Reporter: Roy Franedya | Editor: Asnil Amri
JAKARTA. Belum membaiknya kondisi global, menyebabkan perbankan hati-hati menyalurkan kredit valas, salah satunya Bank Mandiri. Bank beraset terbesar ini mematok rasio intermediasi atau loan to deposit ratio (LDR) valas maksimal 85%.
Saat ini LDR valas Mandiri mencapai 70%-75%, dengan likuiditas valas mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 6,5 miliar. Adapun pertumbuhan kredit valas hanya 8%, dari target 10% sampai akhir tahun.
Direktur Keuangan Bank Mandiri, Pahala Nugraha Mansyuri, mengatakan Mandiri masih memiliki peluang menyalurkan kredit valas,tapi tetap akan menjaga LDR di 85%. "Kalau kami bisa segera selesaikan rencana pinjaman valas tahap berikutnya, mungkin pertumbuhan penyalurannya bisa sampai 10%," ujarnya, Senin (17/9).
Beberapa waktu lalu, Bank Mandiri baru saja mendapatkan pinjaman senilai US$ 250 juta dari Standard Chartered. Saat ini Bank Mandiri sedang melakukan penjajakan pinjaman valas antara US$ 100 juta hingga US$ 250 juta dari salah satu bank asing.
Bank Central Asia (BCA) mempunyai kebijakan berbeda. Bank ini mematok kredit valas maksimal US$ 2,5 miliar. BCA menyediakan dana sebesar US$ 500 juta untuk likuiditas valas yang bisa dicairkan kapan saja. "Kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) belum mampu menambah pasokan valas sehingga kami tidak mau ngoyo," ujar Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja beberapa waktu lalu.
Perbankan memang gencar mengumpulkan likuiditas. Per Juli 2012 kredit valas tumbuh 27,87% menjadi Rp 395,56 triliun (yoy). Adapun DPK valas hanya tumbuh 26,76% menjadi Rp 449,5 triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












