Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri Lembaga Keuangan Mikro (LKM) membeberkan sejumlah tantangan dalam meningkatkan nilai simpanan. Misalnya saja, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Ponorogo menyebut salah satu tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan nilai simpanan adalah menumbuhkan dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap LKM.
"Selain itu, adanya persaingan dengan bank yang lebih maju dalam infrastruktur pelayanan," ungkap Direktur Utama LKM BKD Ponorogo Mego kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Untuk meningkatkan nilai simpanan ke depannya, Mego menyampaikan pihaknya akan menerapkan sejumlah upaya. Dia menerangkan upayanya, yakni mengembangkan pasar dan pemasaran melalui pengembangan produk simpanan, serta mengomunikasikan nilai produk simpanan LKM kepada masyarakat.
Baca Juga: Asuransi Hewan Peliharaan Berpeluang Tumbuh di Indonesia
"Ditambah, melakukan peningkatan layanan dan kesetiaan nasabah LKM," ujarnya.
Adapun nilai simpanan LKM BKD Ponorogo per Juli 2026 mencapai Rp 10 miliar, atau naik 6,84% secara Year on Year (YoY).
Sementara itu, LKM BKD Kabupaten Pekalongan juga menyampaikan sejumlah tantangan dalam meningkatkan nilai simpanan. Direktur Utama LKM BKD Kabupaten Pekalongan Hary Budhi Murdiyanto menerangkan salah satu tantangannya adalah faktor perekonomian yang lesu.
"Selain itu, terdapat masalah gagal bayar di lembaga lain dan belum adanya masuknya LKM ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).
Hary menyampaikan kondisi itu pada akhirnya juga menggerus kepercayaan masyarakat terhadap LKM. Dalam meningkatkan nilai simpanan, dia bilang pihaknya berupaya secara aktif menyampaikan kepada nasabah agar bisa menyisihkan dana untuk menabung di LKM.
Setali tiga uang, Asosiasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Indonesia (Aslindo) juga menyebut industri masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan nilai simpanan. Ketua Umum Aslindo Burhan mengatakan tantangan utamanya adalah LKM yang belum menjadi anggota LPS.
"LKM sangat membutuhkan LPS, agar masyarakat makin yakin untuk menyimpan dananya di LKM," ucap Burhan kepada Kontan, Rabu (16/9).
Baca Juga: AAUI Melihat Potensi Pertumbuhan Bisnis Asuransi Hewan di Indonesia
Meski demikian, Burhan optimistis nilai simpanan LKM masih bisa membukukan pertumbuhan hingga akhir tahun ini.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai simpanan atau tabungan di industri LKM mencapai Rp 0,63 triliun atau Rp 630 miliar per Juli 2026. Nilainya meningkat 8,62%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 0,58 triliun atau Rp 580 miliar. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














