kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

NIM Tertekan, Bank Makin Agresif Genjot Fee Based Income


Kamis, 02 Juli 2026 / 18:52 WIB
NIM Tertekan, Bank Makin Agresif Genjot Fee Based Income
ILUSTRASI. Digitalisasi Perbankan Sumbang Nilai Ekonomi Digital Indonesia (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) akibat kenaikan biaya dana (cost of fund) mendorong perbankan semakin agresif mengembangkan sumber pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI). 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, NIM perbankan pada April 2026 berada di level 4,38%, susut dibanding periode sama tahun sebelumnya yang berada di level 4,45% dan Desember 2025 di level 4,56%.

Staf Riset Ekonomi Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, mengatakan, bank tidak lagi bisa hanya mengandalkan pendapatan bunga (net interest income atau NII) sebagai motor utama pertumbuhan laba.

"Bank saat ini memang semakin agresif memacu pendapatan berbasis komisi. Ketika tren suku bunga tinggi atau pengetatan likuiditas menekan NIM, bank tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendapatan bunga sebagai motor utama laba," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, pendapatan berbasis komisi memang belum dapat sepenuhnya menggantikan kontribusi pendapatan bunga karena model bisnis perbankan masih bertumpu pada fungsi intermediasi. Namun, FBI mampu menjadi penyangga (buffer) yang efektif bagi profitabilitas.

Baca Juga: OJK: NIM Perbankan Turun Sejalan degan Penurunan Suku Bunga

Ia menilai pertumbuhan FBI yang mampu mencapai dua digit di sejumlah bank besar berhasil menjaga rasio profitabilitas seperti return on assets (ROA) dan return on equity (ROE), meski NIM mengalami tekanan sekitar 10 hingga 30 basis poin.

"FBI memiliki keunggulan karena bersifat capital light dan tidak menanggung risiko gagal bayar seperti pendapatan bunga," katanya.

Myrdal menjelaskan, struktur penyumbang FBI juga telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya didominasi provisi kredit dan biaya administrasi, kini sumber pertumbuhan terbesar berasal dari transaksi digital, sistem pembayaran, bisnis treasury, wealth management, bancassurance, hingga jasa trade finance dan kredit sindikasi.

"Pendapatan dari mobile banking, QRIS, virtual account, treasury, wealth management, bancassurance hingga arranger fee kini menjadi motor utama pertumbuhan FBI," ujarnya.

Ia memperkirakan pergeseran strategi menuju pendapatan non-bunga akan terus berlangsung dalam jangka panjang. Saat ini porsi FBI terhadap total pendapatan operasional bank menengah masih berkisar 15% hingga 20%, namun bank-bank besar mulai membidik kontribusi sebesar 25% hingga 30%.

"Ke depan bank akan semakin memposisikan diri sebagai ekosistem keuangan atau banking as a service, sehingga setiap aktivitas finansial nasabah menghasilkan pendapatan berbasis komisi yang berulang," jelasnya.

Baca Juga: BI Rate Naik 100 Bps, NIM Bank BUMN Bakal Lebih Tertekan Ketimbang Swasta

Hal senada disampaikan Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan. Menurutnya, perseroan telah memperkuat strategi pengembangan fee income dalam beberapa tahun terakhir untuk mengimbangi tekanan terhadap pendapatan bunga.

"Kami telah memperkuat approach untuk fee income dalam beberapa tahun terakhir yang cukup membantu sisi pendapatan di tengah kondisi saat ini, di mana pendapatan bunga menjadi sangat tertantang karena NIM tergerus," ujar Lani.

Meski demikian, ia mengakui FBI belum dapat sepenuhnya menggantikan penurunan pendapatan bunga.

"Namun harus diakui bahwa fee income tidak bisa mengganti 100% kehilangan pendapatan bunga, walaupun fee to income ratio kami menjadi salah satu yang terbaik di pasar sekitar 33%," katanya.

Menurut Lani, kontributor utama FBI CIMB Niaga berasal dari bisnis wealth management, treasury, biaya transaksi, merchant, serta arranger fee dari pembiayaan korporasi.

Hingga Mei 2026, pendapatan berbasis komisi CIMB Niaga mencapai sekitar Rp1,13 triliun, meningkat 18,7% yoy dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp952,2 miliar.

Sementara itu, Direktur Commercial Banking BTN, Hermita mengatakan, perseroan juga terus memperkuat FBI sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan.

"BTN terus mengembangkan fee based income sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan untuk menjaga kualitas profitabilitas di tengah tekanan biaya dana dan NIM," ujarnya.

Meski demikian, BTN menegaskan pendapatan bunga masih menjadi kontributor utama mengingat fokus bisnis perseroan berada pada pembiayaan perumahan.

Adapun sumber FBI BTN berasal dari layanan transaksi perbankan, bisnis digital, bancassurance, wealth management, treasury, transaction banking, hingga ekosistem perumahan.

Baca Juga: NIM Perbankan Tertekan, Program Pemerintah dan Persaingan Kredit Jadi Tantangan 2026

Untuk memperbesar kontribusi tersebut, BTN terus memperkuat ekosistem digital melalui Balé by BTN, Balé Properti, Balé Korpora, Balé Merchant, dan Balé Agen guna meningkatkan frekuensi transaksi, akuisisi nasabah, serta cross-selling produk.

"Ke depan kami akan meningkatkan porsi pendapatan non-bunga secara bertahap melalui digitalisasi layanan, penguatan ekosistem perumahan, optimalisasi bancassurance dan wealth management, serta pengembangan layanan treasury dan transaction banking," kata Hermita.

Per Mei 2026, pendapatan komisi BTN mencapai sekitar Rp604,8 miliar, meningkat 6,4% yoy dibandingkan Rp568,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatat pertumbuhan pendapatan non-bunga yang solid.

Baca Juga: NIM Bank Tertekan ke 4,38%, BRI dan Allo Bank Tetap Unggul

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan pendapatan selain bunga BCA pada kuartal I 2026 meningkat 14,2% secara tahunan menjadi Rp6,6 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pendapatan fee dan komisi yang juga naik 14,2% menjadi Rp5,5 triliun.

"Peningkatan ini tidak lepas dari pengembangan perbankan transaksi BCA di berbagai kanal digital maupun non-digital," ujar Hera.

Ia menjelaskan volume transaksi yang diproses BCA meningkat 61% dalam tiga tahun terakhir dan saat ini hampir seluruh transaksi telah dilakukan melalui kanal digital.

Selain itu, jumlah rekening nasabah BCA juga terus bertambah hingga mencapai 44 juta rekening pada akhir Maret 2026.

Ke depan, BCA akan terus memperkuat platform transaksi yang aman dan andal melalui inovasi layanan, perluasan ekosistem transaksi, serta peningkatan basis nasabah. Strategi tersebut diharapkan dapat terus mendorong pertumbuhan pendapatan non-bunga di tengah tantangan margin bunga industri perbankan.

Baca Juga: OJK Prediksi Ketidakpastian Ekonomi Berdampak ke NIM Bank

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×