Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat masyarakat untuk menabung menunjukkan peningkatan. Kondisi ini membuka peluang bagi perbankan untuk mengakselerasi penghimpunan dana tabungan hingga akhir 2026.
Namun, tantangan daya beli dan kemampuan masyarakat menyisihkan pendapatan masih membayangi pertumbuhan simpanan.
Hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan, Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada Agustus 2026 naik 1,6 poin secara bulanan menjadi 79,4.
Kenaikan tersebut terutama ditopang Indeks Kemauan Menabung (IKMM) yang meningkat 3,4 poin menjadi 86,9.
Baca Juga: OJK Siapkan Strategi Lahirkan 5 Bank Syariah Besar pada 2027
Sebaliknya, Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) turun tipis 0,2 poin menjadi 71,8. Pergerakan ini mengindikasikan kemauan masyarakat untuk menabung semakin kuat, tetapi kemampuan menyisihkan pendapatan belum sepenuhnya membaik.
Persepsi masyarakat terhadap waktu yang tepat untuk menabung juga meningkat. Persentase responden yang menilai Agustus 2026 sebagai waktu yang tepat untuk menabung naik dari 23,2% pada Juli menjadi 24,7%.
Sementara itu, proporsi responden yang menilai tiga bulan mendatang sebagai waktu yang tepat untuk menabung meningkat dari 28,5% menjadi 31,8%.
Senior Vice President sekaligus Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, perbaikan persepsi tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek penghimpunan dana perbankan.
“Optimisme tersebut sejalan dengan data OJK yang menunjukkan pertumbuhan tabungan perbankan meningkat dari 8,37% YoY pada Juli menjadi 9,56% YoY pada Agustus 2026,” ujar Trioksa kepada Kontan.co.id, Minggu (18/10/2026).
Baca Juga: OJK Buka Opsi Merger Bank untuk Penuhi Free Float 15%
Meski demikian, peningkatan minat menabung tidak serta-merta langsung terealisasi menjadi pertumbuhan simpanan.
Kemampuan masyarakat menyisihkan pendapatan setelah memenuhi kebutuhan konsumsi dan kewajiban keuangan tetap menjadi faktor penentu.
Trioksa menambahkan, inflasi yang mencapai 3,28% secara tahunan pada September 2026 masih menjadi tantangan, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah yang memiliki ruang menabung relatif terbatas.
Perbankan juga menghadapi persaingan penghimpunan dana, baik dari sesama bank, termasuk bank digital, maupun instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Pertumbuhan deposito yang mencapai 13,10% secara tahunan pada Agustus 2026, lebih tinggi dibandingkan tabungan, turut menjadi perhatian karena persaingan suku bunga dapat meningkatkan biaya dana perbankan.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Trioksa memperkirakan pertumbuhan tabungan perbankan hingga akhir 2026 berpotensi berada di kisaran 9%–11% secara tahunan dalam skenario moderat. Proyeksi ini bergantung pada inflasi yang terkendali, perbaikan pendapatan masyarakat, dan pertumbuhan aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Prudential Syariah Andalkan 65.000 Agen Bersertifikat untuk Perluas Pasar
Menurut Trioksa, bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah melalui pengembangan ekosistem transaksi, rekening penggajian atau payroll, pembayaran digital, QRIS, layanan merchant, fitur tabungan otomatis, dan program loyalitas nasabah.
Strategi berbasis transaksi dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan penawaran bunga simpanan tinggi.
Dengan demikian, bank dapat mengejar pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sekaligus menjaga stabilitas dana murah, efisiensi biaya dana, dan kapasitas penyaluran kredit.
Data Bank Indonesia (BI) mencatat, DPK perbankan pada Agustus 2026 mencapai Rp 9.732,8 triliun atau tumbuh 7,7% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kenaikan pertumbuhan tabungan menjadi 9,5% secara tahunan, dari 8,3% pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Perbankan Masih Kucurkan Kredit ke Sektor Batubara
Strategi BTN, CIMB Niaga, dan BCA
Di tengah peluang pertumbuhan tersebut, bank mulai memperkuat strategi penghimpunan dana melalui peningkatan transaksi nasabah dan pengembangan ekosistem digital. Namun, perkembangan tabungan di masing-masing bank masih menunjukkan kinerja yang beragam.
