kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Likuiditas Ketat, Bank Digital Genjot Dana Murah untuk Jaga Margin


Kamis, 13 Agustus 2026 / 19:08 WIB
Likuiditas Ketat, Bank Digital Genjot Dana Murah untuk Jaga Margin
ILUSTRASI. Allo Bank (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah ketatnya likuiditas pasar, perbankan perlu bersiasat dalam penjaringan dana, yang dalam prosesnya seringkali mengorbankan margin karena bank perlu menawarkan bunga tinggi. Dalam situasi ini, bank-bank digital tetap berupaya menyeimbangkan kesehatan margin dengan memperkuat pendanaan dana murah. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio pendanaan terhadap kredit (loan to deposit ratio/LDR) industri perbankan naik menjadi 88,32% per Juni 2026 dari posisi 86,63% pada bulan sebelumnya. 

Naiknya LDR menjadi bukti bahwa likuiditas perbankan mulai ketat. Namun berbanding terbalik dengan industri, Bank Neo Commerce (BNC) justru mencatatkan posisi LDR yang sangat longgar di 58.01% per Juni 2026. 

Baca Juga: Penyaluran KUR Capai Rp 169 Triliun, Perbankan Genjot Penyaluran

Direktur Utama BNC Eri Budiono mengaku itu memang salah satu langkah yang diambil sebagai respons ketatnya likuiditas pasar. Alih-alih menaikkan bunga deposito secara agresif untuk menjaring lebih banyak dana, pihaknya memilih menyalurkan kredit dengan lebih selektif. 

Namun bukan berarti BNC tak bakal menaikkan bunga sama sekali. “Kami respons juga kenaikan bunga, tapi tidak langsung tinggi,” kata Eri belum lama ini. 

Saat ini pihaknya memilih untuk memperkuat dana murah. Hingga tengah tahun ini, nominal tabungan dan giro (current account saving account/CASA) BNC mencapai Rp 3,96 triliun atau setara 32% total dana pihak ketiga (DPK), lebih tinggi dari komposisi CASA kuartal sebelumnya yang sebesar 30%. 

Sejalan dengan itu, biaya dana (cost of fund/CoF) BNC pun turun ke posisi 5,43% dari 5,64% pada kuartal sebelumnya dan 5,83% pada periode sama tahun sebelumnya. Eri melihat posisi itu cukup sehat jika dibanding industri, makanya bank bakal menjaga komposisi CASA di kisaran 30% hingga akhir tahun. 

Salah satu caranya adalah dengan terus meningkatkan produk dan layanan agar nasabah tak menjadikan besaran bunga sebagai alasan utama untuk menaruh dana di BNC. Toh, saat ini mayoritas DPK bank dijaring dari nasabah ritel. 

Tak jauh berbeda, Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengaku pihaknya juga bakal mendorong aktivitas transaksi nasabah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dana mahal secara bertahap. 

Baca Juga: KUR BRI Tembus Rp 103,81 Triliun hingga Juni 2026, 487.000 Debitur Naik Kelas

“Kami ingin rekening Allo Bank semakin sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari melalui berbagai use case transaksi. Semakin tinggi aktivitas dan engagement nasabah, semakin besar peluang terbentuknya dana operasional yang lebih sticky dan berkelanjutan,” papar Destya. 

Hingga Juni 2026, nominal CASA Allo Bank mencapai Rp 1,52 triliun atau setara 25% dari total DPK, dengan kepemilikan nasabah korporasi masih mendominasi. Destya menjelaskan, dominasi nasabah korporasi ini sejatinya merupakan bagian dari karakteristik dan tahapan pertumbuhan bisnis Allo Bank. 

Pihaknya tak fokus segera mengubah komposisi pendanaan, alih-alih memastikan setiap segmen dapat berkembang secara sehat dan memiliki engagement yang semakin tinggi terhadap produk dan layanan Allo Bank.

Dus, upaya bank memperkuat CASA salah satunya diwujudkan melalui penguatan hubungan dan perluasan use case dengan nasabah korporasi agar dana yang dihimpun semakin granular dan memiliki engagement yang lebih tinggi.

Untuk segmen ritel, Destya bilang pihaknya mendorong nasabah untuk tak cuman menggunakan Allo Bank sebagai rekening transaksi, tetapi juga sebagai bagian dari financial management melalui produk seperti Allo Grow dan Allo Deposito.

Namun di luar itu, Destya bilang strategi penjaringan DPK Allo Bank sejatinya tak bergantung pada target CASA semata. Bank digital milik konglomerat Chairul Tanjung ini ingin fokus meningkatkan kualitas pendanaan secara keseluruhan, menjaga CoF tetap efisien, dan memastikan pertumbuhan DPK dapat berjalan seimbang dengan pertumbuhan kredit.

“Untuk tahun ini, kami tetap optimistis dapat meningkatkan kontribusi CASA secara bertahap. Namun kami ingin mencapainya secara sustainable melalui pertumbuhan transaksi dan engagement nasabah, bukan melalui pricing yang terlalu agresif,” tukas Destya. 

Baca Juga: Kredit Macet Mandiri Utama Finance (MUF) Terjaga di Level 1,36% pada Juni 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×