Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sejumlah bank berkapitalisasi besar pada tahun 2025 masih terlihat kurang cemerlang kendati mulai mencatatkan perbaikan pada kinerja laba.
PT Bank Mandiri Tbk misalnya, yang mencatat laba senilai Rp 56,29 triliun sepanjang 2025. Bank berlogo pita emas ini hanya mencatat pertumbuhan laba sekitar 0,92% secara tahunan (YoY).
Salah satu yang membuat pertumbuhan laba Bank Mandiri tertahan adalah pendapatan bunga bersih dari Bank Mandiri yang hanya mampu tumbuh mini. Pertumbuhan pada pos tersebut hanya tumbuh 4,38% YoY menjadi Rp 106,21 triliun, dikarenakan beban bunga mereka membengkak hingga 17,63% YoY menjadi Rp 58,20 triliun.
Dari sisi intermediasi, Bank Mandiri berhasil mencatat penyaluran kredit yang meningkat 13,4% YoY menjadi Rp1.895,0 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan menjelaskan, memasuki awal tahun 2026, Bank Mandiri mencermati tantangan yang masih berasal dari ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda, mulai dari dinamika geopolitik, arah kebijakan perdagangan, hingga volatilitas harga dari komoditas yang berasal dari Indonesia.
Begitupun dari dalam negeri, Riduan menyatakan meskipun kebijakan moneter sudah lebih akomodatif, transmisi penurunan suku bunga ke sektor riil masih bertahap, sehingga dampaknya ke aktivitas ekonomi dan pembiayaan belum merata.
Bank Mandiri menyebut segmen wholesale dan retail akan menjadi pendorong pertumbuhan kredit. Bank pelat merah itu akan mendorong pertumbuhan melalui pengolahan portfolio mix untuk perluasan ekosistem secara optimal.
Baca Juga: Bank Mandiri (BMRI) Cetak Kenaikan Laba 0,93% Capai Rp 56,3 Triliun Sepanjang 2025
“Fokus penyaluran kredit akan diarahkan kepada penguatan pembiayaan usaha produktif, khususnya UMKM dan sektor-sektor nilai tambah dengan memanfaatkan basis nasabah existing, sinergi anak perusahaan, serta penguatan ekosistem bisnis untuk mendorong pertumbuhan yang inklusi dan berkelanjutan,” ujarnya saat paparan kinerja Bank Mandiri tahun 2025 secara virtual, Kamis (5/2/2026).
Ia menyebut fokus pembiayaan diarahkan kepada sektor-sektor prospektif dan resilient, sesuai dengan loan portfolio guideline bank berlogo pita emas itu. Di antaranya, perdagangan dan jasa, industri pengolahan manufaktur, serta infrastruktur dan energi.
Adapun PT Bank Central Asia (BBCA) dan entitas anak berhasil membukukan laba bersih sebesar 4,9% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp57,5 triliun per Desember 2025.
Pendapatan bunga bersih BCA mencapai Rp 85,4 triliun, meningkat 4,1% dari Rp 82 triliun yang dicetak setahun sebelumnya.
Sementara itu, total pendapatan non bunga BCA mencapai Rp 25,6 triliun, naik 18,9% secara YoY. Salah satunya berasal dari pendapatan komisi dan fee juga naik 10,7% menjadi Rp 20,8 triliun, menandakan kuatnya bisnis transaksi dan layanan perbankan.
Dari sisi kredit, BCA telah menyalurkan kredit Rp 993 triliun pada 2025, tumbuh 7,7% jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
BCA pun memproyeksikan pertumbuhan kredit di 2026 menjadi 8%-10%. Seiring kinerja penyaluran kredit sepanjang 2025 yang tumbuh sekitar 7,7%.
Direktur BCA, Vera Eve Lim mengatakan, BCA melihat prospek pertumbuhan kredit tahun ini lebih positif dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan berharap akselerasi pertumbuhan kredit dapat mulai terlihat sejak kuartal pertama dan berlanjut hingga akhir tahun.
“Memperhatikan pertumbuhan kredit 2025 yang sekitar 7,7%, kami meng-upgrade guidance pertumbuhan kredit menjadi 8%–10%. Kami lebih positif melihat perkembangan tahun ini, mudah-mudahan pertumbuhan kredit bisa lebih cepat dibanding tahun lalu, mulai dari kuartal I dan seterusnya,” ujar Vera.
Baca Juga: Penyaluran Kredit BCA Capai Rp 993 Triliun pada 2025, Ini Faktor Pendorongnya
Dari sisi profitabilitas, BCA memperkirakan tekanan terhadap net interest margin (NIM) akan berlanjut pada 2026. Setelah menutup NIM 2025 di level 5,7%, BCA memproyeksikan NIM tahun ini berada di kisaran 5,4%–5,6%, seiring dampak penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
“Dengan penurunan bunga BI tahun lalu, dampaknya akan lebih terasa di tahun ini. Karena itu, guidance NIM kami berada di kisaran 5,4% hingga 5,6%,” jelasnya.
