Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan nasional memastikan kesiapan permodalan untuk menopang ekspansi bisnis sepanjang 2026. Sejumlah bank besar menilai rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang dimiliki saat ini berada pada level yang memadai, bahkan jauh di atas ketentuan regulator, sehingga cukup kuat untuk menghadapi dinamika ekonomi dan risiko ke depan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) rasio kecukupan modal perbankan per Oktober 2025 berada di level 26,38%, naik dari posisi bulan sebelumnya di level 26,15%, walaupun masih turun dari periode sama tahun sebelumnya yang berada di level 27,02%.
Direktur Risk Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Setiyo Wibowo mengatakan, pada 2026 posisi permodalan BTN berada dalam kondisi yang memadai dan siap mendukung pertumbuhan bisnis perseroan.
Baca Juga: BTN Perkuat Modal Inti melalui Shareholder Loan Rp 2 Triliun
BTN menjaga CAR di kisaran 18%–20%, yang dinilai optimal untuk menyeimbangkan kebutuhan ekspansi kredit, penugasan pemerintah, serta ketahanan permodalan terhadap berbagai potensi risiko.
“Dibandingkan tahun lalu, level CAR BTN relatif sejalan dan tetap dijaga pada rentang tersebut agar konsisten mendukung strategi bisnis jangka menengah,” ujar Setiyo kepada kontan.co.id, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, saat ini modal BTN masih cukup untuk menopang rencana bisnis ke depan. Meski demikian, sebagai langkah antisipatif dan perencanaan yang prudent, BTN menyiapkan sejumlah opsi penguatan permodalan apabila dibutuhkan. Opsi tersebut antara lain melalui penerbitan surat berharga yang memiliki karakteristik modal, shareholder loan, hingga right issue.
“Langkah ini untuk menjaga fleksibilitas permodalan seiring dinamika ekonomi dan kebutuhan ekspansi bisnis,” jelasnya.
Sebelumnya, Hery Gunardi, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga menyampaikan, terkait dengan kondisi permodalan, BRI memiliki permodalan yang kuat. Hal tersebut dicerminkan dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio /CAR) sebesar 26,8% pada kuartal III 2025. Posisi CAR BRI tersebut jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan regulator.
"Permodalan BRI yang kuat tersebut utamanya berasal dari laba ditahan yang terus tumbuh seiring dengan kinerja keuangan positif BRI," ujar Hery.
Dengan kondisi keuangan sehat dan permodalan yang kuat tersebut, BRI siap untuk menjalankan penugasan dari pemerintah secara GCG (Good Corporate Governance) dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: Transformasi Berjalan Positif, BRI Optimistis Kinerja Menguat pada 2026-2027
Beberapa program diantaranya adalah terkait pembiayaan sektor-sektor prioritas nasional seperti penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), penyaluran pembiayaan rumah bersubsidi (KPR FLPP), pembinaan dan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih, serta lain sebagainya.
Sementara itu, di jajaran bank swasta, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menegaskan bahwa permodalan perseroan berada pada posisi yang sangat kuat. Rasio CAR CIMB Niaga berada di kisaran 24%–25%, jauh di atas ketentuan regulator, dan akan dijaga setidaknya pada level yang sama sepanjang tahun ini.
“Untuk saat ini, kami belum memiliki rencana penambahan modal,” ujar Lani.
Adapun PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatatkan tingkat permodalan yang solid. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan bahwa rasio kecukupan modal BCA mencapai 29,9% pada sembilan bulan pertama 2025.
“Posisi permodalan tersebut kami pandang memadai untuk mengantisipasi potensi risiko serta menopang aktivitas usaha dan pengembangan bisnis secara berkelanjutan,” ujar Hera.
Ke depan, BCA akan terus memantau perkembangan pasar dan regulasi untuk memastikan permodalan tetap terjaga pada level yang sehat. Perseroan juga menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar dan risiko yang ada.
Dengan kondisi permodalan yang kuat, perbankan optimistis dapat menghadapi tantangan ekonomi 2026 sekaligus tetap agresif secara terukur dalam mendukung pertumbuhan pembiayaan dan perekonomian nasional.
Baca Juga: Simpanan Nasabah Super Kaya Tumbuh Positif, BCA Pastikan Beban Dana Terkendali
Selanjutnya: Bank Jakarta Hadirkan Kartu Debit Visa untuk Dukung Jakarta sebagai Kota Global
Menarik Dibaca: Hujan Amat Deras di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (6/1)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












