Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sebanyak 609,39 juta serangan siber terjadi di Indonesia sepanjang 2024. Sektor keuangan, termasuk financial technology (fintech), menjadi salah satu target utama.
Sementara itu, laporan IBM Cost of a Data Breach 2025 menunjukkan, rata-rata organisasi membutuhkan waktu hingga 241 hari untuk mendeteksi dan mengendalikan insiden kebocoran data.
Direktur PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat), Anna Maria Chosani mengatakan, kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga keamanan data pribadi pengguna.
Baca Juga: Petinggi Ditahan Kasus Korupsi, OJK: KoinP2P Sudah Tunjuk Penanggung Jawab Sementara
"Membangun budaya keamanan informasi sama pentingnya dengan membangun teknologi yang andal," ujar Anna, dalam keterangannya, Jumat (7/8),
Founder sekaligus Senior Consultant PT Aktuator Cipta Cendekia, Anton Dewantoro menilai. keamanan informasi tidak cukup mengandalkan teknologi maupun sertifikasi, tetapi harus menjadi budaya yang diterapkan seluruh karyawan.
RupiahCepat sendir berupayai meningkatkan kompetensi SDM melalui pelatihan. Fintech ini juga menerapkan berbagai pengendalian keamanan informasi. Seperti e-KYC, enkripsi data, pengelolaan hak akses berbasis kewenangan serta pemantauan sistem secara berkala.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
