Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, alokasi investasi industri dana pensiun di deposito naik 22,77% secara Year on Year (YoY) menjadi Rp 104,66 triliun per akhir 2025, sedangkan penempatan di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turun 80,50% YoY menjadi Rp 3,29 triliun per akhir 2025.
Mengenai hal itu, Dana Pensiun BCA atau Dapen BCA (DPBCA) menilai kenaikan alokasi investasi industri dana pensiun pada deposito, serta penurunan penempatan pada SRBI utamanya dipengaruhi oleh perkembangan imbal hasil.
Direktur Utama Dana Pensiun BCA, Budi Sutrisno mengatakan saat ini, imbal hasil SRBI yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) cenderung menurun, sehingga tingkat diskontonya makin mendekati, bahkan untuk seri terbaru berada di bawah suku bunga deposito perbankan.
"Dengan risk–return profile yang relatif serupa dalam jangka pendek, instrumen deposito menjadi lebih kompetitif dan menarik bagi pengelola dana pensiun," ungkapnya kepada Kontan, Senin (16/2/2026).
Baca Juga: Dapen BCA Masih Andalkan SBN sebagai Instrumen Utama di Tahun 2026
Selain faktor imbal hasil, Budi menerangkan terdapat kebutuhan likuiditas pada akhir tahun. Dia bilang kebutuhan pembayaran manfaat pensiun dan pengelolaan kas biasanya meningkat, sedangkan dana pensiun juga harus menjaga tingkat likuiditas sesuai ketentuan atau rasio likuiditas lebih dari 100%.
Dengan demikian, kondisi tersebut mendorong penempatan pada instrumen yang lebih likuid dan stabil, seperti deposito.
"Dengan demikian, terjadi pergeseran dari SRBI ke deposito," katanya.
Lebih lanjut, Budi menyampaikan secara umum, strategi alokasi Dapen BCA juga mempertimbangkan dinamika yang sama, yaitu optimalisasi imbal hasil dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan kecukupan likuiditas. Dia bilang penyesuaian komposisi dilakukan secara terukur sebagai bagian dari manajemen aset liabilitas atau Asset Liability Management (ALM).
Baca Juga: Dapen BCA Beberkan Sejumlah Tantangan yang Bisa Pengaruhi Pertumbuhan Aset di 2026
Budi mengatakan porsi investasi Dapen BCA di SRBI dan deposito per 12 Februari 2026 sebesar 5,54% dan 14,4% terhadap total portofolio. Dia menyebut komposisi itu masih berada dalam koridor kebijakan investasi yang telah ditetapkan, dengan penyesuaian taktis mengikuti kondisi pasar dan kebutuhan likuiditas.
Ke depannya, Budi memproyeksikan prospek alokasi akan tetap fleksibel dan berbasis pada perkembangan suku bunga, kondisi pasar keuangan, serta kebutuhan likuiditas Dapen BCA. Dia menerangkan deposito masih akan dimanfaatkan sebagai instrumen stabilisasi likuiditas dan pengelolaan risiko.
"Namun, keputusan investasi tetap dilakukan secara diversifikasi untuk menjaga keseimbangan antara imbal hasil, risiko, dan kecocokan dengan profil kewajiban jangka panjang dana pensiun," ucap Budi.
Asal tahu saja, data OJK mencatat, total investasi dana pensiun secara gabungan meningkat sebesar 6,99%, menjadi Rp 394,44 triliun per akhir 2025.
Baca Juga: Dana Pensiun BCA Terapkan Strategi Ini Dorong Pertumbuhan Aset pada 2026
Selanjutnya: Ramadan-Lebaran 2026 Topang Industri Makanan dan Minuman, Sumbang 7% ke PDB
Menarik Dibaca: 8 Teh Pembakar Lemak agar Berat Badan Turun secara Alami yang Efektif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)