kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.973.000   129.000   4,54%
  • USD/IDR 16.807   4,00   0,02%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

Jasindo Melihat Peluang dari Target Investasi Pengembangan EBT di Indonesia


Rabu, 04 Februari 2026 / 20:59 WIB
Jasindo Melihat Peluang dari Target Investasi Pengembangan EBT di Indonesia
ILUSTRASI. Asuransi Jasindo (DOK/Jasindo) Target investasi EBT Rp1.682 T munculkan risiko baru. Asuransi Jasindo siap tawarkan mitigasi komprehensif.


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan nilai investasi yang masuk untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia capai Rp 1.682 triliun dalam 10 tahun. Hal itu sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang berlaku 2025-2034.

Mengenai hal tersebut, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menilai target investasi pemerintah merupakan sinyal kuat bahwa transisi energi di Indonesia akan berjalan makin masif. Bagi Asuransi Jasindo, hal itu membuka peluang yang sangat besar, khususnya dalam penyediaan perlindungan risiko untuk proyek-proyek strategis yang bernilai tinggi, berjangka panjang, dan memiliki kompleksitas teknis.

"Secara portofolio bisnis, perusahaan telah memiliki pengalaman yang matang dalam menjangkau mega risk," ujar Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana kepada Kontan, Rabu (4/2). 

Baca Juga: Pengamat Menilai Sinyal Buruk Jika Misbakhun Jadi Pemimpin OJK Selanjutnya

Sejalan dengan Asta Cita pemerintah, khususnya agenda kemandirian bangsa melalui swasembada energi, Gema menerangkan pengembangan EBT menjadi elemen penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada energi impor. 

Dalam konteks tersebut, dia bilang peran industri asuransi menjadi krusial untuk memastikan keberlangsungan proyek-proyek energi strategis yang menopang kemandirian energi Indonesia.

"Oleh karena itu, Asuransi Jasindo memandang sektor EBT sebagai area pertumbuhan yang prospektif. Seiring berkembangnya proyek energi bersih di Indonesia, potensi risiko baru turut muncul dan membutuhkan mitigasi yang komprehensif," tuturnya.

Gema mengatakan sebagai risk management partnership, Asuransi Jasindo siap mendampingi pelaku usaha energi bersih dalam mengelola dan memitigasi risiko melalui solusi perlindungan yang adaptif dan berkelanjutan. Dia juga optimistis sektor tersebut akan menjadi pilar strategis pengembangan energi ke depan.

Lebih lanjut, Gema menyampaikan saat ini, portofolio asuransi energi Jasindo masih didominasi oleh aset-aset energi konvensional, baik di sektor onshore maupun offshore yang menjadi salah satu penopang bisnis inti perusahaan. Meskipun demikian, dia mengatakan Jasindo telah memiliki pengalaman dan kapabilitas untuk memberikan perlindungan terhadap proyek-proyek New Renewable Energy (NRE).

Ke depan, Gema menerangkan Jasindo siap untuk memperluas peran di sektor EBT seiring dengan meningkatnya kebutuhan proteksi di sektor tersebut. Dengan dukungan tim taktis, pengalaman di sektor energi, serta penguatan manajemen risiko, Jasindo melihat bahwa pengembangan asuransi terhadap sektor EBT bukan hanya sebuah peluang bisnis, melainkan bagian dari kontribusi nyata terhadap agenda transisi energi nasional.

Berdasarkan data per November 2025, Gema mengungkapkan pendapatan premi asuransi energi Jasindo mencapai lebih dari Rp 0,5 triliun atau Rp 500 miliar.

Secara keseluruhan, Gema menyampaikan Jasindo tetap optimistis terhadap prospek lini asuransi energi. Oleh karena itu, dia bilang Jasindo menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan di lini energi, dengan fokus pada penguatan portofolio yang sehat dan seimbang antara risiko dan potensi bisnis.

Sepanjang 2025, Jasindo juga menjalankan berbagai program keberlanjutan, salah satunya adalah program Narasemesta di beberapa kota di Indonesia yang berfokus pada edukasi, lingkungan, dan konservasi.

Sebagai informasi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan target investasi jumbo itu sebagian besar direncanakan berasal dari sektor swasta.

"Waktu Pak Menteri mengeluarkan keputusan Menteri untuk RUPTL 10 tahun dan diharapkan investasi sampai Rp 1.682 triliun, sebesar 70%-nya dari swasta," kata Eniya saat acara di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026).

Menurut Eniya, komitmen pemerintah untuk mendorong EBT kini makin kuat, terutama sejak diterbitkannya Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 10 tahun 2025 yang menjadi dasar percepatan transisi energi nasional. 

Baca Juga: Menanti Ketua Dewan Komisioner OJK Baru, Pengamat: Perlu Tenaga Profesional

Selanjutnya: Alokasi Saham Naik Jadi 20%, Ini Peluang Investasi bagi Dana Pensiun dan Asuransi

Menarik Dibaca: 5 Pilihan Sofa yang Sebaiknya Dihindari untuk Ruang Tamu Rumah Modern

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×