Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan daya beli masyarakat, fenomena lipstick effect dinilai mulai terasa di ekosistem e-commerce Indonesia.
Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia atau idEA, Budi Primawan mengatakan fenomena ini menggambarkan kondisi saat konsumen tetap melakukan pembelian untuk produk-produk kecil sebagai bentuk self reward.
Selain itu, konsumen cenderung akan tetap berbelanja, tetapi lebih selektif dengan memilih produk-produk kecil yang memberi rasa nyaman atau hiburan dengan harga lebih terjangkau.
"Jadi pengeluaran tidak benar-benar berhenti, tapi bergeser ke produk yang lebih terjangkau," ujarnya kepada Kontan, Kamis (21/5/26).
Menurutnya, fenomena tersebut juga cukup terasa di platform e-commerce saat ini. Transaksi di sejumlah kategori, seperti kecantikan, skincare, fesyen terjangkau, makanan-minuman, dan produk lifestyle tertentu masih cukup tinggi.
Baca Juga: Asippindo Dorong Pemurnian Industri Penjaminan
Walau begitu, konsumen cenderung lebih berhati-hati dan rasional dalam bertransaksi. Misalnya dengan membandingkan harga, mencari promo, atau memilih produk dengan nilai guna yang dianggap paling sesuai.
Dalam metode transaksinya, layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater dinilai Budi menjadi skema pembayaran yang turut membantu menjaga aktivitas transaksi di e-commerce, terutama untuk pembelian dengan nominal tertentu dan kebutuhan musiman.
Di sisi lain, paylater juga dipandang memiliki peran penting saat daya beli melemah sebagai salah satu opsi pembayaran bagi konsumen.
Namun, ia melihat pola penggunaan paylater saat ini mulai berubah. Pengguna cenderung lebih berhati-hati dan memanfaatkan layanan tersebut untuk membantu mengatur arus kas, bukan sekadar untuk konsumsi impulsif.
Sejalan dengan itu, industri juga memahami bahwa kualitas pembiayaan harus tetap dijaga di tengah risiko ekonomi yang masih tinggi.
Penyelenggara paylater maupun platform e-commerce diharapkan lebih fokus pada prinsip kehati-hatian, penguatan credit scoring, edukasi pengguna, hingga penyesuaian pembiayaan dengan kemampuan bayar konsumen.
Ke depan, idEA memperkirakan tren belanja yang lebih selektif masih akan berlanjut. Ekosistem digital, termasuk e-commerce dan layanan pembiayaan digital, diproyeksikan bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan dengan menitikberatkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas pembiayaan.
Baca Juga: Gelar Public Expose, OK Bank Fokus Penguatan Aset dan Peningkatan Profitabilitas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













