kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Bukan Perang Bunga, Bank Digital Fokus Genjot Dana Murah Saat Persaingan DPK Ketat


Jumat, 19 Juni 2026 / 17:13 WIB
Bukan Perang Bunga, Bank Digital Fokus Genjot Dana Murah Saat Persaingan DPK Ketat
ILUSTRASI. Krom Bank - kontan kilas online (KROM BANK/KILAS)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren suku bunga tinggi dan ketatnya persaingan likuiditas belum menghentikan upaya bank digital menggenjot dana murah atau current account savings account (CASA).

Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga April 2026 giro tumbuh pesat 15,9% secara tahunan mencapai Rp 3.061,7 triliun, adapun tabungan tumbuh 8,9% secara year on year (yoy) mencapai Rp 3.160,4 triliun. Secara total, dana murah alias current account saving account (CASA) perbankan mencapai Rp 6.222,1 triliun, tumbuh 12,3% yoy.

Sementara itu, simpanan berjangka alias deposito tumbuh lebih terbatas, yakni 4,6% yoy menjadi Rp 3.345,6 triliun pada April 2026.

Baca Juga: Amar Bank Andalkan Ekosistem Digital untuk Dongkrak Dana Murah

Sejalan dengan itu, sejumlah bank digital terpantau berhasil mencatatkan pertumbuhan CASA yang lebih agresif.

Alih-alih mengandalkan perang bunga, sejumlah bank digital kini memilih memperkuat ekosistem dan aktivitas transaksi nasabah untuk menjaga pertumbuhan dana murah.

Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk Anton Hermawan mengatakan CASA Krom Bank mencapai Rp 2,42 triliun hingga akhir Mei 2026. Jumlah tersebut tumbuh 161% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 930 miliar.

Menurut Anton, pertumbuhan CASA ditopang oleh optimalisasi aktivitas nasabah, inovasi produk digital, serta strategi perusahaan mempertahankan suku bunga tabungan yang kompetitif.

“Sampai dengan akhir Mei 2026, posisi CASA Krom Bank tercatat sebesar Rp 2,42 triliun atau tumbuh 161% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Anton kepada Kontan.

Meski suku bunga deposito masih menarik, Anton mengaku belum melihat adanya perpindahan dana nasabah secara besar-besaran dari tabungan dan giro ke deposito.

“Sampai dengan saat ini, Krom belum melihat pergeseran dana nasabah yang masif dari giro dan tabungan menuju deposito,” katanya.

Kendati demikian, jumlah nasabah deposito Krom Bank tetap tumbuh tinggi, yakni mencapai 116% secara tahunan.

Baca Juga: BI Rate Naik, Krom Bank Pilih Perkuat Dana Murah Ketimbang Naikkan Bunga Deposito

Anton mengakui kenaikan BI Rate memberikan tekanan terhadap biaya dana (cost of fund). Oleh karena itu, Krom Bank memilih memperkuat likuiditas dan meningkatkan penghimpunan CASA agar tidak perlu menaikkan bunga kredit secara agresif.

“Kami fokus pada penguatan likuiditas dan menggalang dana murah agar biaya dana dapat stabil tanpa harus menaikkan bunga kredit secara agresif yang dapat menggerus NIM,” ujarnya.

Ke depan, Krom Bank akan semakin fokus mengembangkan ekosistem digital dan meningkatkan loyalitas nasabah melalui berbagai fitur layanan baru serta kerja sama dengan mitra strategis untuk memperluas akuisisi nasabah.

Strategi serupa juga dijalankan PT Allo Bank Indonesia Tbk. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan penghimpunan CASA tidak hanya bergantung pada tingkat suku bunga, melainkan juga pada tingkat keterikatan nasabah terhadap layanan digital.

“Bagi kami, CASA bukan semata-mata fungsi dari suku bunga, melainkan hasil dari tingkat engagement nasabah. Semakin tinggi frekuensi transaksi dan semakin relevan layanan yang digunakan dalam keseharian nasabah, maka semakin besar kecenderungan dana untuk tetap berada dalam rekening tabungan maupun giro,” ujarnya.

