kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   -1.000   -0,07%
  • USD/IDR 16.200
  • IDX 7.285   -42,48   -0,58%
  • KOMPAS100 1.135   -6,86   -0,60%
  • LQ45 913   -7,71   -0,84%
  • ISSI 218   -0,65   -0,30%
  • IDX30 454   -4,27   -0,93%
  • IDXHIDIV20 544   -4,82   -0,88%
  • IDX80 128   -0,99   -0,77%
  • IDXV30 127   -0,26   -0,20%
  • IDXQ30 153   -1,52   -0,98%

Manajemen Muamalat pastikan jual aset bermasalah Rp 6 triliun


Senin, 09 Juli 2018 / 18:16 WIB
Manajemen Muamalat pastikan jual aset bermasalah Rp 6 triliun
ILUSTRASI. Teller Menghitung Uang di Bank Muamalat


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memastikan akan menjual aset bermasalah sebesar Rp 6 triliun. Penjualan aset ini sudah disetujui pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada Kamis (28/6). Penjualan aset bermasalah ini dilakukan pada akhir Juni 2018. 

Meski begitu, Bank Muamalat membantah akan menjual aset bermasalah tahap kedua

Achmad K. Permana, Direktur Utama Bank Muamalat mengatakan jumlah aset bermasalah yang akan dijual sebesar Rp 6 triliun. Tapi, "Tidak ada rencana penjualan aset kedua sebesar Rp 2 triliun," kata Permana kepada kontan.co.id, Senin (9/7).

Penjualan aset bermasalah sebesar Rp 6 triliun ini bertujuan untuk memperbaiki kinerja. Terkait dampak penjualan aset bermasalah ini ke kinerja, menurut Permana akan dibahas setelah publikasi laporan keuangan kuartal II-2018 nanti.

Berdasarakan informasi yang dikumpulkan kontan.co.id, penjualan aset bermasalah dilakukan ke Lynx Asia, sebuah perusahaan penasehat keuangan dan investasi berbasis di Singapura.

Sumber kontan.co.id berbisik, penjualan aset bermasalah ini tidak hanya berupa NPF tapi juga aset swap. "(Penjualan aset bermasalah) ini cukup rumit," kata sumber kontan.co.id, Minggu (8/7).

Sebagai gambaran saja, berdasarakan laporan keuangan Bank Muamalat kuartal I 2018 tercatat rasio NPF-nya sebesar 4,76% atau jika dirupiahkan sebesar Rp 1,9 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×