kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.868.000   -20.000   -0,69%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

LPEI Targetkan Penyaluran Pembiayaan Tumbuh 10% pada 2026


Jumat, 17 April 2026 / 19:38 WIB
LPEI Targetkan Penyaluran Pembiayaan Tumbuh 10% pada 2026
ILUSTRASI. Indonesia Eximbank (KONTAN/Maizal Walfajri)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - SURABAYA. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menargetkan pembiayaan di tahun 2026 bisa tumbuh 10%.

Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI Sulaeman menerangkan target pertumbuhan itu diharapkan datang dari pertumbuhan segmen korporasi dan komersial yang berimbang.

Dia bilang untuk yang segmen korporasi, pertumbuhannya ditargetkan di bawah 10%, sedangkan komersial yang mencakup Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, diharapkan bisa tumbuh di atas 10%. Dengan demikian, dia bilang secara keseluruhan portofolio-nya itu bisa meningkat di atas 10% tahun ini.

Baca Juga: Rupiah Melemah di Atas Level Rp 17.000, Masyarakat Ramai-ramai Jual Dolar

"Total 10%. Jadi, kami punya segmen korporasi dan komersial. Kami pengin portofolionya itu berimbang," katanya saat ditemui usai media gathering di Surabaya, Jumat (17/4/2026).

Untuk mencapai pertumbuhan itu, Sulaeman menerangkan pihaknya akan selektif dalam membiayai sektor yang potensial. Dia tak memungkiri kondisi yang terjadi saat ini di tengah gejolak geopolitik, membuat LPEI memang harus berhati-hati. 

Bagi LPEI, Sulaeman menyebut kondisi itu menegaskan pentingnya manajemen risiko yang kuat untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan ekspor.

Oleh karena itu, LPEI menempuh beberapa langkah strategis, antara lain melakukan stress testing secara berkala untuk mengukur ketahanan portofolio pembiayaan dan likuiditas terhadap berbagai skenario tekanan, seperti pelemahan ekonomi global, volatilitas nilai tukar, kenaikan suku bunga, maupun penurunan harga komoditas. Dengan demikian, langkah mitigasi dapat disiapkan lebih dini.

"Kami mesti lihat impact-nya seberapa besar terhadap margin masing-masing perusahaan juga," ungkapnya.

Selain itu, Sulaeman menyampaikan LPEI juga melakukan diversifikasi portofolio pembiayaan, baik dari sisi sektor maupun negara tujuan ekspor. Dengan demikian, risiko tidak terkonsentrasi pada sektor atau pasar tertentu. Strategi lainnya, yakni penguatan tata kelola dan manajemen risiko, termasuk peningkatan kualitas proses pembiayaan, pemantauan portofolio secara lebih intensif, serta penguatan sistem internal control.

Baca Juga: Hasil RUPST Maybank (BNII): Rombak Manajemen dan Tebar Dividen Rp 580 Miliar

LPEI juga menerapkan supervisi kondisi debitur dengan menerapkan early warning detection agar dapat mengantisipasi lebih awal atas perubahan kinerja debitur yang mungkin terdampak kondisi global.

Dia bilang LPEI juga memanfaatkan instrumen mitigasi risiko, seperti asuransi dan penjaminan ekspor untuk membantu eksportir mengelola risiko perdagangan internasional, termasuk risiko pembayaran dan volatilitas pasar.

Ditambah, melakukan penguatan manajemen likuiditas dan struktur pendanaan, agar LPEI tetap memiliki fleksibilitas dalam menjaga stabilitas pembiayaan di tengah potensi perubahan kondisi pasar keuangan.

Tak kalah penting, Sulaeman bilang kolaborasi dengan lembaga keuangan domestik maupun internasional juga dilakukan, termasuk berbagai Export Credit Agencies di dunia, untuk berbagi risiko dan memperluas kapasitas pembiayaan bagi proyek-proyek ekspor strategis.

"Cara pendekatan kami untuk akuisisinya melalui asosiasi maupun ekosistem ekspor. Kami bekerja sama dengan kementerian atau lembaga yang memiliki list eksportir," tuturnya.

Dari data-data yang dilihat, Sulaeman menyampaikan LPEI akan melakukan kolaborasi untuk dijadikan sebagai salah satu sumber pipeline untuk pengembangan pembiayaan. 

Sementara itu, Sulaeman menerangkan secara umum portofolio LPEI masih didominasi sektor-sektor strategis berorientasi ekspor, seperti manufaktur, agribisnis, dan pertambangan, sejalan dengan mandat LPEI untuk mendorong daya saing ekspor nasional.

Baca Juga: Rupiah Melemah, BTN Pastikan Cicilan KPR Tak Terlalu Terdampak

Dari sisi kualitas aset, Sulaeman bilang eksposur Non Performing Loan (NPL) tidak serta-merta mencerminkan sektor pembiayaan terbesar di sektor tertentu. Dia menjelaskan NPL lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi spesifik debitur. 

Dengan pengelolaan risiko yang disiplin, LPEI berhasil menurunkan NPL net menjadi 2,4% pada 2025, atau membaik signifikan dari 4,5% pada tahun sebelumnya.

Selain itu, Sulaeman menyampaikan LPEI juga membentuk pencadangan secara konservatif dan antisipatif sesuai dengan ketentuan sebagai langkah menjaga ketahanan neraca dan kualitas portofolio pembiayaan.

Sebagai informasi, penyaluran pembiayaan LPEI tumbuh 2% secara year on year (YoY), dengan nilai mencapai Rp 57,2 triliun pada 2025. Pertumbuhan pembiayaan menjadi salah satu penopang laba bersih LPEI yang sebesar Rp 252 miliar sepanjang 2025, atau tumbuh 8% secara YoY. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×