kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kementerian BUMN imbau bank pelat merah himpun dana murah


Senin, 07 Maret 2011 / 16:14 WIB
ILUSTRASI. Orang-orang berbaris untuk membeli masker pelindung di sebuah toko di Hanoi, Vietnam, 6 Februari 2020.


Reporter: Roy Franedya |

JAKARTA. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong bank milik pemerintah gencar menghimpun dana murah ketimbang dana mahal. Tujuannya, menurunkan biaya dana (cost of fund) sehingga bunga kredit bank BUMN bisa turun lagi.

Deputi sektor Jasa Keuangan dan Perbankan Kementerian BUMN Parikesit Suprapto mengatakan, pihaknya mendorong bank BUMN meningkatkan dana murah karena hal tersebut menguntungkan bank. "Kalau hal ini terus dilakukan bunga kredit bisa single digit," ujarnya, Senin (7/3).

Parikesit bilang, selama ini bank BUMN telah menerapkan efisiensi yang ketat, sehingga, rata-rata bunga kredit korporasi 8%-9%. "Bank pemerintah selalu berorientasi pada sektor riil sehingga bunga rendah akan membuat sektor riil bangkit," tambahnya.

Terkait rendahnya Loan to Deposit Ratio (LDR) bank BUMN, Parikesit menjelaskan, hal ini disebabkan adanya obligasi rekap yang dihitung sebagai deposito di bank. "Kalau obligasi rekap dikeluarkan, LDR Bank BUMN bisa tinggi," tambahnya.

Direktur Ritel Banking Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Mandiri terus berusaha menggenjot dana murah. Pada Januari lalu komposisi dana murah Bank Mandiri mencapai 56,9% dari Desember 2010 yang mencapai 56,5%. "Total Dana Pihak Ketiga (DPK) kami Rp 330 triliun," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×