Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ceruk pasar pembiayaan perumahan dengan skema syariah diperkirakan akan semakin besar. Oleh karena itu, perbankan kian aktif mencari strategi untuk menjaring potensi pasar sehingga tahun depan penyalurannya pembiayaan di sektor ini diharapkan akan tumbuh lebih mekar dari tahun 2019.
Prospek positif tersebut juga tercermin dari realisasi Kredit atau pembiayaan Kepemilikan Rumah (KPR) syariah sepanjang tahun ini. Portofolionya mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Fintech dan tren transaksi digital, bagaimana upaya bank menghadapi disrupsi?
PT Bank CIMB Niaga Tbk misalnya telah mencatatkan portofolio KPR Syariah sebesar Rp 11 triliun hingga November atau 33,4% dari total KPR perseroan sebesar Rp 33 triliun. KPR syariah itu meningkat 48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Mortgage & Indirect Auto Business Head CIMB Niaga Heintje Mogi mengatakan, KPR Syariah tumbuh lebih pesat tahun ini dibandingkan KPR konvensional yang ditawarkan perseroan. Sementara total KPR secara keseluruhan hanya ditargetkan tumbuh 12%-13% sampai akhir tahun.
"KPR Syariah kami tumbuh kencang karena memang baru kita pacu dalam tiga tahun terakhir ini. Ke depan prospeknya kami lihat juga masih sangat bagus," kata Heintje pada Kontan.co.id, Senin (23/12).
Baca Juga: BRISyariah kembali jadi bank syariah penyalur FLPP di tahun 2020
Tahun depan, CIMB Niaga menargetkan booking KPR bertambah sebesar Rp 11 triliun. Sebanyak 40% diharapkan merupakan KPR Syariah. Perseroan optimis, potensi pertumbuhan KPR Syariah akan semakin kencang biaya administrasinya lebih ringan, ada insentif LTV, dan semakin banyak masyarakat yang menjalankan prinsip keagamaan dalam mencari pembiayaan kepemilikan hunian.
Saat ini, CIMB Niaga memiliki produk KPR Syariah dengan tenor 10 tahun, 15 tahun, hingga 25 tahun dengan margin fixed 11,5%. Tahun depan, perseroan bakal meluncurkan produk baru untuk mendorong penyaluran KPR Syariah yang dinamakan Extra Pricing.
PT Bank Permata Tbk juga melihat prospek penyaluran KPR Syariah semakin menjanjikan tahun depan. Itu sebabnya, bank ini memutuskan untuk meluncurkan produk baru bertajuk KPR iB Bijak menjelang penghujung tahun.
Baca Juga: Strategi akhir tahun, CitraLand Cirebon gelar Festival Rumah Sudut
Permata KPR iB Bijak ini merupakan produk yang mensinergikan KPR dengan tabungan. Produk ini menawarkan tiga kelebihan. Pertama, cicilan akan semakin ringan jika memiliki tabungan di Permata Syariah.
Margin atau bunga bahkan bisa mencapai zero persen jika tabungan mencapai 125% dari plafon KPR. Kedua tenor bisa sampai 25 tahun dan ketiga proses persetujuan dapat dilakukan dalam lima hari.
Herwin Bustaman, Direktur Shariah Banking Bank Permata mengatakan, peluncuran produk itu dilakukan untuk melengkapi produk yang sudah dimiliki perseroan untuk KPR Syariah. "Kami melihat prospek KPR Syariah itu semakin besar. Itu tercermin dari syariah yang sudah mencapai 42% terhadap total KPR Bank Permata," jelasnya.
Produk baru tersebut sekaligus juga bertujuan untuk mendorong penghimpunan dana murah di Bank Permata. Untuk KPR konvensional, perseroan sudah memiliki produk sejenis yang memadukan kredit dengan tabungan yakni KPR Bijak. Dewi Damayanti Widjaja, Head Mortgage Bank Permata mengklaim, penetrasi pasar produk itu cukup bagus.
Baca Juga: Ingin Bangun 102.500 Rumah, Subsidi KPR ditambah Jadi Rp 11 Triliun
Pada kuartal III 2019, KPR Bank Permata masih tumbuh sekitar 6% meskipun secara keseluruhan total kredit perseroan hanya tumbuh 1% menjadi Rp Rp 107,6 triliun.
Sampai akhir tahun ini, KPR diperkirakan akan tumbuh 8% YoY dan tahun depan ditargetkan bisa tumbuh 10%Yoy. Porsi KPR Syariah diharapkan akan naik dari 42% tahun ini menjadi 45% tahun 2020.
Ticket size rata-rata KPR Bank Pertama termasuk yang syariah sekitar Rp 800 juta dengan fokus pada pembiayaan pasar pasar primary. Meskipun begitu, bank ini tetap terbuka untuk pembiayaan dengan ticket size kecil mulai Rp 100 juta.
Baca Juga: Kementerian PUPR luncurkan aplikasi SiKasep untuk dorong penyaluran FLPP
Produk Permata KPR iB Bijak dikenakan ujrah 6,99%. Adapun produk KPR konvensional lainnya dikenakan bunga fixed 6,75% untuk tiga tahun dan bunga floating sekitar 11%-14%.
Adapun Bank Syariah Mandiri (BSM) melihat prospek KPR syariah masih sangat besar. Itu tercermin dari data pertumbuhan KPR syariah secara industri mencapai 18% per Juni 2019, lebih tinggi dari KPR konvensional yang hanya tumbuh 13%.
Bank ini optimis Pembiayaan Kepemilikan Rumah (PPR) Griya BSM akan tumbuh 12,5% -15%. "Pencairan PPR BSM tahun 2020 kurang lebih 5T untuk mencapai target pertumbuhan di akhir tahun 2020. Potensi PPR syariah masih terbuka lebar dan masyarakat peminat produk PPR Syariah semakin meningkat," kata SEVP BSM Wawan Setiawan.
Baca Juga: Pemerintah menetapkan 37 bank ini sebagai penyalur dana FLPP
Per November 2019, portofolio Griya BSM mencapai Rp 11,03 triliun dan sampai Desember diperkirakan akan mencapai Rp 11,17 triliun atau tumbuh 10,5% YoY.Tiket size BSM griya saat ini ada dua segmen yaitu di kisaran Rp 400 juta - Rp 500 juta yang biasanya menyasar nasabah rumah pembeli rumah pertama dan segmen Rp 1,2 miliar untuk nasabah prioritas.
Untuk mencapai target itu, BSM akan fokus pada intensifikasi yaitu customer base yang sudah dimiliki. Kemudian, sejalan dengan POJK no.28/POJK 2019, perseroan akan meningkatkan sinergi dengan induk kami Bank Mandiri untuk bisa penetrasi ke developer yang sudah berkerjasama dengan induk.
Adapun produk PPR Griya BSM saat ini terdapat tiga jenis diantaranya pembelian, take over, dan refinancing. Secara umum keunggulan PPR BSM adalah pricing fix selama masa pembiayaan, tidak ada faktor lainnya yg mempengaruhi angsuran nasabah ke depan, sehingga nasabah semakin yakin/aman/nyaman dengan perencanaan keuangannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













