Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Negeri Indonesia Tbk (BNI) berhasil memacu laju profitabilitasnya di mendekati akhir ujung kuartal II-2026 ini.
Berdasarkan laporan keuangannya, bank berkode saham BBNI ini berhasil mencetak laba bersih secara bank only sebesar Rp 9,05 triliun per Mei 2026. Capaian ini mencerminkan pertumbuhan 7,06% secara tahunan (year-on-year/yoy), melaju dari pertumbuhan 6,07% yoy pada bulan sebelumnya.
Jika dibedah, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) bank memang berhasil tumbuh 15,18% yoy menjadi Rp 18,12 triliun di periode Januari-Mei 2026
Baca Juga: BSI Perluas Sayap ke Tanah Suci, Bidik Penguatan Ekosistem Syariah Global
Ini sejalan dengan, pendapatan bunga bank yang tumbuh 15.56% yoy menjadi Rp 13,04 triliun hingga April 2026 dan beban bunga yang naik 16,08% yoy menjadi Rp 13,04 triliun.
Namun di sisi operasional lainnya, bank sebenarnya mencatatkan lonjakan beban impairment sebesar 30,58% yoy menjadi Rp 3,72 triliun di lima bulan pertama 2026. Itu menjadi salah satu yang mendorong naik beban operasional bank hingga 29,85% yoy menjadi Rp 7,21 triliun.
Kendati begitu, pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi bank berhasil tumbuh 10,81% yoy menjadi Rp 4,43 triliun. Dus, laba operasional bank masih berhasil tumbuh 7,17% yoy menjadi Rp 10,9 triliun per Mei 2026
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit bank juga berhasil mencatatkan kinerja positif dengan catatan pertumbuhan 24,55% yoy menjadi Rp 940,88 triliun. Ini turut menopang pertumbuhan total aset bank yang mencapai 25,1% yoy menjadi Rp 1.365,36 triliun.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) bank tumbuh 33,15% yoy menjadi Rp 1.063,91 triliun. Hanya saja, pertumbuhan DPK bank masih banyak disokong dana mahal. Yang mana, deposito bank tumbuh 49,19% yoy menjadi Rp 337,1 triliun.
Sementara dana murah bank tumbuh 26,83% yoy menjadi Rp 726,81 triliun. Rinciannya, giro tumbuh 37,64% yoy menjadi Rp 439,94 triliun dan tabungan bertambah 13,2% yoy menjadi Rp 286,86 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














