penurunan masif outstanding eksposur JIBOR menjadi Rp 480,19 triliun pada kuartal III-2025, dari Rp 548,72 triliun pada kuartal I-2025 dan Rp 539,65 triliun pada kuartal II-2025.
“Untuk kuartal IV-2025 datanya belum turun, tapi perkiraan kami eksposurnya sudah sangat-sangat turun karena bank-bank tak punya pilihan lain seiring dihapuskannya JIBOR,” kata Arief.
Sebagaimana INDONIA merupakan rata-rata suku bunga transaksi seluruh bank konvensional, Arief memastikan nilainya mencerminkan suku bunga riil pasar.
Nah sejak berlaku penuh, INDONIA terpantau turun tiga hari berturut-turut. Yang mana, pada 2 Januari 2026 posisinya ada di 4,00%, kemudian pada 5 Januari 2026 turun ke 3,91%, dan pada 6 Januari 2026 menjadi 3,85%.
Baca Juga: BSI Gerak Cepat Pulihkan 145 Outlet di Aceh
Melihat tren tersebut, artinya pasar kini juga cenderung menurunkan suku bunganya. “Itu mencerminkan kondisi pasar saat itu seperti apa, berarti tren pasarnya suku bunga turun,” ujar Arief.
Namun begitu, Arief melihat penurunan suku bunga pasar bisa disebabkan oleh berbagai hal. Misal, ekspektasi penurunan suku bunga acuan lebih lanjut, serta longgarnya likuiditas.
Sebagai gambaran, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memang menunjukkan ada penurunan bulanan pada transaksi rata-rata harian PUAB, yakni sebesar Rp 3,99 triliun pada November 2025. LPS menyebut itu terjadi seiring dengan penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah kepada himbara untuk menambah likuiditas lintas kelompok bank.
Selanjutnya: Rupiah Ditutup Rp 16.780 per Dolar AS Rabu (7/1), Catat Pelemahan 5 Hari Beruntun
Menarik Dibaca: 5 Olahraga untuk Mengencangkan Payudara Kendur, Bisa Dilakukan di Rumah!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













