kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -12.000   -0,46%
  • USD/IDR 18.083   -13,00   -0,07%
  • IDX 6.091   -39,20   -0,64%
  • KOMPAS100 796   -3,58   -0,45%
  • LQ45 607   -1,51   -0,25%
  • ISSI 210   -1,41   -0,67%
  • IDX30 341   -0,73   -0,21%
  • IDXHIDIV20 422   -0,86   -0,20%
  • IDX80 91   -0,33   -0,36%
  • IDXV30 115   -0,50   -0,43%
  • IDXQ30 109   -0,23   -0,21%

Laba Bank Jago (ARTO) Tumbuh 49%, Analis Rekomendasi Hold Efek Tekanan Likuiditas


Selasa, 28 Juli 2026 / 17:10 WIB
Laba Bank Jago (ARTO) Tumbuh 49%, Analis Rekomendasi Hold Efek Tekanan Likuiditas
ILUSTRASI. Bank Jago (KONTAN/Lydia Tesaloni)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bank Jago Tbk (ARTO) menunjukkan perbaikan pada kuartal II 2026. Ini seiring pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat dan pengendalian biaya yang tetap terjaga. Meski demikian, tekanan likuiditas di industri perbankan membuat Bank Jago menurunkan target pertumbuhan kredit tahun ini.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Handy Noverdanius dalam riset 23 Juli 2026, mengatakan laba bersih ARTO pada kuartal II 2026 meningkat 20% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi Rp 103 miliar. Kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat, sementara beban operasional dan biaya pencadangan masih terkendali.

Dengan capaian tersebut, laba bersih ARTO sepanjang semester I 2026 mencapai Rp 189 miliar atau tumbuh 49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi ini setara dengan 50% dari proyeksi laba bersih CGS International untuk tahun penuh, namun baru mencapai 43% dari konsensus Bloomberg.

Baca Juga: Prudential Syariah Dorong Layanan Proteksi Anak Sejak Dini

Hingga akhir 2026, Handy memperkirakan laba bersih ARTO bisa mencapai Rp 376 miliar dan tahun 2027 sebesar Rp 599 miliar. 

"Kinerja semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid, terutama didukung oleh peningkatan pendapatan bunga bersih dan kontribusi pendapatan berbasis biaya yang terus berkembang," ujar Handy dalam risetnya.

Pada periode yang sama, pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) ARTO tumbuh 28% secara tahunan, sejalan dengan pertumbuhan kredit sebesar 24% secara year on year (yoy). Sementara itu, biaya dana (funding cost) masih stabil di level 3,5%.

Meski demikian, manajemen ARTO memperkirakan biaya dana akan meningkat secara bertahap pada paruh kedua 2026 sekitar 50-60 basis poin seiring dengan kenaikan suku bunga deposito berjangka alias time deposit (TD). Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap margin bunga bersih alias net interest margin (NIM).

Hingga semester I 2026, NIM ARTO tercatat sebesar 8,5%, sedangkan NIM khusus pinjaman (loan-only NIM) berada di level 9,9%.

Di sisi lain, strategi memperkuat layanan transaksi mulai membuahkan hasil. Pendapatan berbasis biaya (fee-based income) ARTO meningkat 40% yoy menjadi Rp 285 miliar pada semester I 2026.

Handy menyebut, peningkatan tersebut sejalan dengan fokus Bank Jago dalam mengembangkan kapabilitas layanan transaksional. Dalam paparan analis pada 23 Juli 2026, manajemen ARTO menyampaikan aspirasi agar kontribusi fee-based income dapat mencapai 20% terhadap total pendapatan operasional selama periode 2026-2028.

Baca Juga: Laba BCA Naik Jadi Rp 29,5 Triliun pada Semester I-2026

Di tengah kondisi likuiditas dana pihak ketiga (DPK) yang semakin ketat di sistem perbankan serta ketidakpastian ekonomi makro, ARTO merevisi turun target pertumbuhan kredit tahun 2026.

Sebelumnya, ARTO menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 25-30% yoy, namun kini diturunkan menjadi 20-25% yoy.

Menurut Handy, langkah tersebut mencerminkan strategi konservatif manajemen untuk menjaga fleksibilitas likuiditas dan kualitas aset. Hingga semester I 2026, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) ARTO mencapai 96%.

"Manajemen memilih menjaga buffer likuiditas serta mengelola kualitas aset secara hati-hati di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian," kata Handy.

Meski target pertumbuhan kredit diturunkan, ARTO tetap mempertahankan panduan biaya kredit (credit cost) tahun 2026 sebesar 4,5%. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) juga diperkirakan tetap berada di sekitar 0,8% sepanjang tahun.

Pada semester I 2026, credit cost ARTO tercatat sebesar 4,3%, sementara NPL berada di level 0,8%. Manajemen mengakui terdapat sedikit penurunan kualitas kredit menjelang akhir kuartal II 2026, meski sebagian dipengaruhi faktor musiman, seperti periode libur sekolah.

Selain pertumbuhan organik, ARTO juga membuka peluang ekspansi melalui aksi anorganik. Manajemen menyatakan tetap terbuka terhadap peluang akuisisi apabila ukuran bisnis dan potensi sinergi yang ditawarkan dinilai menarik.

Menurut Handy, sektor peer-to-peer (P2P) lending dan buy now pay later (BNPL) menjadi beberapa segmen yang dianggap strategis apabila tersedia peluang akuisisi yang sesuai.

Sementara itu, peluang ekspansi melalui akuisisi di sektor pembiayaan kendaraan (auto financing) dinilai masih terbatas karena sebagian besar pemain berkualitas di sektor tersebut telah dimiliki oleh bank atau lembaga keuangan lain.

CGS International menyesuaikan metode penentuan target harga saham ARTO dengan menggunakan asumsi tingkat bebas risiko (risk-free rate) dan premi risiko pasar (market risk premium) yang lebih tinggi, mengikuti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun.

Baca Juga: Kepesertaan Dana Pensiun Sukarela Sulit Tumbuh, Ini Penyebabnya

Meski demikian, target harga berbasis metode Gordon Growth Model (GGM) tetap berada di level Rp 1.400 per saham.

CGS International mempertahankan rekomendasi Hold untuk saham ARTO. Handy menilai pertumbuhan kredit yang lebih lambat serta tingginya biaya kredit di tengah ketidakpastian ekonomi masih menjadi faktor pembatas bagi kinerja perseroan.

Adapun katalis positif (upside risks) berasal dari pertumbuhan kredit yang lebih baik dari perkiraan serta kualitas aset yang tetap terjaga. Sementara risiko penurunan (downside risks) mencakup memburuknya kualitas kredit, khususnya pada segmen ritel, serta persaingan penghimpunan dana pihak ketiga yang semakin ketat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×