kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.896   2,00   0,01%
  • IDX 8.029   11,75   0,15%
  • KOMPAS100 1.127   2,08   0,18%
  • LQ45 816   3,53   0,43%
  • ISSI 286   -0,11   -0,04%
  • IDX30 432   2,81   0,65%
  • IDXHIDIV20 524   6,45   1,25%
  • IDX80 126   0,46   0,36%
  • IDXV30 142   1,48   1,05%
  • IDXQ30 139   0,96   0,70%

Industri Asuransi Cermati Dampak Rencana Penurunan Produksi Batubara 2026


Selasa, 03 Maret 2026 / 07:32 WIB
Industri Asuransi Cermati Dampak Rencana Penurunan Produksi Batubara 2026


Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan batubara 2026 dinilai berpotensi memengaruhi kinerja industri asuransi umum.

Pengurangan kuota produksi yang signifikan diperkirakan berdampak pada sejumlah lini bisnis yang selama ini bergantung pada aktivitas pertambangan batubara.

Pengamat asuransi Irvan Rahardjo menilai, potensi pemotongan kuota produksi batubara tahun 2026 yang dilaporkan bisa mencapai 40% menurut Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia-Indonesian Coal Mining Association (APBI-ICMA), akan berdampak negatif pada perusahaan asuransi, khususnya di lini marine cargo, alat berat, dan asuransi energi.

Baca Juga: OJK Beberkan Tantangan Industri Asuransi, dari Bencana Alam hingga Spin Off Syariah

“Penurunan produksi akan mengurangi volume pengiriman batubara, sehingga premi marine cargo berpotensi turun. Utilisasi alat berat yang lebih rendah juga berdampak pada premi asuransi alat berat dan engineering,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).

Menurutnya, selain menekan pendapatan premi, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko klaim.

Gangguan kontrak, penundaan proyek, hingga penurunan utilisasi alat berpotensi memicu klaim, terutama jika terjadi perselisihan kontraktual atau kerusakan alat akibat idle yang berkepanjangan.

Irvan menambahkan, lini asuransi marine cargo, alat berat, serta property all risk di situs tambang berpotensi paling terpapar.

Penurunan volume produksi dan ekspor akan mengurangi aktivitas pengiriman barang, menurunkan kebutuhan alat berat, dan mengurangi eksposur risiko aset tertanggung. Dampaknya, premi yang dibukukan berpotensi menyusut.

Baca Juga: Bencana Alam Berpotensi Dongkrak Klaim, Tugu Insurance Pastikan Rasio Tetap Terjaga

“Penurunan volume produksi/ekspor mengurangi aktivitas pengiriman barang (marine cargo), menurunkan kebutuhan alat berat, dan mengurangi risiko aset tertanggung, yang berdampak pada penurunan premi dan potensi klaim,” ungkapnya.

Lebih jauh, target penurunan produksi batubara menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026 juga diperkirakan berdampak luas pada industri pendukung. Sektor jasa pertambangan, kontraktor alat berat, hingga ketenagakerjaan akan terkena imbasnya. 

Industri turunan seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta sektor lain yang bergantung pada batubara juga perlu melakukan penyesuaian operasional. Kondisi ini turut memengaruhi lini asuransi lain, seperti asuransi tenaga kerja, asuransi pengangkutan, hingga liability.

Sementara itu, PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo menilai dampak kebijakan tersebut masih bergantung pada kebijakan final serta implementasinya di lapangan.

Baca Juga: Tokio Marine Life Nilai Produk Unitlink Masih Berpotensi Diminati ke Depannya

Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana mengatakan, hingga saat ini situasi dinilai masih berada dalam koridor yang terkendali.

“Kami memandang dampaknya terhadap industri asuransi masih akan sangat bergantung pada kebijakan final serta implementasinya di lapangan. Pada tahap ini, kami melihat situasi masih dalam koridor yang terkendali,” ujar Brellian kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).

Ia menjelaskan, secara umum portofolio asuransi kerugian mayoritas berbasis aset dan memiliki periode pertanggungan tertentu. Dengan karakteristik tersebut, perubahan volume produksi batu bara dalam jangka pendek tidak serta-merta berdampak langsung terhadap kinerja premi.

Namun demikian, Brellian mengakui pada lini tertentu seperti marine cargo, potensi penyesuaian dapat terjadi apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas distribusi.

“Untuk lini tertentu seperti marine cargo, potensi penyesuaian dapat terjadi apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas distribusi. Namun, hal tersebut masih bersifat situasional,” jelasnya.

Baca Juga: OJK Proyeksi Aset Asuransi Bisa Tumbuh 5%-7% pada 2026, Ini Kata AXA Mandiri

Ke depan, Jasindo menegaskan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko. Diversifikasi portofolio juga menjadi strategi utama untuk menjaga ketahanan kinerja di tengah dinamika sektor pertambangan. 

“Kami terus memantau perkembangan kebijakan serta memastikan pengelolaan risiko dilakukan secara prudent guna menjaga kinerja yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Pandangan serupa disampaikan PT Asuransi Digital Bersama Tbk atau PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII). Perusahaan menilai dampak rencana pemangkasan RKAB batubara terhadap industri asuransi umum akan bergantung pada portofolio masing-masing perusahaan.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×