Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki tahun 2026, rencana perbankan dalam menerbitkan surat utang terbilang belum ramai. Hal ini dikarenakan kondisi likuiditas yang longgar dan permintaan kredit yang belum cukup signifikan.
Mengacu data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), mandat penerbitan surat utang oleh perbankan yang diterima terbilang masih sedikit. Di mana, hanya ada dua bank yang berencana menerbitkan surat utang mengacu data Pefindo per 31 Desember 2025.
Head of Financial Institutions Ratings Division Pefindo Danan Dito merinci dari dua bank tersebut, rencana nilai surat utang yang bakal diterbitkan mencapai Rp 6 triliun. Sayangnya, Dito enggan menyebutkan nama dari dua bank tersebut.
“Angka tersebut mencakup sekitar 13,87% dari total mandat yang kami terima senilai Rp 43,25 triliun,” jelas Dito.
Baca Juga: Kendati BI Longgarkan Suku Bunga, Cost of Fund Bank Masih Tertahan
Ia bilang kondisi penerbitan di awal tahun ini erat kaitannya dengan kondisi musiman di awal tahun di mana operasi bisnis masih belum terlalu terakselerasi. Artinya, penerbitan surat utang baru akan ramai jika memang kredit bisa tumbuh kencang.
Sebagai gambaran, likuiditas perbankan memang terbilang cukup longgar dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 83,99% per November 2025. Di mana, pada periode sama tahun sebelumnya sedikit lebih ketat di level 87,34%.
“Kondisi likuiditas perbankan masih mencukupi,” ujarnya.
Selain itu, Dito menjelaskan penerbitan yang belum terlalu banyak juga berhubungan dengan tren kebutuhan pembiayaan surat utang yang kemungkinan relatif rendah di awal tahun 2026. Mengingat, sebagian besar surat utang perbankan jatuh tempo di semester kedua.
Setali tiga uang, Direktur Kepatuhan Bank Oke Efdinal Alamsyah bilang likuiditas perbankan saat ini memang masih cukup longgar. Alhasil, urgensi bank untuk menerbitkan surat utang memang relatif rendah.
Bagi Bank Oke sendiri, Efdinal menjelaskan opsi tersebut akan menjadi pertimbangan apabila pertumbuhan kredit tiba-tiba meningkat pesat. Hal lain, kata Efdinal, surat utang bisa dibutuhkan jika ada kebutuhan penguatan struktur permodalan.
Baca Juga: Saham LIFE Berfluktuasi, MSIG Life Insurance Pastikan Spin-off UUS Tetap Berjalan
“Dengan kata lain belum mendesak tetapi bisa menjadi opsi strategis,” ujar Efdinal.
Baru-baru ini BRI menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK) dengan nilai sebesar Rp 500 miliar. Salah satu tujuannya, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyebutkan ini sebagai bagian dari strategi pengelolaan likuiditas jangka pendek yang berkelanjutan.
SBK BRI ditawarkan dalam 4 tenor, yaitu tenor 1 bulan dengan tingkat diskonto 4.5%, 3 bulan dengan tingkat diskonto 4.60%, 6 bulan dengan tingkat diskonto 4.85% dan 12 bulan dengan tingkat diskonto 4.95%. Instrumen ini juga sebagai bagian dari penguatan instrumen pasar uang yang transparan, kredibel dan berdaya saing.
“BRI akan terus mendorong inovasi produk, memperluas basis investor, serta memastikan seluruh inisiatif pembiayaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik," ujar Hery
Selanjutnya: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (14/1) Jabodetabek Hujan Lebat di Daerah Ini
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (14/1) Jabodetabek Hujan Lebat di Daerah Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













