kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Kredit Perbankan Tumbuh 13%, BI: Kredit di Luar Program Pemerintah Meningkat


Rabu, 21 Oktober 2026 / 19:59 WIB
Kredit Perbankan Tumbuh 13%, BI: Kredit di Luar Program Pemerintah Meningkat
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja kredit industri perbankan agak melambat, meski masih di dalam target. Namun begitu, Bank Indonesia (BI) memastikan kinerja lebih merata antarbank. 

Hingga September 2026, BI mencatat kredit perbankan tumbuh 13,26% secara tahunan (year-on-year/yoy), agak melambat dari pertumbuhan 13,65% yoy pada bulan sebelumnya. 

Berdasarkan jenisnya, kredit investasi dan konsumsi kompak melambat. Kredit investasi tercatat tumbuh 23,2% yoy atau melambat dari pertumbuhan 25,11% dan kredit konsumsi tumbuh 4,86% yoy atau melambat dari pertumbuhan 5,07% yoy. 

Sementara itu, kredit modal kerja berhasil tumbuh 11,89% yoy atau melaju dari pertumbuhan 11,45% yoy pada bulan sebelumnya. 

Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 13,26% pada September 2026, Ini Penopangnya

Menariknya, Gubernur BI Destry Damayanti menyebut kredit korporasi yang tak terkait dengan program pemerintah juga meningkat. Sayang, ia tak merincikan nilai realisasinya. 

Berdasarkan sektornya, kredit perbankan banyak mengalir ke industri pengolahan yang tumbuh 14,6% yoy, sektor pertambangan yang tumbuh 15,1%, sektor konstruksi yang tumbuh 10,6%, serta sektor pengangkutan yang tumbuh 13,4% yoy. 

BI memandang sektor-sektor ini masih bakal menjadi penopang kinerja kredit hingga akhir tahun. Pun, BI mencermati kinerja korporasi secara umum mulai membaik sehingga permintaan kredit masih bakal kencang. 

Di luar itu, potensi pertumbuhan kredit juga didukung oleh fasilitas kredit yang belum dicairkan alias undisbursed loan yang masih tinggi, yakni mencapai Rp 2.562,57 triliun atau 21,7% dari plafon kredit yang tersedia. 

Hanya saja, prospek penyaluran kredit dihadapkan pada kondisi likuiditas perbankan yang perlu diperhatikan. Pasalnya, dana pihak ketiga (DPK) bank dalam periode ini cuman tumbuh 8,22% yoy, kian melambat dari pertumbuhan 10,95% yoy pada bulan sebelumnya. 

GWM Diturunkan

Untuk mengantisipasi ketatnya likuiditas di akhir tahun, BI turut memperbarui kebijakan moneter dan makroprudensial melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM). 

GWM bakal diturunkan untuk bank konvensional dari 9% menjadi 8% dan untuk bank syariah dari 7,5% menjadi 6,5% mulai 1 November 2026. Lalu pada 1 Desember 2026, GWM keduanya kembali diturunkan sebesar 1%. 

“Penurunan GWM hingga 2% artinya akan ada tambahan, dalam hitungan kami, sekitar Rp 190 triliun,” sebut Destry dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2026). 

Baca Juga: Kualitas Kredit Korporasi Ditentukan Kemampuan Bayar Debitur

Selain itu, BI menyesuaikan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan menurunkan maksimal insentif dari 6% menjadi 5%. Yang mana, insentif financing channel turun dari maksimal 4% menjadi 3%, sementara insentif pendalaman pasar uang (PPU) tetap 2%. 

Penyesuaian batas maksimal insentif financing channel ini dimaksudkan untuk memperluas penyaluran kredit ke sektor-sektor selain prioritas. 

Di level perbankan, sejatinya kinerja kredit memang belum seragam. Hingga Agustus 2026, Himbara masih kompak mencatatkan pertumbuhan kredit double digit. Kredit Bank Mandiri tumbuh 17,64% yoy, Bank Negara Indonesia (BNI) tumbuh 27,14% yoy, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) tumbuh 13,66% yoy. 

Sementara itu, kinerja bank swasta lebih beragam. Dalam periode yang sama, kredit Bank Central Asia (BCA) masih tumbuh 10,52% yoy, tetapi Maybank Indonesia hanya tumbuh 4,01% yoy, CIMB Niaga tumbuh 6,08% yoy, bahkan SMBC Indonesia terkoreksi tipis 0,11% yoy. 

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut, sejatinya kinerja kredit bank ditopang oleh penyaluran ke segmen wholesale maupun ritel yang dilakukan secara terukur, dengan tetap mengedepankan kualitas pembiayaan dan disiplin manajemen risiko. 

Novita optimistis kinerja kredit Bank Mandiri saat ini mencerminkan pengelolaan neraca keuangan yang sehat dan efisien. Sebab pada dasarnya, bank tak semata mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga menjaga kesiapan likuiditas di berbagai kondisi pasar. 

“Bagi kami, pertumbuhan harus berjalan seiring dengan ketahanan,” ujar Novita. 

Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku belum melihat sinyal pertumbuhan kredit yang lebih masif di akhir tahun nanti. Sebab, biaya dana yang mahal membuat bank mau tak mau mematok bunga kredit yang lebih tinggi dan itu berisiko menghambat permintaan kredit. 

Apalagi, di sektor usaha kecil dan menengah (UKM) serta ritel yang masih lesu akibat lemahnya daya beli. Ia bilang pihaknya lebih mengandalkan kredit korporasi untuk menggenjot kinerja ke depannya. 

SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan melihat potensi perlambatan kredit yang lebih lanjut tetap terbuka mengingat pertumbuhan DPK masih tertinggal dibandingkan kredit, biaya dana relatif tinggi, serta adanya tekanan kualitas aset yang mendorong perbankan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan. 

Namun begitu, menurutnya prospek kredit hingga akhir tahun berpeluang membaik seiring dengan realisasi belanja pemerintah, serta momentum libur natal dan tahun baru yang mendorong belanja masyarakat.

Baca Juga: Ini Strategi BPR Pacu Penyaluran Kredit hingga Akhir Tahun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×