Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat pada perdagangan Rabu (29/7/2026), sehari setelah perseroan merilis laporan keuangan semester I-2026.
Penguatan ini terjadi di tengah kinerja laba yang masih tumbuh positif serta optimisme analis terhadap prospek bank swasta terbesar di Indonesia tersebut pada paruh kedua tahun ini.
Pada penutupan perdagangan, saham BBCA naik 0,80% ke level Rp 6.275 per saham. Meski sempat dibuka melemah di posisi Rp 6.175, saham BBCA berhasil berbalik menguat hingga akhir sesi.
Namun, secara jangka pendek kinerja saham BBCA masih berada dalam tekanan. Dalam sepekan terakhir, saham ini terkoreksi 3,46%, sedangkan secara year to date (YTD) telah melemah 22,29%.
Dari sisi fundamental, BCA membukukan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun pada semester I-2026, meningkat 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 29 triliun.
Baca Juga: Bank Mandiri Dukung Pembayaran Tiket MRT Jakarta dengan Kartu Kredit Nirsentuh
Pertumbuhan laba tersebut didukung oleh kenaikan operating income sebesar 2,2% secara tahunan menjadi Rp 55,8 triliun. Meski demikian, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) turun 0,6% menjadi Rp 42,4 triliun akibat tekanan pada net interest margin (NIM) di tengah tingginya biaya dana.
Kredit BCA Tembus Rp 1.000 Triliun
Di tengah tantangan likuiditas industri perbankan, BCA mencatatkan tonggak baru dengan total penyaluran kredit yang untuk pertama kalinya melampaui Rp 1.000 triliun.
Hingga akhir Juni 2026, total kredit BCA mencapai Rp 1.036 triliun atau tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi pembiayaan produktif yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
"Kami berterima kasih atas kepercayaan seluruh nasabah sehingga BCA dapat terus tumbuh dan memberikan layanan terbaik. Kinerja pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai inisiatif, termasuk BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor," ujar Hendra dalam paparan kinerja, Selasa (28/7/2026).
Kontributor utama berasal dari kredit produktif yang mencapai Rp 802 triliun atau meningkat 11% secara tahunan.
Secara rinci, kredit korporasi tumbuh 13,6% menjadi Rp 513,4 triliun, sementara kredit komersial dan usaha kecil menengah (UKM) meningkat 6,6% menjadi Rp 288,5 triliun.
Dana Murah Tetap Mendominasi
Di sisi pendanaan, BCA masih mempertahankan struktur dana yang kuat melalui dominasi dana murah atau current account saving account (CASA).
Dana giro dan tabungan naik 10,2% secara tahunan menjadi Rp 1.082 triliun. Alhasil, total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,9% menjadi Rp 1.284 triliun.
Baca Juga: Undisbursed Loan KB Bank Turun 75%, Bos KB Bank: Pipeline Kredit Tetap Kuat
Rasio CASA juga tetap tinggi di level 84,3%, mencerminkan kemampuan perseroan menjaga biaya dana tetap kompetitif di tengah ketatnya likuiditas industri.
Sementara itu, kualitas aset masih terjaga dengan loan at risk (LaR) sebesar 4,9% dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 1,9%.
Analis: Kinerja Sesuai Ekspektasi
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai kinerja BBCA pada semester I-2026 secara umum masih sesuai dengan ekspektasi pasar.
Menurutnya, laba bersih yang telah dicapai setara sekitar 48%-49% dari proyeksi laba sepanjang tahun sehingga perseroan masih berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target kinerja 2026.
"Pertumbuhan laba memang relatif moderat karena masih tertekan oleh penurunan net interest margin (NIM) akibat biaya dana yang lebih tinggi di tengah kondisi likuiditas yang ketat. Namun tekanan tersebut sebagian besar diimbangi oleh pertumbuhan kredit yang tetap solid serta biaya pencadangan yang masih rendah," ujar Andrey.
Ia juga menilai prospek BBCA pada semester II-2026 masih positif. Hal itu didukung oleh target pertumbuhan kredit sebesar 8%-10% yang tetap dipertahankan manajemen serta potensi perbaikan NIM seiring repricing kredit dan meningkatnya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan likuiditas yang masih ketat, Andrey memandang BCA memiliki posisi yang lebih defensif dibandingkan bank-bank lain.
"BBCA berada pada posisi yang relatif lebih defensif dibanding bank lain berkat dominasi dana murah sekitar 85%, kualitas aset yang tetap baik, dan basis nasabah yang kuat," katanya.
Potensi Dividen dan Rekomendasi Saham
RHB Sekuritas memperkirakan BCA akan mempertahankan dividend payout ratio di kisaran 70%.
Dengan asumsi tersebut, dividen tahun buku 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp 345-Rp 350 per saham, yang setara dengan dividend yield sekitar 5,5%-6% berdasarkan harga saham saat ini.
Menurut Andrey, prospek dividen tersebut masih menarik karena didukung kualitas laba yang tinggi, arus kas yang kuat, serta posisi permodalan yang solid.
"Dengan rasio CET-1 di atas 26%, BBCA memiliki ruang yang cukup untuk tetap membagikan dividen yang konsisten sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis," ujarnya.
Berdasarkan prospek tersebut, RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 7.740 per saham.
Target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan (upside) sekitar 24% dari harga penutupan Rabu (29/7/2026). Selain peluang capital gain, investor juga berpotensi memperoleh dividend yield sekitar 5%-6%.
"Valuasi BBCA saat ini sudah cukup menarik setelah koreksi harga saham, sementara fundamental perusahaan tetap kuat dan prospek pemulihan margin pada semester II berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja maupun harga saham," tutup Andrey.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














