kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Likuiditas domestik ketat, pinjaman asing jadi opsi multifinance


Rabu, 12 September 2018 / 17:04 WIB
ILUSTRASI. Penyaluran kredit kendaraan


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Opsi pendanaan dari luar negeri  masih bisa menjadi pilihan dari pelaku usaha multifinance. Meski ada tantangan yang menjadi konsekuensi dari pilihan sumber dana tersebut.

Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno, pendanaan dari luar negeri sudah menjadi agenda rutin sejumlah multifinance. Dus, pinjaman offshore di tahun ini pun bisa tetap dilakukan.

Kondisi pelemahan nilai tukar rupiah menurutnya memang bisa berpengaruh terhadap kebijakan pelaku usaha dalam mendulang dana dari luar negeri. 

Meski begitu opsi pinjaman ini bisa tetap menjadi pilihan. "Termasuk sebagai upaya diversifikasi sumber pendanaan," kata dia, Rabu (12/9).

Terlebih, ada tantangan dalam meraup pendapatan di dalam negeri. Salah satunya adalah karena kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral. Kondisi ini tentunya membuat bunga pinjaman yang didapat multifinance ikut merangkak.

Selain itu, Suwandi mengakui kasus yang terjadi di beberapa perusahaan pembiayaan pun ikut mempengaruhi sumber pendanaan dari perbankan domestik. Dengan adanya sejumlah kasus, perbankan kini makin berhati-hati dalam mengucurkan pendanaan ke sektor pembiayaan.

"Sehingga likuiditas saat ini memang menjadi lebih ketat," ungkapnya.

Di sisi yang lain, pencarian dana lewat penerbitan obligasi pun ikut menhadapi tantangan dari lesunya pasar modal. Saat pasar modal sedang melemah, tentunya penerbitan surat utang menjadi lebih berisiko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×