Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate meningkat lagi menjadi sebesar 5,75%. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai penerbitan obligasi multifinance berpotensi menjadi lebih selektif pada sisa tahun ini, seiring kenaikan BI Rate.
Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan kenaikan BI Rate ke 5,75% meningkatkan acuan biaya dana bagi pasar. Dalam kondisi seperti itu, dia bilang investor biasanya meminta kompensasi kupon yang lebih tinggi, terutama untuk tenor yang lebih panjang atau issue dengan profil kredit yang relatif lebih lemah.
"Bagi multifinance, kenaikan kupon berarti beban pendanaan naik. Dengan demikian, keputusan menerbitkan obligasi akan dilakukan dengan lebih hati-hati agar tidak menekan margin pembiayaan," ujarnya kepada Kontan, Senin (6/7).
Baca Juga: Saham Big Banks Menguat di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Analis
Ahmad mengatakan multifinance selama ini memperoleh pendanaan dari obligasi, pinjaman bank, dan sumber pendanaan lain untuk disalurkan kembali sebagai pembiayaan. Dia menyebut ketika biaya dana naik lebih cepat daripada kemampuan menaikkan bunga pembiayaan kepada konsumen, margin dapat tertekan.
Oleh karena itu, perusahaan multifinance cenderung menunda penerbitan, memperpendek tenor, atau hanya menerbitkan untuk kebutuhan refinancing yang mendesak.
Namun, Ahmad menilai penerbitan obligasi tidak berarti akan berhenti bagi multifinance. Menurutnya, kebutuhan jatuh tempo pada Semester II-2026 masih besar, yaitu sekitar Rp 17,73 triliun, terdiri dari Rp 13,68 triliun pada kuartal III-2026 dan Rp 4,05 triliun pada kuartal IV-2026.
"Angka itu menciptakan kebutuhan refinancing yang sulit dihindari," tuturnya.
Dengan demikian, Ahmad mengatakan pasar kemungkinan tidak sepenuhnya sepi, tetapi lebih terkonsentrasi pada issuer yang memiliki rating kuat, basis investor luas, dan kebutuhan pendanaan yang jelas.
Sementara itu, Pefindo menyebut laju penerbitan surat utang multifinance terbilang melambat pada tahun ini, dibandingkan tahun sebelumnya. Ahmad menerangkan hal tersebut dilihat dari nilai penerbitan surat utang multifinance hingga Juni 2026 yang tercatat sebesar Rp 12,93 triliun.
"Angka itu masih jauh di bawah realisasi penuh pada 2025 yang sebesar Rp 38,18 triliun. Jika angka Semester I-2026 disetahunkan secara sederhana, nilainya menjadi sekitar Rp 25,86 triliun, atau lebih rendah sekitar 32,3% dibandingkan dengan realisasi penuh 2025," ucap Ahmad.
Baca Juga: Tifa Finance Raih Pinjaman Rp 400 Miliar dari Hana Bank
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













