kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kredit Bermasalah Segmen Korporasi Perbankan Kian Landai


Selasa, 13 Februari 2024 / 17:40 WIB
Kredit Bermasalah Segmen Korporasi Perbankan Kian Landai
ILUSTRASI. Nasabah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. sedang bertransaksi di salah satu kantor cabang Bank BTN di Jakarta, Kamis (7/10).


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada segmen kredit korporasi perbankan terlihat kian melandai pada tahun 2023. Bahkan beberapa bank telah berhasil menekan rasio kredit macetnya di segmen korporasi.

Seperti, NPL kredit korporasi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melandai ke 0,1% per Desember 2023. Sementara di periode yang sama tahun lalu masih tercatat berada di level 0,6%.

Kredit macet pada segmen korporasi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga melandai ke 0,9% pada Desember 2023 dari 2,1% pada 2022. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga tercatat melandai menjadi 0,31% dari 0,90% pada tahun 2022.

Baca Juga: Agar Orang Bisa KPR, BTN Dukung Program KPR 35 Tahun

Adapun kredit macet pada segmen korporasi di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih terlihat tinggi kendati sudah melandai secara yoy mencapai 3,86% pada 2023 dari 4,68% pada 2022.

Sementara krdit macet pada segmen korporasi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berkontribusi sebesar 48,1% terhadap total NPL perseroan per 2023, menurun dari posisi 2022 yang berada di level 54,5%.

Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo menyebut, melandainya kredit macet pada segmen korporasi karena, pihaknya berhasil menyelesaikan beberapa account bermasalah di segmen korporasi.

"Tidak ada hapus buku di segmen ini dan kuncinya memang selektif dengan target market, fokus sektor sesuai portfolio guideline dan fokus kepada korporasi dan konglomerasi besar," ungkap Setiyo kepada kontan.co.id, Selasa (13/2).

Di tahun ini pihaknya pun menargetkan kredit macet korporasi masih dapat terjaga paling tidak, sama dengan tahun 2023.

Sementara Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menjelaskan, penurunan rasio NPL korporasi ini dikarenakan downgrade NPL korporasi yang juga ikut menurun.

Novita menjelaskan, kontributor NPL korporasi pada 2023 masih didominasi oleh kredit pada sektor usaha perdagangan, hotel dan restoran, layanan bisnis, dan manufaktur.

"Momentum perbaikan ini kami yakini akan terus berlanjut seiring dengan upaya penanganan debitur watchlist dan ekspansi yang berkualitas pada debitur unggulan," ungkap Novita.

Lebih lanjut Novita menyampaikan, BNI akan terus proaktif mengawal pemulihan dari sektor yang masih terdampak.

Selain itu, kata Novita pelaksanaan Hapus Buku juga di laksanakan dengan prudent dengan prioritas pada debitur yang sudah dilakukan upaya penagihan secara optimal, dan dengan CKPN sudah terbuku 100%. 

"Tentunya setelah hapus buku dilakukan tetap disertai upaya penagihan yang optimal agar dapat menyumbang loan recovery ke BNI di kemudian hari," katanya.

Dalam menjaga kualitas kredit pada segmen korporasi, BNI terus berupaya melakukan perbaikan dengan optimalisasi sistem dan prosedur pengelolaan portofolio kredit bermasalah, menjalankan restrukturisasi debitur NPL yang masih memiliki prospek, dan optimalisasi kerjasama oleh pihak ketiga.

Baca Juga: Perbankan Catat Penurun Loan at Risk Jelang Restrukturisasi Kredit Covid 19 Berakhir

Menurutnya, melalui eksekusi strategi pengelolaan kualitas aset dengan disiplin dan didukung kondisi makro yang kondusif, BNI memperkirakan rasio NPL BNI secara bank-wide akan menurun pada tahun ini.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn juga menerangkan, penurunan NPL BCA utamanya didorong oleh pemulihan arus kas debitur seiring dengan perbaikan aktivitas perekonomian, serta BCA yang terus menerapkan disiplin manajemen risiko dalam penyaluran kredit. 

Di samping faktor utama pemulihan arus kas debitur, penurunan NPL juga disebut Hera didukung oleh penghapusbukuan kredit yang merupakan salah satu strategi industri perbankan dalam mencapai target NPL, tak terkecuali BCA. Penghapusbukuan dilakukan secara selektif, dan dilakukan terhadap fasilitas sudah lama bermasalah (macet) namun belum berhasil dilakukan penagihan sepenuhnya. 

"Ditopang oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang positif dan likuiditas yang solid, BCA tetap optimistis dalam penyaluran kredit dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, sehingga kualitas pinjaman tetap terjaga. BCA juga secara berkala melakukan monitoring terhadap kualitas kredit di setiap segmen," imbuhnya.

Amin Nurdin, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) menilai, menurunnya kredit macet pada segmen korporasi dikarenakan sudah adanya perbaikan proses, selected market, juga restrukturisasi.

Baca Juga: Jumlah KPR Bermasalah di Indonesia Mencapai Rp 17,7 Triliun

"Perbaikan NPL juga akan membuka peluang ekspansi ke depan, karena pasar masih terbuka, dan rencana investasi dan pengembangan usaha juga masih ada. Hal ini juga akan membuat kredit pada sektor ini tumbuh meski landai," jelasnya.

Amin membeberkan strategi agar kredit macet korporasi tetap terjaga di tahun ini, yakni dengan melakukan penyempurnaan proses bisnis, selected segmen, juga melakukan kolaborasi dan sindikasi, intinya adalah berbagi risiko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×