Reporter: Secillia Hafifah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri penjaminan masih menghadapi sejumlah tantangan di tengah pertumbuhan ekonomi nasional, yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 5,47% pada kuartal III-2026.
Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, industri penjaminan masih dibayangi tekanan kualitas portofolio dan tingginya rasio klaim.
Direktur Utama PT Penjaminan Kredit Daerah Provinsi Sumatera Barat (Perseroda) atau PT Jamkrida Sumbar, Ibnu Fadhli mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional mulai memberikan dampak positif terhadap bisnis perusahaan.
"Dengan pertumbuhan ekonomi tersebut berpengaruh kepada peningkatan kredit yang dijamin PT Jamkrida Sumbar sebesar 7% dari tahun sebelumnya, sedangkan realisasi klaim pada kuartal III tahun 2026 mengalami penurunan 9% dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan industri, PT Jamkrida Sumbar masih mampu menjaga kualitas portofolio penjaminan dengan pengeloaan bisnis penjaminan yang selektif," ungkap Ibnu kepada Kontan, Jum'at (06/11/2026).
Baca Juga: Rasio Klaim Industri Penjaminan Tinggi, Jamkrida Sumbar Evaluasi Tarif IJP
Terkait prospek bisnis, PT Jamkrida Sumbar optimistis industri penjaminan masih memiliki peluang pertumbuhan, meskipun konsumsi rumah tangga diprediksi masih tertekan.
Menurut Ibnu, peluang bisnis penjaminan tidak hanya berasal dari pembiayaan konsumtif, maupun pembiayaan yang berkaitan dengan belanja pemerintah daerah.
Perusahaan juga melihat potensi dari sektor produktif, seperti perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat lainnya.
Terutama pada segmen UMKM yang masih membutuhkan dukungan permodalan untuk mempertahankan operasional, meningkatkan kapasitas produksi, dan mengembangkan pasar.
Untuk menangkap peluang tersebut, PT Jamkrida Sumbar menyiapkan sejumlah strategi. Pertama, memperluas diversifikasi bisnis dan meningkatkan penjaminan produktif melalui perluasan kerja sama dengan mitra penjaminan, seperti BPR, BPRS, dan koperasi.
Kedua, memperkuat manajemen risiko dan kualitas penjaminan melalui seleksi portofolio pada sektor usaha yang memiliki tingkat risiko tinggi, serta evaluasi berkala terhadap profil risiko setiap produk penjaminan.
Baca Juga: Jamkrida Sumbar Waspadai Perlambatan Kredit, Jaga Kualitas Penjaminan Konsumtif
Perusahaan juga melakukan penyesuaian tarif Imbal Jasa Penjaminan (IJP) secara proporsional agar rasio klaim tetap terjaga.
Ketiga, mengoptimalkan kapasitas penjaminan ulang dan permodalan dengan memperkuat kerja sama bersama perusahaan reasuransi untuk mengelola batas maksimal risiko penjaminan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) Agus Supriadi menilai, data pertumbuhan ekonomi nasional Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 5,47% pada kuartal III-2026 merupakan perkembangan positif, yang memberikan optimisme bagi industri penjaminan.
Namun, dampak pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Pasalnya, pertumbuhan bisnis penjaminan sangat bergantung pada penyaluran kredit dan pembiayaan, kualitas debitur, serta tingkat risiko yang dihadapi lembaga keuangan.
Agus mengatakan, industri masih menghadapi tekanan terhadap kualitas portofolio dan beban klaim yang relatif tinggi. Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya risiko gagal bayar pada portofolio pembiayaan yang dijamin, terutama pada segmen UMKM dan masyarakat yang masih menghadapi tekanan daya beli serta biaya operasional.
Baca Juga: Asippindo Dorong Penerapan Tarif Berbasis Risiko untuk Tekan Rasio Klaim Penjaminan
"Tingginya rasio klaim menjadi perhatian industri karena mencerminkan masih adanya risiko gagal bayar pada portofolio pembiayaan yang dijamin. Kondisi ini turut memengaruhi profitabilitas dan kemampuan perusahaan penjaminan dalam memperkuat aset serta permodalan," jelasnya kepada Kontan, Jum'at (06/11/2026).
Meski demikian, Asippindo tetap memandang prospek industri penjaminan ke depan cukup positif, meskipun pertumbuhannya diperkirakan berlangsung secara bertahap dan menghadapi sejumlah tantangan.
Kebutuhan penjaminan masih memiliki potensi besar, terutama dalam mendukung pembiayaan UMKM, kredit produktif, serta berbagai program pemerintah untuk memperkuat aktivitas ekonomi dan meningkatkan inklusi keuangan.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Asippindo mendorong industri penjaminan untuk mengedepankan strategi pertumbuhan yang berkualitas, dengan memperkuat prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko.
Upaya tersebut mencakup peningkatan kualitas analisis penjaminan, penerapan tarif IJP yang sesuai dengan profil risiko, serta pemantauan portofolio secara berkala untuk mengantisipasi potensi peningkatan klaim.
Selain itu, industri perlu mengoptimalkan pemulihan klaim melalui subrogasi, memperkuat kerja sama penjaminan ulang, serta meningkatkan sinergi dengan perbankan, lembaga pembiayaan, dan pemerintah dalam memperluas akses pembiayaan bagi sektor produktif dan UMKM.
Transformasi digital juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan efisiensi operasional, kecepatan pelayanan, serta kualitas pengambilan keputusan berbasis data.
Baca Juga: Asippindo Optimistis Prospek Kinerja Industri Penjaminan Masih Positif pada 2027
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
