Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyampaikan penerbitan surat utang multifinance per Juli 2026 masih didominasi beberapa perusahaan besar.
Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan berdasarkan data per Juli 2026, menunjukkan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), PT Federal International Finance (FIFGROUP), dan PT Indomobil Finance Indonesia (IMFI) masing-masing telah menerbitkan surat utang Rp 2,50 triliun.
"Mereka secara bersama-sama menyumbang 58% penerbitan multifinance pada periode tersebut," ungkapnya kepada Kontan, Rabu (26/8/2026).
Selain itu, Ahmad menyebut penerbitan surat utang juga sudah dilakukan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance/WOMF) sebesar Rp 2,3 triliun, kemudian Astra Sedaya Finance (ACC) yang menerbitkan sebesar Rp 1,03 triliun.
Baca Juga: Jamkrida Kaltim Berharap Kenaikan Tranfer ke Daerah Dapat Mengerek Bisnis Penjaminan
Jadi, Ahmad menyebut karakter pasar tahun ini relatif terkonsentrasi pada issuer yang memiliki akses pasar dan basis investor yang lebih kuat.
Sementara itu, Pefindo mencatat, penerbitan surat utang multifinance secara total mencapai Rp 14,57 triliun per Juli 2026. Nilainya turun 41,8%, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 25,03 triliun.
Ahmad menerangkan penurunan penerbitan surat utang multifinance jauh lebih dalam dibandingkan total penerbitan surat utang korporasi yang turun 16,2% secara Year on Year (YoY), dari Rp 134,07 triliun menjadi Rp 112,31 triliun per Juli 2026.
"Akibatnya, kontribusi multifinance terhadap total penerbitan turun dari 18,7% per Juli 2025 menjadi 13% per Juli 2026," ujarnya.
Baca Juga: Great Eastern General Sebut Program PLTS 100 GWp Bisa Menjadi Peluang Besar
Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan pelemahan tersebut utamanya terjadi dalam beberapa bulan terakhir, bukan sejak awal tahun. Dia mengatakan data per Mei 2026 menunjukkan penerbitan surat utang multifinance masih mencapai Rp 12,93 triliun atau naik 19,3% YoY, jika dibandingkan dengan posisi per Juli 2026 yang sebesar Rp 14,57 triliun.
"Artinya, tambahan penerbitan setelah Mei relatif kecil. Sebaliknya, penerbitan meningkat sangat besar antara Mei dan Juli 2025. Dengan demikian, selain kenaikan biaya pendanaan, faktor timing dan high-base effect pada Juni–Juli 2025 turut menjelaskan penurunan yang cukup tajam per Juli 2026," ucap Ahmad.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














