Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai prospek asuransi kendaraan listrik cukup menjanjikan ke depan. Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan hal itu sejalan dengan makin pesatnya perkembangan ekosistem kendaraan elektrifikasi di Indonesia.
Selain meningkatnya penjualan kendaraan, Budi menerangkan pemerintah juga terus mendorong pengembangan industri kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan, sementara produsen otomotif makin banyak menghadirkan model baru di pasar Indonesia.
"Kondisi tersebut akan memperluas basis risiko yang membutuhkan perlindungan asuransi," katanya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).
Ke depan, AAUI melihat produk asuransi kendaraan listrik akan berkembang makin spesifik. Budi bilang keberadaan produk itu tidak hanya memberikan perlindungan terhadap kendaraan secara umum, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan perlindungan atas baterai, peralatan pengisian daya (charging equipment), layanan bantuan darurat (roadside assistance), hingga berbagai manfaat tambahan lainnya sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan konsumen.
Baca Juga: OJK Ungkap Alasan Terbitkan Aturan Baru Asuransi Kesehatan, Ini Tujuannya
Pada saat yang sama, Budi menyebut perusahaan asuransi juga akan makin mengoptimalkan pemanfaatan data klaim dan pengalaman underwriting.
"Dengan demikian, tarif premi maupun cakupan perlindungan dapat makin akurat," ujarnya.
Budi optimistis bahwa seiring makin matangnya ekosistem kendaraan listrik, didukung kolaborasi antara perusahaan asuransi, regulator, produsen kendaraan, perusahaan pembiayaan, bengkel, dan penyedia infrastruktur pengisian daya, penetrasi asuransi kendaraan listrik di Indonesia akan terus meningkat dan mampu memberikan perlindungan yang lebih komprehensif kepada masyarakat.
Asal tahu saja, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), total penjualan mobil listrik mencapai 117.108 unit pada Semester I-2026, atau menyumbang 26,8% dari total pasar otomotif nasional yang sebesar 436.564 unit.
Kontribusi kendaraan listrik naik tajam jika dibandingkan dengan capaian pada Semester I-2025, dengan total penjualan mencapai 69.134 unit atau porsinya setara 18,3%.
Baca Juga: Laba Bersih ACC Tembus Rp960 Miliar, Ini Strategi Dongkrak Pembiayaan 2026
Mengenai hal itu, AAUI menilai tren tersebut merupakan sinyal positif dan bisa menjadi peluang bagi industri asuransi umum. Budi mengatakan yang menjadi menarik adalah pangsa pasar kendaraan elektrifikasi yang meliputi battery electric vehicle (BEV), hybrid electric vehicle (HEV), dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) naik cukup signifikan menjadi 26,8% dari sebelumnya 17,3%.
Artinya, Budi bilang lebih dari seperempat kendaraan baru yang dipasarkan di Indonesia kini telah menggunakan teknologi elektrifikasi. Dia menyebut peningkatan populasi kendaraan tersebut tentu memperluas potensi pasar asuransi kendaraan bermotor.
Menurutnya, makin banyak kendaraan listrik yang beroperasi, makin besar pula kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan atas risiko kecelakaan, kehilangan, bencana alam, maupun tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga.
"Meski demikian, pertumbuhan premi akan berlangsung secara bertahap, karena juga dipengaruhi oleh tingkat penetrasi asuransi, skema pembiayaan kendaraan, serta kesiapan perusahaan asuransi dalam menyediakan produk yang sesuai dengan karakteristik kendaraan listrik," ungkap Budi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
