Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena lipstick effect marak terjadi di tengah tekanan ekonomi. Asal tahu saja, lipstick effect adalah fenomena di mana konsumen tetap membeli produk mewah berukuran kecil dan terjangkau sebagai bentuk pelarian atau kepuasan emosional saat kondisi ekonomi sedang sulit.
Terkait hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai fenomena tersebut dapat mendorong penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) di perusahaan pembiayaan atau multifinance untuk pembelian barang konsumsi yang dampaknya perlu dilihat secara menyeluruh.
"OJK akan terus mencermati pola perilaku konsumsi masyarakat, termasuk fenomena lipstick effect, dalam perkembangan penggunaan BNPL," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (8/10).
Baca Juga: OJK Catat 8 Perusahaan Modal Ventura Belum Penuhi Ketentuan Ekuitas Minimum
Menyikapi fenomena itu, Agusman menerangkan perusahaan pembiayaan perlu memperkuat penerapan prinsip kehati-hatian, termasuk dalam menilai kemampuan bayar debitur dan mengelola risiko pembiayaan.
Sebelumnya, platform dompet digital PT Fintek Karya Nusantara atau LinkAja melihat fenomena lipstick effect sebagai refleksi dari cara masyarakat beradaptasi dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan preferensi personal di tengah tekanan ekonomi.
Chief Executive Officer LinkAja Yogi Rizkian Bahar menerangkan dari segi perilaku transaksi, masyarakat kini dipandang lebih adaptif dan value-driven. Dengan kata lain, dia bilang konsumen dinilai makin mempertimbangkan aspek kemudahan, efisiensi, dan relevansi dalam setiap transaksi yang dilakukan.
"Oleh karena itu, LinkAja memandang penting untuk tetap relevan dengan kebutuhan pengguna, baik pada segmen Business to Consumer (B2C) maupun Business to Business (B2B)," ujarnya kepada Kontan.
Yogi menyampaikan langkah tersebut ditempuh dengan menghadirkan ekosistem pembayaran digital yang mudah diakses untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari, mulai dari layanan esensial, kebutuhan gaya hidup, dan aktivitas digital lainnya.
Yogi mengatakan fenomena lipstick effect dipandang sebagai momentum untuk memperkuat akses masyarakat terhadap layanan transaksi digital yang relevan dengan kebutuhan mereka, dibanding sekadar mendorong peningkatan pembiayaan saja.
Terkait kinerja industri, OJK mencatat, penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan sebesar Rp 13,61 triliun per Agustus 2026, atau tumbuh 36,57% secara Year on Year (YoY)
Sementara itu, OJK menyampaikan Non Performing Financing (NPF) gross BNPL perusahaan pembiayaan tercatat masih terjaga. Adapun NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan per Agustus 2026 sebesar 3,03%. Angkanya tercatat sama dengan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 3,03%.
Baca Juga: Pembiayaan ESG BSI Tembus Rp78,6 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