Direktur Network and Retail Funding PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Rully Setiawan mengatakan, pertumbuhan tabungan di Indonesia antara lain didorong oleh aktivitas transaksi dalam ekosistem perbankan, mulai dari konsumsi nasabah hingga pembayaran kepada merchant.
Transaksi melalui aplikasi perbankan dapat mendorong perputaran dana dari rekening individu ke rekening merchant yang juga menjadi nasabah bank.
Dana penerimaan merchant tersebut kemudian ditampung dalam rekening perbankan, termasuk rekening tabungan atas nama perusahaan.
“Pertumbuhan tabungan di Indonesia didorong oleh pertumbuhan transaksi itu sendiri,” ujar Rully.
Baca Juga: Wacana Gaji PNS Daerah Lewat Koperasi, BPD Bidik Dana Murah dari UMKM
Menurut dia, pergeseran masyarakat menuju transaksi nontunai atau less cash society turut membuka peluang pertumbuhan tabungan karena semakin banyak transaksi dilakukan melalui rekening perbankan.
BTN mencatat tabungan sebesar Rp 39,53 triliun pada Agustus 2026, turun 10,69% secara tahunan dari Rp 44,26 triliun pada Agustus 2025. DPK BTN juga turun 4,80% secara tahunan menjadi Rp 382,17 triliun dari Rp 401,45 triliun.
Meski demikian, Rully menyebut tabungan BTN tumbuh 22% secara year-to-date (ytd). Perseroan menargetkan pertumbuhan tabungan mencapai 35% pada akhir 2026.
Target tersebut akan ditopang perbaikan proses pembukaan rekening, peningkatan penggunaan aplikasi Bale Super Apps, serta penguatan ekosistem transaksi melalui jaringan merchant dan nasabah perusahaan.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan memperkirakan pertumbuhan simpanan perseroan pada 2026 masih lebih banyak ditopang giro dibandingkan tabungan ritel.
CIMB Niaga mencatat DPK sebesar Rp 268,61 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 2,24% secara tahunan dari Rp 262,73 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tabungan perseroan naik 1,61% secara tahunan menjadi Rp 87,72 triliun dari Rp 86,33 triliun.
“Kami rasa tahun ini pertumbuhan lebih besar tetap di giro dibanding dengan tabungan ritel yang masih mild,” ujar Lani.
Untuk memperkuat dana murah, CIMB Niaga melanjutkan strategi melalui layanan cash management, operating account, dan payroll.
Lani menjelaskan, pertumbuhan tabungan ritel masih relatif terbatas, sedangkan giro menunjukkan pertumbuhan yang baik, terutama dari segmen usaha kecil dan menengah (UKM) yang menggunakan rekening untuk aktivitas bisnis.
CIMB Niaga berharap tabungan dapat tumbuh sekitar 5% pada tahun ini, meskipun kontribusi terhadap pertumbuhan DPK diperkirakan masih didominasi giro.
Baca Juga: Bank Aladin Syariah Perkuat Likuiditas Lewat SIPA
Adapun PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengandalkan integrasi layanan digital dan fisik untuk menjaga pertumbuhan simpanan.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, perkembangan simpanan perbankan dipengaruhi berbagai variabel makroekonomi, baik dari sisi eksternal maupun domestik.
Secara konsolidasi, DPK BCA tumbuh 7,9% secara tahunan menjadi Rp 1.284 triliun per Juni 2026. Dana giro dan tabungan atau current account saving account (CASA) mencapai Rp 1.082 triliun, setara sekitar 84,3% dari total DPK, dengan pertumbuhan 10,2% secara tahunan.
Hera mengatakan, BCA konsisten menerapkan konsep hybrid banking dengan mengintegrasikan layanan digital dan fisik untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang beragam.
Strategi ini sekaligus menjadi upaya perseroan mempertahankan posisi di pasar dan mendorong pertumbuhan simpanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














