kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Pelemahan Rupiah dan Geopolitik Tekan Premi Asuransi Marine Cargo Kuartal I-2026


Selasa, 09 Juni 2026 / 18:47 WIB
Pelemahan Rupiah dan Geopolitik Tekan Premi Asuransi Marine Cargo Kuartal I-2026
ILUSTRASI. Ketidakpastian global dan pelemahan rupiah memukul bisnis asuransi kargo. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja bisnis asuransi marine cargo mengalami tekanan pada kuartal I-2026. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global, premi lini usaha ini tercatat menurun, sementara nilai klaim justru mengalami kenaikan.

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan premi asuransi marine cargo turun 12,6% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1,491 triliun per Maret 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,705 triliun.

Sebaliknya, klaim yang dibayarkan meningkat 6,7% menjadi Rp357 miliar dari sebelumnya Rp335 miliar. Kenaikan tersebut turut mendorong rasio klaim naik dari 20% menjadi 24%. Pangsa pasar lini bisnis marine cargo pun menyusut dari 5,7% menjadi 4,8%.

Baca Juga: Pengeluaran Lampaui Pendapatan, Rasio Klaim JKN Tembus 108,72% per April 2026

Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah mulai menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam memengaruhi kinerja bisnis asuransi marine cargo.

Menurutnya, lini usaha ini sangat bergantung pada aktivitas perdagangan, khususnya ekspor-impor dan distribusi barang. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal sehingga pelaku usaha berpotensi mengurangi volume impor.

"Ketika rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal, sehingga pelaku usaha dapat menahan atau mengurangi volume impor," ujar Budi kepada Kontan, Senin (9/6/26).

Selain faktor nilai tukar, Budi menilai ketidakpastian global, ketegangan geopolitik, serta gangguan pada jalur pelayaran internasional turut memberikan tekanan terhadap aktivitas perdagangan dan logistik.

AAUI menilai penurunan premi marine cargo tidak hanya mencerminkan perubahan tarif atau harga premi, tetapi juga menjadi indikator melambatnya aktivitas perdagangan yang selama ini menjadi sumber utama bisnis tersebut.

"Jika aktivitas ekspor-impor melambat, frekuensi pengiriman barang menurun, atau nilai perdagangan melemah, maka kebutuhan perlindungan marine cargo juga ikut berkurang," jelasnya.

Baca Juga: Asei Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Klaim Asuransi Kendaraan Bermotor

Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai tidak secara otomatis memicu kenaikan tarif premi secara menyeluruh. Perusahaan asuransi tetap akan melakukan evaluasi berdasarkan profil risiko masing-masing pengiriman, mulai dari jenis komoditas, rute pelayaran, negara asal dan tujuan, moda transportasi, hingga rekam jejak klaim.

Menurut Budi, risiko geopolitik dan gangguan jalur pelayaran global juga berpotensi meningkatkan eksposur risiko karena dapat memicu perubahan rute, memperpanjang waktu pengiriman, hingga meningkatkan biaya logistik.

Dalam kondisi tertentu, perusahaan asuransi dapat melakukan penyesuaian terhadap syarat polis, besaran deductible, limit pertanggungan, maupun tambahan premi untuk risiko-risiko khusus seperti war risk, strike, riot and civil commotion (SRCC), pembajakan, serta pengiriman melalui wilayah berisiko tinggi.

Lebih lanjut, Budi mengingatkan bahwa apabila pelemahan rupiah terus berlanjut, industri asuransi marine cargo berpotensi menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, perlambatan volume perdagangan dapat menekan pertumbuhan premi.

Namun di sisi lain, nilai klaim berpotensi meningkat karena harga barang impor, biaya penggantian, dan komponen logistik internasional menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah.

Baca Juga: OJK Godok Aturan Tokenisasi RWA, Pelaku Industri Soroti Risiko Validasi Aset

"Ini dapat menekan profitabilitas lini marine cargo karena premi menurun, sementara beban klaim berpotensi meningkat," katanya.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, AAUI mendorong perusahaan asuransi memperkuat proses underwriting berbasis profil risiko pengiriman, termasuk dengan mempertimbangkan rute pelayaran, jenis komoditas, negara tujuan, dan karakteristik tertanggung.

Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan kecocokan mata uang antara nilai pertanggungan, premi, cadangan klaim, dan program reasuransi guna meminimalkan dampak volatilitas kurs.

AAUI juga menilai evaluasi berkala terhadap klausul perang, risiko pembajakan, deviasi rute, keterlambatan pengiriman, serta dukungan reasuransi menjadi langkah penting, terutama untuk pengiriman yang melewati wilayah dengan tingkat risiko tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×