Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada semester I 2026 masih mencatat pertumbuhan laba yang kuat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, tekanan terhadap margin bunga bersih alias net interest margin (NIM), likuiditas, dan kapasitas permodalan mulai menjadi perhatian investor.
Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafrudin dalam riset 24 Juli 2026 menyebutkan BMRI membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) sebesar Rp 15 triliun pada kuartal II 2026. Angka tersebut turun 2,3% secara kuartalan namun meningkat 33,5% secara tahunan.
Dengan capaian tersebut, laba bersih BMRI sepanjang semester I 2026 mencapai Rp 30,4 triliun atau tumbuh 24,4% secara year on year (yoy). Pertumbuhan laba terutama ditopang oleh penurunan biaya operasional dan pencadangan, serta kontribusi pendapatan berbasis komisi (non-interest income) yang tetap kuat.
Baca Juga: Dapen Tambah Kepemilikan di SBN dan Kurangi Saham, AXA Mandiri: Risikonya Rendah
Meski demikian, momentum kinerja secara kuartalan mulai mengalami pelemahan. Pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) pada kuartal II 2026 turun 9,0% quarter on quarter (qoq) menjadi Rp 22,8 triliun, seiring penurunan pendapatan bunga sebesar 5,0% qoq. Sementara pendapatan non-bunga hanya meningkat 2,2% coq menjadi Rp 11,5 triliun.
Penurunan pendapatan tersebut sebagian tertahan oleh biaya operasional yang turun 7,6% QoQ. Namun, laba operasional sebelum pencadangan alias pre-provision operating profit (PPOP) tetap terkoreksi 4,6% QoQ menjadi Rp21,6 triliun.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit konsolidasi BMRI mencapai Rp 1.677 triliun, tumbuh 18,8% yoy dan 3,9% qoq. Pertumbuhan terutama didorong oleh kredit korporasi yang menyumbang 50,1% dari total portofolio dan meningkat 33,6% YoY.
Namun, Mirae Asset mencermati percepatan kredit tersebut sebagian berasal dari peningkatan kredit kepada pihak berelasi. Kredit terkait pihak berelasi meningkat 12,8% sepanjang tahun berjalan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit non-pihak berelasi yang hanya 4,1%.
Di sisi pendanaan, pertumbuhan deposito berjalan lebih lambat dibandingkan kredit. Total deposito meningkat 17,1% YoY dan 1,9% QoQ menjadi Rp1.763 triliun. Kenaikan terutama berasal dari deposito berjangka yang melonjak 54,4% YoY dan 5,4% QoQ, sementara dana murah (CASA) hanya naik 0,4% QoQ.
Akibatnya, rasio CASA konsolidasi turun menjadi 69,2% dari 76,6% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) bank secara individual meningkat menjadi 92,7%.
Kondisi tersebut turut menekan profitabilitas. Imbal hasil kredit (loan yield) bank secara individual turun menjadi 6,91% pada kuartal II 2026 dari 7,11% pada kuartal sebelumnya. Sebaliknya, biaya dana deposito meningkat menjadi 2,04% dari 1,97%, sehingga NIM konsolidasi turun menjadi 4,56% pada semester I 2026.
Baca Juga: Laba Bersih Pegadaian Melonjak 84,59%, Tembus Rp 6,59 Triliun di Semester I-2026
Manajemen BMRI tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun penuh 2026 sebesar 7%-9%. Hingga semester I 2026, pertumbuhan kredit telah mencapai 6,4% secara tahunan berjalan. Namun, permintaan kredit diperkirakan akan melandai pada semester II 2026.
Yang menjadi perhatian utama adalah revisi target NIM. Manajemen menurunkan proyeksi NIM konsolidasi menjadi 4,3%-4,5% dari sebelumnya 4,5%-4,7%.
Menurut Nurkholis, penurunan panduan tersebut mencerminkan tekanan biaya pendanaan yang masih tinggi, likuiditas sistem perbankan yang lebih ketat, serta penurunan imbal hasil kredit baru, khususnya kredit pihak berelasi yang memiliki tingkat bunga lebih rendah.
Manajemen memperkirakan tekanan NIM masih berlanjut hingga kuartal III 2026 sebelum berpotensi stabil. Sementara itu, target biaya kredit (cost of credit/CoC) tetap dipertahankan pada kisaran 0,6%-0,8%, sedangkan rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) diproyeksikan berada di level 39%-41%.
Mirae Asset Sekuritas mempertahankan pandangan negatif terhadap saham BMRI karena kenaikan imbal hasil kredit diperkirakan tidak akan mampu mengejar kenaikan biaya dana dalam kondisi likuiditas yang semakin ketat.
Selain tekanan margin, Mirae Asset juga melihat potensi risiko dari sektor konstruksi yang menjadi salah satu eksposur kredit terbesar BMRI, dengan porsi 9,14% dari total kredit. Meski rasio kredit bermasalah (NPL) sektor konstruksi masih rendah, yakni 0,12% pada semester I 2026, analis menilai kebutuhan pencadangan tambahan tetap perlu diantisipasi mengingat meningkatnya risiko pada sektor tersebut.
Dengan kondisi tersebut, rasio biaya kredit konsolidasi BMRI sebesar 61 basis poin pada semester I 2026 dinilai berpotensi sulit dipertahankan.
Perhatian lain berasal dari sisi permodalan. Mirae Asset menilai kapasitas modal BMRI menjadi tantangan apabila perseroan ingin terus meningkatkan penyaluran kredit sekaligus mempertahankan tingkat pembayaran dividen sebesar 60%-70%.
Pada semester I 2026, rasio modal inti utama (CET1) bank secara individual turun menjadi 16,4%, sementara rasio kecukupan modal (CAR) berada di 17,5%. Penurunan lebih lanjut dapat membatasi kemampuan BMRI memperluas neraca, terutama apabila tekanan kualitas aset meningkat.
Baca Juga: Laba CTBC Bank Turun 36,5% di Semester I-2026
Dengan mempertimbangkan risiko margin, kebutuhan pencadangan, serta keterbatasan modal, Mirae Asset masih berhati-hati terhadap prospek BMRI dalam beberapa kuartal ke depan.
Mirae Asset tidak memberi rekomendasi saham BMRI. Hingga pukul 11.25 WIB saham BMRI turun 0,48% di level Rp 4.110 per saham pada Senin (27/7/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














