kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.992.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.020   46,00   0,27%
  • IDX 7.039   -97,81   -1,37%
  • KOMPAS100 973   -15,76   -1,59%
  • LQ45 717   -11,40   -1,57%
  • ISSI 245   -4,36   -1,75%
  • IDX30 388   -3,58   -0,91%
  • IDXHIDIV20 485   -1,98   -0,41%
  • IDX80 109   -1,91   -1,72%
  • IDXV30 132   0,33   0,25%
  • IDXQ30 126   -0,73   -0,57%

Industri Asuransi Jiwa Diprediksi Moncer di 2026, Ini Kata AAJI


Senin, 16 Maret 2026 / 11:25 WIB
Industri Asuransi Jiwa Diprediksi Moncer di 2026, Ini Kata AAJI
ILUSTRASI. AAJI yakin kinerja asuransi jiwa positif di tahun 2026 berkat resiliensi ekonomi.


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) optimistis industri asuransi jiwa masih bisa memperoleh kinerja positif pada 2026.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan optimisme itu muncul seiring kondisi perekonomian Indonesia yang masih memiliki ketahanan atau resilient terhadap dinamika geopolitik.

"Bagaimana proyeksi tahun ini? Kami dari AAJI masih sangat positif, karena Indonesia masih punya ketahanan, punya resiliensi, meski ada tantangan geopolitik dan semua negara menghadapi," katanya saat konferensi pers AAJI di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2026).

Selain itu, Albertus bilang pasar perasuransian di Indonesia juga masih cukup besar. Dia bilang hanya tinggal mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengedukasi dan meningkatkan literasi masyarakat mengenai produk asuransi yang ternyata begitu dibutuhkan. 

Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa dari Kanal Bancassurance Terkontraksi, AAJI Jelaskan Penyebabnya

"AAJI bersama-sama dengan regulator, akademisi, dan pihak-pihak terkait, terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa dalam kehidupan itu ada resiko finansial, dan setiap keluarga harus mengerti dan punya solusi untuk risiko tersebut," tuturnya.

Jika melihat berbagai risiko yang ada, Albertus mencoba meyakinkan bahwa produk asuransi jiwa sebenarnya merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat, bukan sebagai kebutuhan kedua maupun ketiga.

Oleh karena itu, dia berharap masyarakat bisa menyisihkan dana untuk mendapatkan proteksi dari produk asuransi guna menghadapi berbagai risiko yang ada.

"Asuransi bukan kebutuhan kedua atau ketiga, melainkan kebutuhan pokok. Jadi, setiap dana yang ada, disisakan untuk proteksi melalui produk asuransi jiwa. Jadi, kami akan meningkatkan terus literasi dan inklusi," ungkapnya.

Albertus mengatakan, dengan makin meningkatnya literasi dan inklusi masyarakat terhadap asuransi, diharapkan dapat mendorong juga peningkatan jumlah tertanggung seperti yang dicapai pada 2025. 

Asal tahu saja, data AAJI mencatat, total pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp 181,27 triliun pada 2025. Nilainya terkontraksi tipis 1,8%, jika dibandingkan pencapaian pada 2024.

Baca Juga: Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Secara Kumpulan dan Perorangan Terkontraksi pada 2025

Sementara itu, jumlah tertanggung industri asuransi jiwa mencapai 168,03 juta orang pada 2025. Angka itu mengalami kenaikan 8,6%, jika dibandingkan pencapaian pada 2024.

Albertus menyampaikan, pertumbuhan pada total tertanggung menjadi sinyal positif bagi industri asuransi jiwa untuk optimistis memperluas perlindungan asuransi jiwa bagi masyarakat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×