kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   -260.000   -8,33%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Ini Tantangan yang Bisa Pengaruhi Kinerja Asuransi Kesehatan pada 2026


Minggu, 01 Februari 2026 / 12:22 WIB
Ini Tantangan yang Bisa Pengaruhi Kinerja Asuransi Kesehatan pada 2026
ILUSTRASI. Inflasi biaya medis yang masih tinggi, pergeseran pola penyakit ke arah kondisi kronis masih menjadi tantangan asuransi kesehatan. (Shutterstock/beda asuransi jiwa dan asuransi kesehatan)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life Indonesia) menyebut masih ada sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja asuransi kesehatan pada 2026. 

President Director Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menerangkan, tantangannya, yakni inflasi biaya medis yang masih tinggi, pergeseran pola penyakit ke arah kondisi kronis, dan ekspektasi masyarakat akan layanan kesehatan yang terus meningkat. 

"Hal itu menjadi realitas yang dihadapi seluruh industri kesehatan global. Oleh karena itu, tantangan harus dikelola bersama sebagai industri," kata Albertus kepada Kontan, Minggu (1/2/2026).

Baca Juga: OJK Proyeksikan Kinerja Unitlink Berpotensi Tumbuh di 2026

Secara keseluruhan, Albertus mengatakan. Sun Life melihat 2026 sebagai tahun transformasi yang menjanjikan untuk asuransi kesehatan di Indonesia. Dia menganggap pemberlakuan Peraturan OJK Nomor 36 Tahun 2025 mengenai Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan pada tahun ini menjadi momentum transformasi ekosistem asuransi kesehatan.

Asal tahu saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis Peraturan OJK (POJK) Nomor 36 Tahun 2025 mengenai Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan dan berlaku 3 bulan usai diundangkan pada 22 Desember 2025. 

Menurut Albertus, regulasi tersebut bukan sekadar aturan compliance, melainkan blueprint untuk membangun industri asuransi kesehatan yang lebih sustainable dan adil. Dengan mekanisme risk sharing yang jelas, repricing berbasis data yang transparan, telaah utilisasi oleh tenaga medis profesional, dan kolaborasi yang lebih erat dengan BPJS Kesehatan dan provider, dia menilai industri kini punya tolok ukur yang tepat untuk mengelola biaya secara lebih rasional.

Albertus menilai prospek asuransi kesehatan ke depannya bukan lagi sekadar soal mengejar pertumbuhan premi, melainkan menunjukkan upaya revolusi industri ke arah yang lebih matang. 

"Selain itu, fokus pada pengelolaan risiko berbasis data, kolaborasi erat di seluruh ekosistem, dan memastikan produk asuransi kesehatan tetap accessible dan affordable untuk masyarakat Indonesia," tuturnya.

Baca Juga: NPL UMKM Masih Tinggi, Berdampak ke Kinerja Industri Penjaminan

Albertus mengatakan Sun Life berkomitmen menjadi bagian dari transformasi positif itu dalam hal membangun masa depan asuransi kesehatan yang lebih baik, lebih sustainable, dan benar-benar melayani kebutuhan masyarakat.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan di situs resmi perusahaan, Sun Life mencatatkan pendapatan premi sebesar Rp 2,94 triliun per Desember 2025. Adapun nilai klaim yang dibayarkan mencapai Rp 510,8 miliar per Desember 2025. 

Selanjutnya: Tiba-tiba Berhalangan? Ini Strategi Jitu Ajukan Reschedule Interview Tanpa Cemas

Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×