CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   4.000   0,15%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

OJK Ungkap 3 Tantangan yang Mengintai Bank Digital, Ada Ancaman Siber dan AI


Minggu, 13 September 2026 / 11:24 WIB
OJK Ungkap 3 Tantangan yang Mengintai Bank Digital, Ada Ancaman Siber dan AI
ILUSTRASI. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae (DOK/Lydia Tesaloni)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan industri perbankan digital untuk mewaspadai tiga tantangan utama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan semakin terintegrasinya layanan keuangan dengan berbagai platform digital.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, tiga tantangan tersebut meliputi kemandirian infrastruktur teknologi informasi (TI), penguatan keamanan siber dan fraud, serta kesiapan bank dalam menghadapi perkembangan teknologi baru atau emerging technology.

Baca Juga: BRI Bersama Holding Ultra Mikro Layani 33,8 Juta Debitur di Semester I-2026

Menurut Dian, kemandirian infrastruktur TI menjadi penting karena masih terdapat bank digital yang mengandalkan infrastruktur teknologi milik pihak lain, termasuk perusahaan induk.

“Hal tersebut berdampak pada fleksibilitas bank digital dalam pengembangan TI dan inovasi digital, khususnya apabila perusahaan itu memiliki fokus pengembangan yang berbeda,” ujar Dian, dikutip Minggu (13/9/2026).

Karena itu, bank digital perlu meningkatkan kemandirian infrastruktur TI untuk menjaga keberlangsungan operasional sekaligus memberikan keleluasaan dalam mengembangkan inovasi sesuai dengan strategi bisnis masing-masing.

Tantangan berikutnya adalah meningkatnya ancaman siber dan fraud. Dian menyoroti sejumlah insiden serangan siber dan fraud yang terjadi di industri perbankan dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: El Nino Mengancam, OJK Waspadai Dampaknya ke Pembiayaan Multifinance

Menurut dia, risiko tersebut tidak hanya berasal dari sistem internal bank, tetapi juga dapat muncul dari pihak ketiga yang terhubung dengan sistem perbankan.

Di satu sisi, bank digital dituntut membuka konektivitas dengan berbagai platform dan aplikasi untuk membangun ekosistem digital.

Namun, semakin luas konektivitas tersebut, semakin besar pula potensi celah keamanan jika tidak diimbangi dengan sistem pengamanan TI yang memadai.

“Bank digital perlu memiliki sistem pengamanan TI yang memadai sehingga mampu tetap resilien di tengah ancaman siber yang ada saat ini,” kata Dian.

Tantangan ketiga berkaitan dengan kemampuan bank menghadapi perkembangan emerging technology. Teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), blockchain, distributed ledger technology (DLT), hingga quantum computing dinilai perlu menjadi perhatian industri perbankan digital.

Dian mengatakan, bank tidak hanya perlu memahami potensi manfaat teknologi tersebut, tetapi juga mengantisipasi risiko yang dapat muncul dari penggunaannya maupun penyalahgunaannya.

Baca Juga: LPS Kejar Target Aktivasi Penjaminan Polis, Progres Persiapan Sudah 80,76%

AI menjadi salah satu teknologi yang mendapat perhatian khusus seiring penggunaannya yang semakin luas di sektor keuangan. Di sisi lain, pengembangan AI di Indonesia masih berada pada tahap awal.

Menurut Dian, pemanfaatan AI yang semakin luas juga berpotensi meningkatkan ketergantungan bank terhadap penyedia teknologi pihak ketiga. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan konsentrasi pasar pada sejumlah penyedia teknologi dominan.

Penggunaan teknologi yang seragam juga berpotensi membuat perilaku dan pola pengambilan keputusan antar-institusi keuangan menjadi semakin mirip.

Oleh karena itu, Dian menilai adopsi AI dan teknologi baru di sektor perbankan harus dibarengi dengan tata kelola, pengawasan dan manajemen risiko yang memadai.

“Dengan begitu manfaat inovasi dapat diperoleh tanpa mengorbankan stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan,” pungkas Dian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×