kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.549.000   34.000   1,35%
  • USD/IDR 16.781   21,00   0,13%
  • IDX 8.934   74,42   0,84%
  • KOMPAS100 1.226   8,17   0,67%
  • LQ45 865   5,28   0,61%
  • ISSI 322   1,78   0,55%
  • IDX30 443   0,30   0,07%
  • IDXHIDIV20 516   -0,09   -0,02%
  • IDX80 136   0,92   0,68%
  • IDXV30 143   1,50   1,06%
  • IDXQ30 142   -0,22   -0,16%

Pangsa Pasar Bank Syariah Indonesia: Tantangan dan Strategi Ekspansi 2026


Senin, 05 Januari 2026 / 19:43 WIB
Pangsa Pasar Bank Syariah Indonesia: Tantangan dan Strategi Ekspansi 2026
ILUSTRASI. Ketua Umum Asbisindo, Anggoro Eko Cahyo (DOK/BSI)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah tiga dekade menjadi bagian dari industri, perbankan syariah nampaknya masih perlu upaya ekstra untuk memperluas pangsa pasar.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat, hingga Oktober 2025 jumlah aset bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) mencapai Rp 1.397 triliun. Sebagai perbandingan, total aset bank umum dalam periode yang sama mencapai Rp 13.219 triliun. 

Dengan kata lain, aset perbankan syariah saat ini hanya kisaran 10% dari total aset perbankan nasional. 

Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) sekaligus Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo menjelaskan, secara jaringan, bank syariah memang masih tertinggal dari bank konvensional. 

Anggoro menyoroti hasil survei literasi dan inklusi OJK 2025 yang menunjukkan tingkat literasi keuangan syariah di level 43,42% sementara indeks inklusi sebesar 13,41%. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat tentang bank syariah sebenarnya sudah cukup baik, hanya saja terkendala dengan inklusi yang dimungkinkan karena aksesibilitas.

Baca Juga: Targetkan Pangsa Pasar Bank Syariah Naik 20%, Asbisindo Siapkan Strategi Ini!

Untuk mengejar ketertinggalan soal jaringan, bank syariah menempuh berbagai cara, termasuk melalui kolaborasi dengan mitra hingga perluasan akses digital. 

“Tidak dipungkiri bahwa transformasi digital juga menjadi kunci akselerasi pertumbuhan nasabah,” kata Anggoro kepada Kontan, Senin (5/1/2026). 

Menurut Anggoro, kehadiran BSI sejak 2021 lalu sendiri menjadi bukti bahwa jaringan dan jumlah aset sangat berpengaruh mendorong inklusi bank syariah. Kemudian, pengembangan produk dan perluasan akses nasabah membawa BSI mencapai 22 juta nasabah kini. Sebagai perbandingan, saat pertama kali merger, jumlahnya masih 13 juta nasabah. 

Saat ini BSI mendorong akselerasi layanan bullion bank. Sebagai satu-satunya bank emas di Indonesia, Anggoro bilang bisnis ini masih bakal menjadi salah satu fokus bank ke depannya. Hingga November 2025, saldo emas BSI lebih dari 1,6 ton, tumbuh double digit. 

Selain jaringan digital dan literasi, Direktur BCA Syariah Pranata menilai dukungan regulasi pemerintah juga memainkan peran penting dalam perkembangan perbankan syariah ke depannya, untuk memberikan kepastian hukum dan kepatuhan terhadap prinsip syariah. 

Baca Juga: BCA Syariah Optimistis Target Kinerja Bisnis Tahun Ini Dapat Tercapai Sesuai RBB

Saat ini, Pranata bilang pangsa pasar BCA Syariah berada di kisaran 2,7% dari total BUS nasional. Menurutnya, posisi tersebut mencerminkan potensi pasar yang masih terbuka untuk terus dikembangkan. 

Fokus BCA Syariah pada 2026 sendiri adalah mendorong pertumbuhan kinerja yang solid dan berkelanjutan. Pranata optimistis pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dapat tumbuh positif tahun ini. 

Baca Juga: Pangsa Pasar Bank Syariah Masih Mini, Asbisindo Beberkan Tantangannya

Pun secara industri, penetrasi yang relatif kecil saat ini mencerminkan potensi yang sangat besar bagi perbankan syariah. Apalagi, prinsip bank syariah yang mengedepankan keadilan, transparansi dan kemaslahatan menjadi fundamental yang solid untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap perbankan yang inklusi dan berkelanjutan.

“Pertumbuhannya cukup menggembirakan dari tahun ke tahun,” kata Pranata. 

Di sisi lain, Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita menilai perluasan pangsa pasar bisa ditempuh melalui berbagai inisiatif strategis, termasuk perluasan pangsa pasar ritel. Hal itu diupayakan melalui inovasi produk yang kompetitif. 

Dalam hal ini, Bank Mega Syariah berupaya meningkatkan segmen ritel melalui strategi B2B2C atau business to business to consumer dengan memperkuat kemitraan strategis di berbagai ekosistem seperti sektor pendidikan, kesehatan, dan lainnya dalam menawarkan solusi finansial berbasis syariah. 

“Misalnya kartu pembiayaan dan tabungan haji,” sebut Hanie. 

Saat ini, Hanie bilang pangsa pasar Bank Mega Syariah masih di bawah 5% dibanding industri. Meskipun menyimpan potensi besar, Hanie melihat masih ada tantangan yang utamanya terletak pada rendahnya kesadaran publik akan keunggulan produk syariah atas produk konvensional. 

Hingga akhir tahun 2026, Bank Mega Syariah diproyeksikan terus mencatatkan pertumbuhan yang positif sejalan dengan strategi ekspansi bisnis dan rencana strategis perusahaan. 

Baca Juga: Bank Mega Syariah Raih Laba Sebelum Pajak Rp 174,46 Miliar, Optimis Capai Target RBB

Selanjutnya: Konflik AS–Venezuela Dinilai Minim Dampak bagi Emiten Migas Indonesia

Menarik Dibaca: Hujan Amat Deras di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (6/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×