kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.058   -53,00   -0,29%
  • IDX 6.229   42,44   0,69%
  • KOMPAS100 816   5,16   0,64%
  • LQ45 622   2,91   0,47%
  • ISSI 215   1,13   0,53%
  • IDX30 350   1,30   0,37%
  • IDXHIDIV20 431   1,06   0,25%
  • IDX80 93   0,49   0,53%
  • IDXV30 118   0,45   0,38%
  • IDXQ30 112   0,34   0,30%

Optimalikasi Program Asuransi Usaha Tani Padi Perlu Diperkuat


Jumat, 31 Juli 2026 / 14:41 WIB
Optimalikasi Program Asuransi Usaha Tani Padi Perlu Diperkuat
ILUSTRASI. Jasindo Perluas Asuransi Penjaminan Lahan Pertanian (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) belum berjalan optimal meski memiliki penting untuk melindungi petani dari risiko gagal panen. Penyebabnya disebut lantaran pemahaman petani terkait program ini masih rendah. 

Oleh karena itu, pengamat mendorong penguatan edukasi terkait program ini harus ditingkatkan. Pendampingan juga  dinilai harus digalakkan dan pelaksaan program perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

Ekonom Senior Indef Bustanul Arifin menilai masih banyak petani yang belum memahami substansi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) karena asuransi belum menjadi kebiasaan di kalangan mereka. Menurutnya, rendahnya budaya berasuransi membuat petani sulit melihat pentingnya melindungi usaha taninya melalui AUTP.

"Bayangkan, orangnya, jiwanya atau nyawanya sendiri saja tidak diasuransikan, agak sulit untuk berharap bahwa usaha taninya akan diasuransikan," kata Bstanul dalam keterangannya dikutip Jumat (31/7/2026).

Berdasarkan pengalamannya berdialog langsung dengan petani, Bustanul menilai Indonesia perlu mencontoh negara maju seperti Amerika Serikat, di mana petani bersedia membayar premi karena manfaat asuransi terbukti mampu menanggung kerugian akibat gagal panen sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca Juga: Jasindo Waspadai Lonjakan Klaim Asuransi Pertanian akibat El Nino 2026

Untuk meningkatkan efektivitas AUTP, ia mengusulkan pemerintah memberikan pelatihan berjenjang kepada penyuluh pertanian lapangan, menetapkan indikator kinerja (KPI) yang jelas, serta melibatkan perguruan tinggi, khususnya fakultas pertanian, agar pendampingan petani didukung oleh hasil riset dan keahlian akademisi.

Bustanul Arifin menegaskan implementasi AUTP harus disesuaikan dengan karakter agroekosistem setiap daerah karena varietas padi yang cocok berbeda-beda. Menurutnya, AUTP harus dijalankan secara sistematis dan terstruktur, bukan sekadar program pemerintah, tetapi sebagai upaya membangun budaya pengelolaan risiko produksi dan rantai nilai pangan.

Sejumlah pemerintah daerah kini mendorong petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) seiring meningkatnya ancaman kekeringan pada musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober, bahkan November.

Di sisi lain, PT Asuransi Jasindo sebagai bagian dari ekosistem Danantara melalui IFG Holding menegaskan komitmennya memperkuat pelaksanaan AUTP untuk mendukung target swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto. Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi kepada petani mengenai pola tanam yang adaptif dan pengelolaan risiko agar dampak perubahan iklim dapat diminimalkan.

Baca Juga: Premi Jasindo Turun Jadi Rp 1,34 Triliun per Juni 2026, Ini Strategi Hadapi Tekanan

AUTP merupakan program perlindungan bagi petani dari risiko gagal panen akibat banjir, kekeringan, serta serangan hama dan penyakit. Program ini ditujukan bagi anggota kelompok tani yang mengusahakan lahan maksimal dua hektare per musim tanam, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Melalui AUTP, petani berhak memperoleh perlindungan finansial apabila mengalami gagal panen yang memenuhi ketentuan program.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×