Sementara itu, dari sisi kualitas aset, BCA tetap menargetkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada pada level yang terkendali. Perseroan membidik NPL tetap terjaga di kisaran 1,8%–2%, tidak jauh berbeda dari posisi saat ini.
“Untuk NPL, kami akan menjaganya tetap stabil di kisaran 1,8% sampai 2%,” pungkas Vera.
Berbeda dengan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) yang masih mencatatkan penurunan laba di tahun 2025. Laba BNI turun 6,6% secara tahunan menjadi Rp 20,04 triliun. Padahal di periode sama tahun sebelumnya labanya capai Rp 21,46 triliun.
Dari sisi pendapatan bunga bersih, BNI tetap mengalami tekanan. Pendapatan bank berlogo 46 di periode ini hanya senilai Rp 40,33 triliun, sedikit turun atau minus 0,4% dari2024 yang senilai Rp 40,48 triliun.
Tak hanya itu, beban biaya pencadangan BNI juga masih membengkak hingga Rp 9,7 triliun. Sebagai perbandingan, pada periode sama tahun sebelumnya, beban tersebut baru sekitar Rp 8,2 triliun.
Meski demikian, portofolio kredit dari BNI tetap mampu mengalami peningkatan. Kredit yang BNI salurkan mencapai Rp 899,53 triliun atau naik 15,9% YoY.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
"Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif," ujar Putrama.
Putrama menegaskan, transformasi BNI tidak hanya berfokus pada penguatan teknologi, tetapi juga mencakup penguatan organisasi dan peningkatan produktivitas secara menyeluruh.
Baca Juga: BNI (BBNI) Cetak Laba Bersih Rp 20 Triliun, Turun 6,97% Secara Tahunan
Upaya tersebut dijalankan melalui peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, optimalisasi jaringan kantor dan pemanfaatan data analytics, serta penguatan platform digital guna meningkatkan kualitas layanan dan customer experience secara berkelanjutan.
Pada penutupan perdagangan bursa (5/2), harga saham BBCA berada di level Rp 7.800 per saham, atau datar 0,00% dibanding penutupan sebelumnya. Saham ini sempat mencapai harga tertinggi Rp 7.925, sebelum kemudian kembali melandai.
Saham BMRI mencatatkan kenaikan 1,00% dibanding penutupan Rabu (4/2), berada di harga Rp 5.050 per saham. Selama perdagangan hari ini, BMRI sempat menyentuh harga tertinggi Rp 5.100.
Penurunan terdalam terjadi pada saham BBNI, yang merosot 1,30% menjadi Rp 4.570 per saham pada penutupan hari ini.
Pergerakan saham bank-bank besar atau big banks cenderung terkoreksi setelah merilis laporan kinerja 2025. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai kondisi ini sebagai fenomena sell on news yang lazim terjadi di pasar saham.
Baca Juga: Saham Bank Mulai Unjuk Gigi, Big Banks Ramai Dikoleksi
Menurutnya, sebagian investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah laporan keuangan dirilis. Meski demikian, tekanan penurunan harga saham dinilai tidak terlalu dalam karena masih ditopang aksi beli investor domestik.
“Fenomena sell on news ini wajar. Investor biasanya ambil untung setelah rilis laporan keuangan, namun penurunannya tertahan karena ada akumulasi dari investor domestik,” ujar Wafi.
Dari sisi fundamental, sektor perbankan diproyeksikan tetap solid pada 2026. Potensi penurunan suku bunga tahun ini dinilai bisa menjadi katalis positif bagi industri perbankan karena berpotensi menurunkan biaya dana (cost of fund/CoF), meningkatkan margin bunga bersih (NIM), sekaligus mendorong permintaan kredit.
Sementara itu, investor asing disebut cenderung melakukan aksi jual bersih (net sell) secara taktis di tengah tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih lesu. Langkah tersebut lebih bersifat rebalancing portofolio ketimbang perubahan pandangan terhadap fundamental perbankan.
Dari sisi valuasi, Wafi menilai saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) saat ini relatif paling murah dibandingkan bank besar lainnya. Adapun PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih dipandang sebagai saham premium dan defensif karena fundamentalnya kuat serta stabilitas kinerjanya terjaga.
Ke depan, prospek saham perbankan dinilai tetap menarik seiring potensi pertumbuhan kredit dan stabilitas sektor keuangan domestik. Ia merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi beli secara bertahap.
Untuk target harga, KISI Sekuritas mematok saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di level Rp5.800 per saham, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp7.600, BBNI Rp6.200, serta BBCA Rp11.200 per saham.
Baca Juga: Big Banks Pimpin Penguatan Sektor Perbankan, Cek Saham yang Menarik Dikoleksi
Selanjutnya: ALI: Bisnis Logistik Berpeluang Tumbuh 6%–8% pada 2026
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 6 Februari 2026, Keadaan Harmonis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













