Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri asuransi hewan peliharaan atau pet insurance memiliki peluang untuk berkembang di Indonesia seiring meningkatnya anggapan bahwa hewan peliharaan merupakan bagian dari keluarga.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (KE PPDP) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ogi Prastomiyono menilai penetrasi asuransi hewan yang masih rendah membuka ruang bagi perusahaan untuk mengembangkan produk sesuai kebutuhan masyarakat.
Ia mengatakan fenomena tersebut menjadi salah satu peluang pengembangan produk asuransi, terutama di kalangan masyarakat perkotaan. Apalagi saat ini biaya perawatan medis hewan, seperti rawat inap dan operasi umumnya masih ditanggung secara mandiri oleh pemilik.
Baca Juga: AAUI Melihat Potensi Pertumbuhan Bisnis Asuransi Hewan di Indonesia
Katanya, untuk di kawasan Asia Pasifik pasar asuransi hewan menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup tinggi, namun penetrasinya di Indonesia masih terbatas.
"Di kawasan Asia Pasifik, pasar asuransi hewan menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, sementara di Indonesia penetrasinya masih relatif rendah, sehingga membuka ruang pengembangan yang cukup besar ke depan," ujarnya dalam lembar jawab RDKB OJK Maret.
Di Indonesia, salah satu tantangan produk ini karena jumlah perusahaan penyedianya relatif sedikit dan jangkauannya belum luas, sementara literasi masyarakat mengenai produk ini juga masih perlu ditingkatkan.
Sementara itu, Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai pasar pet insurance Indonesia masih berada pada tahap awal, tetapi memiliki potensi pertumbuhan seiring meningkatnya fenomena pet humanization atau kecenderungan memperlakukan hewan peliharaan sebagai bagian dari keluarga.
“Di Indonesia, penetrasinya masih sangat rendah dan berada pada tahap dini,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (18/8/26).
Selain itu, pertumbuhan kebutuhan asuransi hewan juga didorong oleh kenaikan biaya medis di klinik dan rumah sakit hewan. Kondisi tersebut bisa mendorong pemilik untuk mengantisipasi risiko biaya perawatan melalui perlindungan asuransi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan perangkat wearable membuka peluang inovasi produk, termasuk penerapan premi berbasis penggunaan.
Oleh karena itu, edukasi mengenai manfaat perlindungan jangka panjang juga dinilai penting untuk memperluas adopsi asuransi hewan.
Ke depannya, pertumbuhan pet insurance di Indonesia diperkirakan berlangsung dari basis penetrasi yang masih rendah seiring berkembangnya tren pet parenting. Namun, pengembangan produk asuransi ini tetap perlu memperhatikan prinsip kehati-hatian, perlindungan konsumen, dan keberlanjutan bisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














