kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Masih pilot project, Pegadaian revisi target outstanding gadai saham di 2019


Minggu, 06 Oktober 2019 / 22:53 WIB

Masih pilot project, Pegadaian revisi target outstanding gadai saham di 2019
ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi gadai di kantor Pegadaian


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pegadaian (Persero) mesti bersabar untuk merilis produk gadai saham tahun ini. Penyebabnya, gadai saham pelat merah masih menjalankan tahap pilot project atau uji coba produk sampai akhirnya mendapat izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Direktur Teknologi Informasi dan Digital PT Pegadaian Teguh Wahyono menyampaikan, masa pilot project ini diperkirakan paling lama sampai satu tahun. Biasanya, yang diuji cobakan adalah sistem keandalan dan keamanan produk.

“Produk ini sedang dicek oleh OJK. Karena masih tahap pilot project, maka selalu dievaluasi dan ada persyaratan yang harus dipenuhi misalnya standar sistem manajemen keamanan informasi, ISO/IEC 27001. Kami baru saja mendapatkan sertifikat tersebut,” terang Teguh di Jakarta, pekan lalu.

Baca Juga: Hingga September, penjualan emas Pegadaian Galeri24 sekitar 3,64 ton

Karena masih tahap uji coba, Pegadaian akhirnya merevisi target penyaluran fasilitas dana atau outstanding gadai saham tahun ini.

Awalnya, mereka targetkan outstanding sebesar Rp 150 miliar per bulan atau sekitar Rp 800 miliar per tahun, namun kini hanya sebesar Rp 20 miliar saja.

Sampai September 2019, nilai outstanding gadai saham baru sekitar Rp 5 – 10 miliar dari nasabah ritel. Dibandingkan ritel, menurut Teguh, nilai outstanding dari nasabah korporat diperkirakan bisa di angka ratusan miliar.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2B OJK Bambang W Budiawan menyatakan pertimbangan regulator memberikan izin usaha yaitu dari sisi kesiapan operasional gadai saham dan teknis mitigasi risiko. Ada beberapa aspek yang diperhatikan regulator dalam uji coba produk tersebut.

Baca Juga: Pegadaian berencana rilis produk invoice financing

“Mulai dari tes keandalan, mitigasi risiko oke atau belum, kemudian aspek legal agar tidak menyisakan risiko hukum di kemudian harus, kesiapan operasional dan IT. Terakhir, dari sisi cost and benefit atau kelayakan aspek bisnis,” tutupnya.

Asal tahu saja, Pegadaian berencana merilis produk gadai efek, yang bukan hanya untuk saham tetapi juga obligasi dan obligasi negara ritel (ORI). Tahap awal, perseroan masih bidik obligasi pemerintah dan berlanjut pada obligasi swasta.

Adapun efek ini melibatkan lembaga seperti bank kustodian, sekuritas, Kustodia Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan pengawas pasar modal. Sementara itu, nilai efek yang digadaikan mengacu pada harga pada saat kesepakatan ditandatangani.

Mengutip situs Pegadaian, penerapan suku bunga berupa biaya sewa modal sekitar 15% per tahun dan minimum 15 hari. Total pelunasan dihitung berdasarkan jumlah uang pinjaman ditambah dengan sewa modal yang sudah berjalan. Sampai saat ini layanan gadai efek baru tersedia di kantor pusat Pegadaian.

Baca Juga: LinkAja gandeng Pegadaian untuk cash in dan cash out dana pengguna

Gadai efek sendiri berbeda dengan repurchase agreement (Repo), yang merupakan transaksi penjualan instrumen efek antar dua pihak. Harianto menjelaskan, jika Repo terjadi pemindahan kepemilikan sedangkan gadai efek hanya menyimpan transaksi di sub rekening Pegadaian.


Reporter: Ferrika Sari
Editor: Yudho Winarto

Video Pilihan

Tag
Terpopuler

Close [X]
×