Destya mengakui sebagian nasabah mulai memanfaatkan deposito ketika tingkat bunga dianggap menarik. Namun, pergerakan tersebut masih berada dalam batas yang normal.

“Terkait pergeseran dana, kami memang melihat adanya kecenderungan sebagian nasabah untuk mengoptimalkan pengelolaan dananya melalui deposito. Namun pergerakan tersebut masih dalam batas yang wajar,” katanya.

Baca Juga: BI Rate Naik, Krom Bank Pilih Perkuat Dana Murah Ketimbang Naikkan Bunga Deposito

Menurut Destya, tantangan terbesar saat ini adalah menciptakan alasan yang kuat agar nasabah menjadikan rekening Allo Bank sebagai rekening utama untuk bertransaksi sehari-hari.

Karena itu, strategi perusahaan ini tidak berfokus pada kompetisi bunga simpanan, melainkan memperluas layanan QRIS, transfer, pembayaran tagihan, dan berbagai fitur transaksi digital lainnya.

“Kami meyakini bahwa dana murah yang paling berkualitas adalah dana yang terbentuk dari aktivitas transaksi dan loyalitas nasabah,” ujarnya.

Meski kompetisi likuiditas semakin ketat, Allo Bank mengklaim masih mampu menjaga biaya dana tetap terkendali melalui optimalisasi komposisi pendanaan dan pengelolaan likuiditas yang efisien.

Sementara itu, PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) juga mengandalkan penguatan ekosistem digital untuk menghimpun dana murah.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Amar Bank Kevin Kane Wardhana mengatakan keputusan nasabah untuk menempatkan dana di suatu bank tidak hanya ditentukan oleh tingkat bunga, tetapi juga pengalaman dalam menggunakan layanan perbankan digital.

“Untuk meningkatkan CASA memang salah satu faktornya adalah suku bunga. Tapi di sisi lain ada faktor lain seperti pengalaman nasabah ketika menggunakan ekosistem atau aplikasi Amar Bank itu sendiri serta fitur-fitur yang ditawarkan kepada nasabah,” ujarnya.

Baca Juga: Industri Asuransi Jiwa Stabil, Fokus Bergeser ke Sertifikasi dan Kualitas Agen

Kevin menjelaskan Amar Bank terus mengembangkan solusi digital baik untuk nasabah ritel maupun segmen UMKM dan korporasi melalui aplikasi Amar Bank dan Amar Bank Bisnis.

Menurutnya, penguatan kedua ekosistem tersebut diharapkan dapat meningkatkan penghimpunan dana murah sekaligus memperluas basis nasabah.

“Harapannya dengan menggunakan dua ekosistem tersebut kami bisa mendapatkan CASA yang kompetitif dan menambah jumlah nasabah baik dari segmen ritel, UMKM maupun korporasi,” katanya.

Kevin mengakui kenaikan BI Rate menjadi tantangan tersendiri karena mendorong bank-bank lain menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi.

Meski demikian, Amar Bank menilai nasabah kini semakin mempertimbangkan kualitas layanan dan kemudahan transaksi dalam memilih bank.

“Selain suku bunga, ada faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan nasabah ketika mereka ingin melakukan penempatan dana di suatu bank,” ujarnya.

Hingga saat ini, Amar Bank juga belum melihat adanya migrasi dana yang signifikan dari tabungan dan giro ke deposito.

“Untuk saat ini rasionya masih cenderung stabil sehingga tidak ada perubahan yang signifikan meskipun terjadi kenaikan suku bunga dalam waktu singkat,” kata Kevin.

Baca Juga: Tingkatkan Penetrasi, BRI Insurance Sasar Pelaku Bisnis Ekonomi Kreatif

Dari sisi biaya dana, Amar Bank mengaku tekanan yang dirasakan masih relatif terbatas. “Untuk saat ini perubahan cost of fund tidak terlalu signifikan untuk bank kami. Kami masih melihat angkanya relatif stabil,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×