Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kencangnya laju pertumbuhan kredit industri belum tercermin di sejumlah bank swasta besar. Momentum akhir tahun nampaknya juga belum cukup mendorong realisasi yang lebih masif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan nasional tumbuh 13,65% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 9.178 triliun per Agustus 2026. Asal tahu saja, itu telah melampaui target pertumbuhan kredit yang dipatok di rentang 10%–12% tahun ini.
Kendati begitu, kinerja kredit saat ini masih banyak didorong oleh bank milik negara dengan catatan pertumbuhan hingga 16,41% yoy. Pun, penyaluran kredit di sejumlah bank swasta besar terpantau memang belum bergairah.
CIMB Niaga dengan total pembiayaan secara bank only yang hanya tumbuh 4,39% yoy menjadi Rp 228,43 triliun dan Maybank Indonesia yang naik 4,01% yoy menjadi Rp 111,43 triliun per Agustus 2026. Di SMBC Indonesia, penyaluran kredit bahkan mengalami koreksi tipis 0,11% yoy menjadi Rp 147,43 triliun dalam periode yang sama.
Baca Juga: Kredit Bank Tumbuh 13,65%, Kredit Berisiko Ikut Naik Jadi Rp 785,6 Triliun
Sementara itu, kredit Bank Central Asia (BCA) mulai melaju dengan catatan pertumbuhan 10,52% yoy menjadi Rp 1.017,7 triliun per Agustus 2026. Pun, Permata Bank dan Bank Danamon masing-masing mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 9,5% yoy menjadi Rp 174,11 triliun dan 15,81% yoy menjadi Rp 188,55 triliun dalam periode yang sama.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menjelaskan, pada dasarnya tren kredit antarbank memang bakal berbeda, tergantung komposisi debitur, biaya dana, dan kualitas aset yang dimiliki.
Di luar itu, menurutnya jika sejumlah bank swasta tetap menjaga pertumbuhan kredit di level konservatif, artinya permintaan kredit yang layak masih terbatas dan ada tekanan terhadap imbal hasilnya.
Momentum akhir tahun umumnya membuka peluang percepatan kredit seiring masifnya realisasi proyek korporasi. Namun, dalam pandangan Rizal, bank perlu membedakan antara kredit untuk memenuhi penjualan yang meningkat dan kredit untuk menutup kekurangan kas akibat penjualan yang lemah.
“Keduanya sama-sama menambah penyaluran, tetapi membawa risiko yang berbeda. Pertumbuhan lebih masif membutuhkan kepastian permintaan dan kemampuan membayar, sebab tambahan likuiditas tidak otomatis membuat pengusaha berani berekspansi,” jelas Rizal kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku pihaknya belum melihat potensi pertumbuhan kredit yang lebih masif di sisa tahun ini. Selagi biaya dana masih mahal di iklim suku bunga tinggi, menurutnya debitur juga bakal lebih cermat dalam mengajukan kredit.
Baca Juga: Kredit Tumbuh 13,65%, DPK Hanya 10,94%, OJK Pastikan Likuiditas Memadai
“Dunia usaha juga menghitung kembali, apakah masih layak untuk investasi dengan pinjaman bank dibanding perhitungan margin,” ujarnya. Maka dari itu, CIMB Niaga masih mematok target pertumbuhan kredit di kisaran 4%–5%.
Meski begitu, ia bilang kondisi di segmen korporasi tetap lebih baik ketimbang ritel. Proyeksi Lani, hingga akhir tahun ini pertumbuhan bakal tetap lebih banyak didorong oleh kredit korporasi, sedangkan kredit konsumer masih rendah akibat daya beli yang juga lemah.
Direktur Community Financial Services Maybank Indonesia, Bianto Surodjo juga mengaku masih melihat potensi pertumbuhan kredit, meski memang permintaan masih terasa lemah.
Mendekati musim liburan, ia bilang sejumlah segmen kredit konsumsi, misal kartu kredit dan kredit tanpa agunan, biasanya bakal terdorong. Pihaknya juga masih mengharapkan pertumbuhan kredit kendaraan bermotor melalui sejumlah anak usaha.
Di luar itu, Bianto optimistis masih ada potensi yang bisa digali dari segmen usaha kecil dan menengah (UKM). Meski begitu, sebagai respons atas volatilitas ekonomi, ia mengaku tetap berhati-hati dalam penyaluran kredit. “Pengaruh dari masalah geopolitik dunia berpengaruh pada ekonomi kita,” sebutnya.
Baca Juga: Kredit Berisiko Perbankan Melandai Seiring Terbatasnya Penyaluran ke Sektor High-Risk
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














