Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong pemanfaatan pemeringkat kredit alternatif (alternative credit scoring) untuk memperluas akses pembiayaan, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum memiliki riwayat kredit formal. Skema ini dinilai dapat membuka peluang pembiayaan yang lebih inklusif, khususnya bagi pengusaha perempuan.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso mengatakan, hingga Juli 2026 terdapat delapan penyelenggara Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) yang telah resmi terdaftar di OJK. Layanan mereka kini telah dimanfaatkan oleh berbagai lembaga jasa keuangan dalam proses penilaian calon debitur.
"OJK telah mentransformasikan Pemeringkat Kredit Alternatif dari aktivitas yang sebelumnya berkembang melalui kerangka inovasi menjadi aktivitas yang memiliki standar kelembagaan dan tata kelola yang lebih matang serta pengawasan yang makin andal," ujar Adi dalam acara Media Roundtable yang digelar Women's World Banking (WWB), Kamis (30/7).
Menurut Adi, keberadaan PKA menjadi bagian dari upaya OJK memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat yang belum tersentuh layanan kredit formal. Untuk mendukung pengembangannya, OJK telah menerbitkan POJK Nomor 29 Tahun 2024 tentang Pemeringkat Kredit Alternatif yang mengatur pemanfaatan data alternatif, seperti data telekomunikasi dan perdagangan elektronik, dalam proses penilaian kelayakan kredit.
Regulasi tersebut juga diharapkan memberikan kepastian hukum bagi penyelenggara PKA sekaligus menjaga keseimbangan antara inovasi di sektor keuangan dengan perlindungan data konsumen.
Baca Juga: Kredit UMKM BCA Capai Rp 134,6 Triliun, Tumbuh 6% pada Semester I-2026
Regional Head Southeast Asia Women's World Banking Angelique Timmer menilai, pemanfaatan data alternatif dapat melengkapi metode penilaian kredit konvensional yang selama ini banyak bertumpu pada agunan, dokumen pendapatan, dan riwayat kredit.
"Data alternatif membuka peluang bagi bank dan lembaga pembiayaan lainnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap mengenai profil calon debitur. Pendekatan ini membantu perempuan pengusaha UMKM yang memiliki kapasitas keuangan dan potensi usaha untuk memperoleh akses layanan keuangan formal," katanya.
Women's World Banking mencatat masih banyak perempuan pelaku UMKM di Indonesia yang belum memperoleh akses kredit formal meski memiliki usaha produktif. Mengacu pada data Kementerian UMKM, lebih dari 64% UMKM di Indonesia dimiliki atau dikelola perempuan, tetapi hampir tiga perempat pengusaha perempuan di segmen tersebut belum memperoleh pembiayaan formal.
Baca Juga: Credit Bureau Indonesia Dorong UMKM Lebih Siap Raih Pembiayaan
Director of Policy Southeast Asia Women's World Banking Vitasari Anggraeni mengatakan, pengembangan sistem pemeringkatan kredit perlu dirancang dengan pendekatan yang berpusat pada kebutuhan pengguna agar mampu meminimalkan bias dalam penilaian kredit.
"Untuk mendorong pemanfaatan data alternatif dan Pemeringkat Kredit Alternatif yang inklusif, Women's World Banking menggunakan pendekatan Women-Centered Design dengan memitigasi bias gender dalam penilaian kredit, sehingga pengusaha perempuan memperoleh akses pembiayaan," ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Women's World Banking bersama lembaga jasa keuangan dan penyelenggara PKA akan melakukan uji coba pemanfaatan data alternatif berbasis perilaku bagi pengusaha perempuan di segmen usaha ultramikro dan mikro. Penilaian tersebut akan memanfaatkan berbagai indikator, mulai dari penggunaan layanan telekomunikasi, riwayat transaksi digital hingga partisipasi dalam program pemerintah.
Vitasari menambahkan, pendekatan alternative credit scoring diharapkan dapat membuat lebih banyak pelaku usaha perempuan dikenali oleh sistem keuangan formal sehingga memiliki peluang lebih besar memperoleh pembiayaan untuk mengembangkan usahanya.
"Alternative credit scoring bukan sekadar pendekatan baru dalam penilaian kredit, tetapi juga membuka peluang agar lebih banyak perempuan memperoleh akses pembiayaan yang sesuai dengan kondisi usahanya. Ketika aktivitas ekonomi mereka dapat dikenali oleh sistem keuangan, peluang mereka untuk tumbuh juga akan semakin besar," pungkasnya.
Baca Juga: Pembiayaan UMKM BSI Tumbuh 19% per Mei 2026, Ditopang Sektor Produktif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
