Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski telah diguyur berbagai stimulus properti yang dibarengi dengan penurunan suku bunga acuan, kredit pemilikan rumah (KPR) tetap lesu di tengah gelombang pelemahan daya beli sepanjang 2025 lalu. Namun, rupanya tren serupa tak terjadi pada perbankan syariah.
Pada sebelas bulan pertama 2026, data sementara Bank Indonesia (BI) mencatat KPR dan kredit permintaan apartemen (KPA) tumbuh 6,9% secara tahunan. Jika dibandingkan, kredit properti lainnya berhasil tumbuh lebih baik, yang mana pertumbuhan kredit konstruksi mencapai 8,1% dan kredit real estate sebesar 8,2%.
Namun begitu, berbagai bank syariah masih berhasil mencetak hasil yang memuaskan. Lihat saja bank syariah terbesar di Indonesia, Bank Syariah Indonesia (BSI). Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengungkapkan, outstanding KPR syariah bank mencapai Rp 69,98 triliun hingga Desember 2025, tumbuh 23,14% dibanding tahun sebelumnya.
Rerata booking per bulan pun mencapai Rp 1 triliun, didominasi pembelian rumah pertama Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar, take over, renovasi, dan kebutuhan griya lainnya. Wisnu bilang bisnis griya bank bakal terus fokus pada pembiayaan rumah pertama di tengah tantangan makroekonomi yang ada.
“Kami juga mengoptimalkan layanan pembelian griya melalui e-channel dan berkolaborasi dengan segmen nasabah ASN, payroll, serta institusi lainnya sebagai salah satu entry gate one stop service BSI,” jelas Wisnu, Rabu (14/1/2026).
Baca Juga: BI Rate Turun, KPR Syariah Tetap Merekah
Tak cuman BSI, berbagai bank syariah lainnya berhasil mencatatkan hasil serupa. Sebut saja Bank Mega Syariah dengan pertumbuhan 37,67% secara tahunan menjadi Rp 103 miliar hingga akhir periode 2025.
Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah Benadicto Alvonzo Ferary melihat pertumbuhan positif itu didorong oleh peningkatan kesadaran nasabah dalam menjadikan properti sebagai instrumen investasi jangka panjang yang aman.
Memasuki tahun 2026, Benadicto bilang KPR syariah tetap memiliki potensi pertumbuhan yang menarik, khususnya pada segmen end-user dan investasi. Namun, pihaknya juga mengamati kondisi makroekonomi global maupun domestik yang ada.
“Sehingga strategi kami di tahun ini adalah pertumbuhan yang berkualitas dan selektif,” sebut Benadicto, Kamis (15/1/2026).
Baca Juga: KPR Syariah: Pilihan Cerdas di Tengah Suku Bunga Tinggi
Pencapaian BCA Syariah di segmen ini juga tak kalah memuaskan, KPR BCA Syariah berhasil tumbuh 24,8% secara tahunan menjadi Rp 1,52 triliun hingga akhir tahun 2025.
Direktur BCA Syariah Pranata menyebut, KPR syariah memang menjadi salah satu instrumen penting dalam bisnis bank dengan proporsi 72,2% dari total pembiayaan konsumer bank. Nah pertumbuhan positif ini, menurutnya, menunjukkan bahwa minat masyarakat memang masih tumbuh.
“Faktor pendukungnya antara lain adalah kepastian cicilan jangka panjang. Kami yakin minat masyarakat akan semakin meningkat seiring dengan pemahaman terhadap kemudahan dan kenyamanan pembiayaan syariah,” kata Pranata, Kamis (15/1/2026).
Menurut pengamat ekonomi syariah sekaligus Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat, kepastian margin pada berbagai produk KPR syariah memang menjadi daya tarik untuk nasabah.
Pasalnya, itu memberikan keleluasaan untuk merancang arus kas tanpa khawatir soal perubahan pola angsuran akibat gejolak suku bunga. Sementara pada KPR bank konvensional, besaran bunga bakal mengikuti suku bunga acuan begitu memasuki masa floating.
Baca Juga: Penyaluran KPR FLPP Bank Mega Syariah Mencapai 85% pada Desember 2025
Selain itu, Emir bilang KPR syariah juga menawarkan keadilan dan transparansi melalui praktik pengungkapan harga perolehan, margin, biaya, serta mekanisme alih kepemilikan yang lebih rinci dalam akad syariah.
“Dipersepsikan mengurangi potensi ‘biaya tersembunyi’ bagi nasabah,” ujar Emir, Jumat (16/1/2026).
Dengan tren pertumbuhan positif pembiayaan syariah, Emir melihat KPR syariah memiliki ruang pertumbuhan double digit pada 2026 ini. Namun, stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap perlu diwaspadai.
Katalis lainnya yaitu keberlanjutan program pemerintah di bidang perumahan rakyat, ekosistem pembiayaan yang didukung OJK, serta inovasi produk dan digitalisasi layanan oleh bank syariah yang menyasar segmen milenial dan keluarga muda.
“Dengan fondasi kebijakan yang mengarah pada perluasan akses kepemilikan rumah serta preferensi masyarakat yang kian positif terhadap produk keuangan syariah, KPR syariah berpotensi tetap menjadi salah satu motor penting dalam pembiayaan perumahan nasional di tahun-tahun mendatang, berdampingan secara komplementer dengan KPR konvensional,” tuturnya.
Baca Juga: KPR iB BCA Syariah Tumbuh 27,1%, Capai Rp1,5 Triliun hingga November 2025
Selanjutnya: CEO AS Mulai Bersuara, Pasar Bebas Tertekan di Era Trump
Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
