Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan mulai kehilangan momentum ketika penyaluran kredit justru menunjukkan akselerasi. Kondisi tersebut membuat bank perlu memperkuat strategi penghimpunan dana, terutama melalui dana murah untuk menjaga efisiensi biaya dana.
Berdasarkan laporan analisis uang beredar Bank Indonesia (BI), DPK perbankan hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 7,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 9.666,9 triliun. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 8,1% yoy.
Sebaliknya, kredit perbankan tumbuh lebih cepat sebesar 13% yoy menjadi Rp 8.970,2 triliun pada Juli 2026. Pertumbuhan kredit tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 12,1% yoy.
Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menilai perlambatan pertumbuhan DPK salah satunya dipengaruhi oleh strategi perbankan dalam menjaga efisiensi biaya dana (cost of fund/CoF). Kondisi tersebut menjadi perhatian bank, terlebih setelah adanya kenaikan suku bunga acuan hingga 100 basis poin sejak awal tahun ini.
“Kondisi tersebut turut mendorong perbankan untuk mengelola komposisi pendanaan secara lebih optimal,” ujar Kunardy kepada Kontan, dikutip Minggu (30/8/2026).
Baca Juga: Belanja Online Makin Diminati, Transaksi Dompet Digital Terus Tumbuh
Menurut Kunardy, preferensi nasabah terhadap berbagai instrumen investasi juga mulai berubah. Nasabah kini memiliki lebih banyak pilihan instrumen dengan karakteristik imbal hasil dan risiko yang dinilai relatif lebih menarik.
Perubahan tersebut terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global dan dinamika pasar. Dengan demikian, menyimpan dana di perbankan dalam bentuk DPK tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan utama bagi nasabah.
Di KB Bank, pertumbuhan DPK tercatat mencapai 12,44% yoy hingga Juni 2026. Sementara itu, kredit KB Bank tumbuh 4,37% yoy pada periode yang sama.
Kunardy menambahkan, realisasi penghimpunan DPK KB Bank saat ini telah mencapai 94% dari target yang ditetapkan dalam rencana bisnis bank (RBB).
Meskipun deposito masih menjadi kontributor terbesar terhadap DPK KB Bank dengan porsi sekitar 67%, perseroan akan terus mendorong pertumbuhan dana murah berbasis transaksional.
Strategi tersebut dilakukan melalui pengembangan ekosistem digital serta bisnis korporasi. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat basis dana murah sekaligus menjaga efisiensi biaya dana bank.
Maybank Indonesia Perkuat Pendanaan
Di sisi lain, Maybank Indonesia mencatatkan pertumbuhan DPK sebesar 8,26% yoy hingga Juni 2026. Pada periode yang sama, kredit Maybank Indonesia tumbuh 4,87% yoy.
Direktur Community Financial Services Maybank Indonesia Bianto Surodjo mengatakan pertumbuhan tersebut sejalan dengan strategi perseroan dalam memperkuat bisnis.
Salah satu fokusnya adalah menghadapi konsolidasi konglomerasi Maybank yang dijadwalkan berlangsung pada kuartal III-2026. Konsolidasi tersebut juga dipandang sebagai peluang untuk memperluas bisnis melalui cross-selling dan cross-solution dengan anak-anak usaha.
“Dengan begitu, dapat mendatangkan nasabah dan bisnis yang lebih besar, termasuk di dalamnya bisnis-bisnis yang membutuhkan pendanaan,” kata Bianto.
Baca Juga: Undisbursed Loan Perbankan Masih Tinggi, Dunia Usaha Masih Wait and See
Di tengah risiko pengetatan likuiditas industri perbankan, Maybank Indonesia juga menilai peningkatan pendanaan dari nasabah tetap menjadi hal penting. Penghimpunan dana dilakukan melalui berbagai produk, baik konvensional maupun syariah.
DPK BSI Tumbuh 21,81%
Sementara itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatatkan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi. Hingga Juni 2026, DPK BSI tumbuh 21,81% yoy menjadi Rp 393,34 triliun.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan pertumbuhan DPK tersebut terutama ditopang oleh dana murah, khususnya tabungan yang mencapai Rp 172,81 triliun.
Kondisi tersebut membuat rasio dana murah atau current account and savings account (CASA) BSI berada di level 60,58%.
“Rasio ini cukup baik mengingat dana murah menjadi target BSI pada perbaikan biaya dana. CoF BSI turun dari 2,58% pada akhir 2025 menjadi 2,19% pada Juni 2026,” ujar Wisnu.
BSI juga terus memperkuat basis nasabah untuk menopang pertumbuhan dana murah. Dalam lima tahun terakhir, jumlah nasabah BSI telah mencapai 24,3 juta.
Menurut Wisnu, transformasi digital menjadi salah satu strategi BSI untuk memperluas penghimpunan dana murah, terutama melalui produk tabungan.
“Untuk itu kami terus memperkuat transformasi digital sebagai gate awal masuknya dana murah yakni tabungan,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














